Tue, 20 Dec 2011 11:12:04 GMT | By Fachrul Adcha / Alung

Musisi Protes Keras Razia Punk Aceh

Subkultur punk bukan hanya sekedar pernyataan fashion, melainkan sebuah sikap dan sebuah cara hidup.


Punk Aceh

Subkultur punk bukan hanya sekedar pernyataan fashion, melainkan sebuah sikap dan sebuah cara hidup.

Awalnya, gerakan punk muncul sebagai cara untuk mengekspresikan pandangan mereka terhadap isu-isu politik dan sosial. Gaya pakaian dan gaya rambut dari komunitas punk menunjukkan pemberontakan kaum muda pada waktu itu, dengan tujuan untuk membedakan diri mereka dari masyarakat mainstream.

Ketika musik dan budaya punk menjadi mainstream, garis antara orisinalitas dan manufaktur menjadi bias. Punk tidak hanya dikategorikan hanya menjadi suatu fashion saja, melainkan menjadi sebuah ideologi, suatu gaya hidup dan kejujuran.

Peristiwa penangkapan beberapa anggota komunitas punk di Banda Aceh baru-baru ini, ternyata mengundang reaksi keras dari para musisi/kritisi musik independen Tanah Air.

"Peristiwa ini sungguh sebuah preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Anak-anak muda yang hanya karena berpenampilan tak sesuai dengan maunya orang-orang picik lagi bebal yang memahami agama secara literal, seenaknya saja ditangkap. Atas dasar apa? Atas dasar asumsi. Padahal secara hukum positif mereka itu nihil melanggar hukum. Dan ini bisa saja dibalik di kemudian hari saat mayoritas orangnya adalah penggiat punk: orang-orang yang memakai jilbab semuanya ditangkapi begitu saja. Atas dasar apa? Atas dasar asumsi bahwa memakai jilbab adalah tidak sesuai dengan kaidah punk," jelas Rudolf Dethu, tokoh kritisi musik ternama Bali.

"Kebodohan ini harus dilawan. Hukum di negara ini harus ditegakkan serta mesti jelas: berdasarkan agama apa tidak. Agar tak terjadi dualisme melulu dan mendustai rasa keadilan orang banyak," tambah Dethu.

Menurut Eric Soekamti, sang frontman band Endank Soekamti, "Ternyata di negara ini belum sepenuhnya merdeka dalam berekspresi. Menurutku kasus punk Aceh murni pelanggaran HAM".

"Sangat tidak setuju dengan penangkapan anak punk di Aceh, karena masih banyak hal yang lebih krusial daripada mencoba mere-edukasi para anak punk karena visualnya. More power to the punks! Gue pikir Walikota Aceh tidak mengerti generasi muda. Hal ini memang bukan yang pertama kali punks di Judge buruk, hanya saja nampaknya baru sekarang beritanya besar di media Internasional. Yang ada nama Indonesia jadi gak bagus. Free Them, Now!!" cetus Arian Arifin, sang frontman Seringai.

Eka Annash sang frontman The Brandals pun turut menyesalkan kejadian tersebut, "Tidak setuju! basic human right itu. Kenapa dilarang-larang? kan sama saja kayak pilihan muslimah untuk berjilbab. Gue juga seorang muslim, tapi kok kayaknya kalau sudah sampai ditangkap dan diperlakukan kayak kriminal cuma gara-gara berbusana punk dan menyalurkan ekspresi bermain musik, hal itu sudah sangat berlebihan".

"Sebenarnya sih aneh nangkepin anak punk. Terus membotaki kepala mereka dan menghukum dengan didikan militer. Kalau tujuannya untuk mendisiplinkan mereka pasti dampaknya jadi salah target. Karena anak punk dibotakin dan diberi sentuhan militer maka mereka akan menjadi seorang Skinhead!" tegas Jimi Multhazam, sang frontman band Morfem sekaligus The Upstairs.

"My opinion is that it sucks and its retarded! Stupidity at its worst. The Syariah cops are violating basic human rights. Those f**kin cops need to be beaten. The Government needs to step in and protect human rights of expression," jelas Jason McKenzie pria asal Kanada yang juga frontman band Citizen Useless.

Lukman alias Buluk, sang frontman Superglad pun angkat bicara mengenai peristiwa tersebut, "F**k the rules! F**k the police! karena untuk penangkapan anak punk di Aceh buat gue itu adalah sesuatu yang tolol dan goblok! Buat gue itu hak asasi dimana orang bebas memilih jalan hidupnya untuk menjadi apapun, jadi kenapa harus dilarang, ditangkap atau digunduli? Yang pasti gue sangat tidak setuju akan hal itu! Karena musik punk itu adalah jalan hidup, kenapa harus dilarang? Buat teman-teman di Aceh tetap semangat dan berjuanglah kawan! kalau ada sesuatu yang harus kita protes, ayo kita protes sama-sama!

"Intinya gue tidak mau menyetujui atau tidak menyetujui, karena berita yang beredar masih dari angle yang sama, dan banyak comment di Facebook gue yang memberi link berita penangkapan tersebut dengan angle yang berbeda. Jadi gue masih nunggu berita tersebut dengan versi yang lebih jelas lagi," cetus Ucay, sang frontman Rocket Rockers.

Rian Pelor, sang frontman Auman menambahkan, "Yang paling utama adalah bangsa ini ternyata mengkriminalisasikan warga negaranya hanya karena mengekspresikan diri mereka. Tanpa proses hukum diperlakukan laksana bandit, ditertibkan seperti binatang dengan sangat tidak manusiawi. Manusiakan manusia! Stay Punk! Stay Free!

"Its an assault human rights! tidak ada satupun kewenangan yang dimiliki oleh negara/aparatur negara untuk membentuk/mengatur hidup seseorang, terlebih menghakimi kulit semata. Tragedi razia punk di Aceh, tidak hanya semata pemberangusan kultur tandingan, tapi juga melukai hak asasi yang mana ditemukan kasus perlakuan biadab kepada anak-anak punk tersebut. Syariah bukan alasan untuk menindas dan memberangus. Cepat atau lambat gerakan fasisme seperti ini akan mengancam kita semua," pungkas Doni Iblis, sang frontman Funeral Inception.

Menurut pengakuan Edi Saputra, sang vokalis band The Borstal, "Ada seorang vokalis band street punk asal Amerika (Evacuate) yang membuat sebuah album kompilasi album yang rencananya hasil royalti tersebut akan disumbangkan untuk para anak-anak punk yang ditangkap baru-baru ini. Nama kompilasi tersebut 'Punk Aid: Jakarta Calling - Benefit For Aceh' ada sekitar 70 band yang berpartisipasi diantaranya Total Chaos, Violent affair, The Borstal (Indonesia) dll yang siap dirilis pada Februari 2012".

"Ini bUkan negara Islam! ini NKRI! tidak ada gunanya! mendingan tangkap saja para pejabat yang korup di Aceh," tutur Roms, sang pemain bass band Konspirasi.

"Gue pernah ke Aceh sebelumnya dan untuk kebebasan kayak gitu emang susah banget. Jangankan punk, untuk membuat acara musik biasa saja sangat sulit sekali untuk mendapatkan izinnya. Tetapi, perlakuan para aparat disana sangat tidak manusiawi. Mereka ingin menunjukkan superioritas disana bahwa mereka yang menguasai hukum. Yang jelas kalau dilihat dari garis besarnya hal itu jelas melanggar HAM dimata dunia. That's the way things in Aceh! Semoga anak punk tersebut cepat dibebaskan. After all, punk kan dihati, biar penampilan tidak punk, hati tetap punk dong," jelas Dochi, sang pemain bass band Pee Wee Gaskins.

Tidak hanya para musisi Tanah Air saja yang angkat bicara mengenai tragedi punk Aceh, para band luar negeri pun turut merasakan dan mengucapkan rasa penyesalan mereka seperti band punk asal Amerika, Propagandhi yang mengatakan, "To everybody: If you believe in human dignity, autonomy, and the right for people to be able to make their own decisions- keep fighting for your rights and freedoms, as well as the rights and freedoms of others. Hopefully within the lifetimes of the punks arrested in Aceh they will have the liberty to express themselves the way they choose".

"We hate what's going on with our punk brothers and sisters in Indonesia. Rancid's got your back!" kecam band punk asal Amerika, Rancid.


0Komentar

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    820 respon
  2.  
    2 %
    Eddies Adelia
    150 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    810 respon
  4.  
    41 %
    Dewi Sandra
    2.797 respon
  5.  
    9 %
    Rizty Tagor
    590 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    722 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    855 respon

Total Respon: 6.744
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video musik

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft