Wed, 05 Oct 2011 18:22:47 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

“Abduction” Atau: Bourne Twilight (Bagi Pecinta Sinetron)

Berniat nonton film Taylor Lautner terbaru, Abduction? Pikir lagi deh, atau baca dulu ulasan wartawan kami.


“Abduction” Atau: Bourne Twilight (© Bagi Pecinta Sinetron)

APA yang telah Anda lakukan pada umur 23 tahun? Mungkin belum banyak, malah masih minta uang saku pada mama papa.

Demikian tabloid ini mengawali ulasannya soal film Shaft (2000) pada 2003 silam. Waktu itu filmnya siap diputar di TV.

Pada umur itu, saya selesai kuliah dan mulai jadi wartawan untuk tabloid ini. Di umur sekian, 20 tahun silam sutradara-penulis John Singleton (kini 55 tahun) telah menelurkan sebuah masterpiece: Boyz N the Hood (1991).

Film debut itu mengantarkannya berebut gelar sutradara terbaik Academy Awards bersama Barry Levinson (Bugsy), Jonathan Demme (The Silence of the Lambs), Oliver Stone (JFK), dan Ridley Scott (Thelma & Louise).

Kesolidan film berongkos kecil itu terletak pada penghayatan Singleton pada cerita yang dituturkannya. Boyz mengisahkan dengan amat baik carut-marut lingkungan kulit hitam yang disesaki masalah kemiskinan, narkoba, perang antar geng, dan bagaimana para remaja harus bertahan hidup di tengah suasana begitu.

Menurut sutradara dengan 12 judul film selama 32 tahun bekerja ini, ada 2 jenis film yang telah dikerjakannya. Pertama, seperti Boyz, dibuat untuk meletakkan pengaruh kuat sebagai sutradara. Kedua, just for fun, seperti yang dilakukannya lewat Shaft (2000) maupun 2 Fast 2 Furious (2003).

Setelah menonton Abduction, saya yakin Singleton berbohong. Ia lupa menyebut jenis ketiga, bikin film cuma untuk cari uang, tak peduli hasilnya fun atau tidak.

*** Menonton trailer Abduction kita langsung tahu apa maunya film ini: meminjam plot dan gaya narasi kisah spionase trilogi Bourne (Bourne Identity, Bourne Supremacy, dan Bourne Ultimatum) dengan menyuguhkan bintang muda idola sejagat: Taylor Lautner.

Anda yang tidak meninggalkan bumi selama 3 tahun terakhir untuk tinggal di Mars pasti kenal siapa Taylor Lautner. Tapi jika ada yang bertamasya ke Mars dan baru pulang sekarang, ada baiknya saya ceritakan siapa dia.

Pada 2009, Lautner bergabung dengan franchise Twilight, lewat film kedua New Moon, sebagai Jacob Black, serigala jejadian yang juga cinta pada Bella (Kristen Stewart), kekasih Edward Cullen (Robert Pattinson) sang vampir. Di antara mereka bertiga muncul cinta segitiga yang mengharu biru. Fans Twilight kemudian saling berkubu mendukung Edward atau Jacob. Muncul istilah Team Edward dan Team Jacob.

Nah, Abduction ini didedikasikan khusus bagi Team Jacob karena memasang Lautner sebagai bintang utama. Anda yang memeloti tubuh kekar Lautner bakal terpuaskan karena di film ini ia lebih banyak berpose ketimbang berakting bagus.

Saya mengira awalnya sineas film ini, entah produser atau sutradaranya, pasti yakin betul film ini punya formula jitu yang bakal membuat filmnya laris sekaligus jadi fenomena.

Terus terang, menggabungkan aksi spionase Bourne dengan bintang utama seorang idola remaja buat saya sebetulnya adalah ide jenius (setara mengundang bintang porno Amerika/Jepang main film horor mesum di sini).

Semua sepakat Bourne telah mendefenisi ulang kisah spionase yang membuat film-film James Bond terasa usang dan harus dipermak ulang. Sedang Twilight tak dipungkiri sudah melahirkan bintang-bintang baru idola remaja sejagat. Saat pertama menonton trailernya, saya berharap filmnya bakal menghibur.

Yang terjadi kemudian, saat filmnya rilis, saya mendapati Abduction dapat rating 0 persen di situs Rotten Tomatoes. Situs itu memantau ulasan para kritikus film. Nol persen berarti tak ada seorangpun kritikus film yang menyukai filmnya. (belakangan nilai film ini naik jadi 5 persen)

Seburuk itukah? Saya bertanya dalam hati. Terus terang saya makin penasaran untuk membuktikannya sendiri.

***

Seorang kawan yang biasa menulis ulasan sinetron di situs tabloid ini pernah berujar, dalam sinetron orang-orang bisa begitu mudahnya bertemu. Lagi asyik-asyik nyetir atau jalan di mal, eh ketemu tokoh lain. Biasanya di momen ini bakal mengalun musik bombastis: JRENG JRENG! dan close-up tokohnya melongo.

Saya menemukan momen itu tidak di pesawat TV yang menayangkan sinetron, melainkan dalam keremangan ruang bioskop di sebuah film Hollywood. Saya hampir terlonjak dari kursi dan mencubit tangan saya, memastikan saya sedang mimpi atau tidak. (Ih, lebay. Biarin.)

Pada sebuah momen, saat 2 tokohnya keluar dari hutan menuju jalan raya, mendadak pihak yang mengejarnya berada di depan matanya. Tertangkaplah ia. Adegan itu sinetron banget, tapi tanpa efek musik “JRENG JRENG!”

Abduction memang sinetron banget. Logika cerita seolah diabaikan. Skenario seperti ditulis orang yang sepanjang hidupnya hanya nonton sinetron stripping dan mungkin sekadar diceritakan plot kisah film-film Jason Bourne.

Adegan dimulai Taylor Lautner, berperan sebagai Nathan, bersama kawan-kawannya menghadiri pesta khas remaja Amerika. Jika Nayato yang menggarap film ini mungkin pestanya bakal terasa temaram dengan angle-angle tak lazim. Tapi ini bukan, walau efeknya sama: penuh dialog murahan dan terasa berpanjang-panjang.

Seolah tak cukup disiksa di awal film, penonton bakal sering menemukan dialog-dialog konyol dan akting kaku para pemain.

Yang paling mencengangkan buat saya, film ini dibangun di atas pondasi cerita tak logis. Alkisah, guru sosiologi Nathan memberinya PR. Entah apa hubungannya, saat meriset bahan, Lautner berkunjung ke sebuah situs orang hilang dan menemukan foto seorang anak kecil yang hilang di situs itu, bila dilakukan rekayasa digital, bakal menunjukkan sosok persis dirinya ketika remaja.

Sampai saya menulis ulasan ini beberapa hari setelah menonton filmnya, saya tak habis pikir bagaimana bisa tugas sosiologi berakhir di situs orang hilang. Cacat macam begini jarang ditemukan di film-film Hollywood. Kalau pun ada, muncul di film-film kelas B, bukan jenis film karya sutradara yang pernah meraih nominasi Oscar maupun dibintangi idola remaja yang namanya tengah naik daun. Nathan kemudian tahu kalau sosok yang dikira orangtuanya, bukan ayah dan ibu kandungnya. Ia juga kemudian dikejar hingga hayat dikandung badan baik oleh dinas intelijen CIA maupun sekumpulan mata-mata jahat.

Masih ada lagi adegan yang bikin saya geleng-geleng kepala. Entah apa maunya film ini, saat penonton masih syok karena orang-orang terdekatnya tewas mengenaskan, justru Nathan dan Karen (Lily Collins), cewek yang bersamanya malah berasyik masyuk kencan di kabin kereta. Adegan bermesraan itu seakan dibuat begitu saja turun dari langit tanpa memikrikan logika cerita.

***

Menonton Abduction, saya banyak tertawa dan geleng-geleng kepala. Sesuatu yang biasanya saya lakukan pada film-film Indonesia yang dibuat seadanya.

Mungkin kelak film ini akan dikenang sebagai kategori film so bad it’s good alias saking jeleknya malah terlihat bagus. Saat menonton pertama kali, saya sih tidak merasa fun menonton fim ini. Mungkin saya akan merasakannya setelah nonton lagi dua atau tiga tahun nanti.

Tapi sebelum itu saya menetapkan hati ingin menonton lagi Boyz N the Hood. Saya rindu film itu dan ingin menghapus ingatan penggarapan asal jadi John Singleton di Abduction.***

(ade/ade)

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    425 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    694 respon
  3.  
    52 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    1.519 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    340 respon

Total Respon: 2.978
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft