Thu, 28 Feb 2013 09:47:26 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

The Grandmaster: Hikayat Ip Man Rasa Wong Kar Wai

Sebagai film kungfu, The Grandmaster bukan film yang enak diikuti. Tapi, sebagai film untuk menyelami karakter terdalam manusia, film ini ciamik.


The Grandmaster: Hikayat Ip Man Rasa Wong Kar Wai

IP Man, jago bela diri yang pernah hidup di abad kemarin sepertinya menjadi tokoh nyata yang difavoritkan diangkat kisah hidupnya ke layar lebar bagi era akhir dan pasca 2000-an.

Yang menggemari film kungfu dari tahun 1990-an tentu masih ingat era itu jagoan favoritnya adalah Wong Fei Hung dan Fung Sai Yuk yang berwujud ke dalam film-film kungfu yang dibintangi Jet Li (Kungfu Master alias Once Upon a Time in China dan King of Kungfu yang berjilid-jilid).

Sebetulnya, medio 2000-an Jet Li membintangi Fearless (2006) yang diangkat dari kisah hidup Huo Yuanjia. Tapi masalah dengan ahli waris Yuanjia pasca filmnya edar mungkin bikin sineas lain ogah membuat film lanjutannya ataupun bikin variasi cerita lainnya.

Syahdan, Donnie Yen membintangi Ip Man (2008). Film itu menjadi yang terlaris di Hong Kong dan dianggap tonggak kebangkitan baru genre silat perfilman Hong Kong. Lewat Ip Man pula, setelah bertahun-tahun kariernya, Donnie memiliki karakter yang akan melekat terus padanya, seperti Jet Li yang identik dengan Wong Fei Hung.

Sukses Ip Man tentu diikuti eksplorasi atas tokoh nyata ini lewat film-film lain. Ip Man pertama karya Wilson Yip berlanjut ke Ip Man 2. Lalu, ada pula The Legend is Born—Ip Man karya Herman Yau.

Film Ip Man pertama mengisahkan saat sang jago silat tinggal di Foshan, China jelang penyerbuan Jepang dan melalui masa penjajahan Jepang hingga hijrah ke Hong Kong. Ip Man kedua fokus mengisahkan Man tinggal di Hong Kong tahun 1950-an dan mulai membuka perguruan silat. Sedangkan The Legend is Born merupakan prekuel, mengisahkan Ip Man muda, saat mulai belajar beladiri aliran Wing Chun serta harus berhadapan dengan saudara angkatnya yang ternyata mata-mata Jepang.

Yang belum diceritakan ke layar lebar dari kisah hidup Ip Man sebetulnya bagaimana ia mendidik Bruce Lee beladiri. Juga belum diceritakan wafatnya Ip Man tahun 1972. (Sebetulnya ada film biopic masa muda Bruce Lee berjudul Bruce Lee, My Brother [2010] yang dibintangi Aarif Lee, tapi filmnya lebih fokus pada sosok Lee ketimbang suhunya, Ip Man.)

Mungkin, kisah hidup Ip Man paling menarik memang saat ia tinggal di Foshan ketika yang modern dan tradisional di China bertemu di tahun 1930-an. Ketegangan dengan Jepang jelang Perang Dunia II dan semasa penjajahan juga menjadi modal setting yang kuat untuk difilmkan.

Syahdan, sineas yang kerap disebut "Hong Kong auteur", Wong Kar Wai pun tertarik memfilmkan Ip Man. Bagi pecinta sinema, terutama film-film seni, Kar Wai bisa disejajarkan dengan Garin Nugroho di tanah air. Kar Wai dianggap memberi wajah baru bagi perfilman Hong Kong. Film-filmnya lebih berwujud art film, alias bukan film mainstream. Filmnya antara lain, As Tears Go By, Chungking Express, Happy Together, Days of Being Wild, In the Mood for Love, 2046, dan My Bluberry Nights.

Maka kemudian, menarik bagaimana sutradara film seni menghidupkan kisah jago silat yang sudah difilmkan beberapa kali itu. Pertanyaan ini yang paling menarik perhatian saya dan memutuskan nonton.

***

Sebetulnya, menilik perjalanan karier Kar Wai, The Grandmaster bukanlah film wuxia (silat) pertamanya. Pada 1994, ia merilis Ashes of Time. Membaca tulisan Ali Yono "Kaum Pinggiran Dekaden: Wong Kar Wai di Mata Seorang Penonton" yang dimuat jurnal Kalam edisi 19 tahun 2002, Ashes of Time disebutnya terobosan baru (malah boleh dibilang revolusi) bagi genre film wuxia.

Kar Wai meminjam tokoh-tokoh dari cerita silat Legend of the Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali) karangan Louis Cha (Chin Yung), tapi kisahnya melenceng jauh dari novel aslinya. Di film Kar Wai, ada delapan tokoh yang kelihatannya sedang beradu pedang di sebuah padang gurun pasir, namun di balik kilatan predang itu ternyata masing-masing tokoh itu sedang berperang batin, yang mengutip Ali Yono "berperang batin, bersama-sama melantunkan sebuah nyanyian pilu tentang jiwa kesepian, dan kesepian ini tepatnya milik kaum urban masa kini." Ya, kisah silat Ashes of Time, walau bersetting zaman China klasik dengan para pendekar berpedang, sejatinya adalah kisah kaum urban masa kini yang kesepian. Filmnya sebuah refleksi yang disampaikan lewat metafora atas masyarakat Hong Kong kontemporer. Tokoh-tokoh di Ashes of Time terjebak dalam ikatan rantai yang sangat rumit sampai mereka mengalami represi dan depresi hingga menderita. Penderitaan mereka terutama karena cinta. Ada tokoh antagonis di film ini, misalnya, Racun Barat (Leslie Cheung) harus menerima kenyataan kekasihnya (Maggie Cheung) berubah staus menjadi kakak iparnya.

Legenda Ip Man rasanya juga dipinjam Kar Wai untuk menceritakan kisahnya yang khas: tentang manusia-manusia yang mengalami penderitaan batin.

Di The Grandmaster awalnya kita dikenalkan pada plot klasik sebuah cerita silat. Seorang pendekar dari utara, Gong Yutian berniat pensiun dari rimba persilatan. Di utara, ia sudah menunjuk Ma San sebagai penerusnya. Kini ia datang ke Foshan, di selatan, mencari penerusnya. Ip Man (Tony Leung Chiu Wai) dipilih mewakili pendekar selatan setelah melalui tes oleh pendekar-pendekar selatan. Ip lantas berduel dengan Yutian. Ip dinyatakan menang oleh Yutian.

Sementara itu, putri Yutian, Gong Er (Zhang Ziyi) tak rela ayahnya menyerahkan kedudukan sebagai jago silat pada orang lain. Gong Er menantang Ip berduel. Dari duel itu, Ip dan Gong Er akhirnya malah dikesenkan timbul getar-getar asmara. Keduanya memang hidup terpisah. Ip Man meneruskan hidupnya di Foshan bersama istri (Song Hye-kyo) dan anak-anaknya, dihadapkan pada penjajahan Jepang dan pada gilirannya hijrah ke Hong Kong. Gong Er, sementara itu hidup di Cina daratan dengan masalahnya sendiri.

Kemunculan karakter Gong Er ini yang membedakan kisah Ip Man versi Wong Kar Wai dengan yang lain. Kar Wai bahkan kelihatan lebih asyik mengekplorasi karakter Gong Er ketimbang Ip Man. Kehadiran Ip Man seakan menjadi tokoh "pendamping" bagi Gong Er ketika cerita makin fokos pada pendekar wanita itu.

Memang, konflik yang dialami Gong Er lebih pelik. Saat China dijajah Jepang, Ma San jadi antek-antek negara boneka Jepang. Ia membunuh Yutian, gurunya sendiri. Gong Er dinasehati bahwa permintaan ayahnya adalah ia harus hidup bahagia dan jangan membalas dendam. Gong Er tak terima, dan bersumpah takkan meniah sebelum dendam dibalaskan.

Maka kemudian pertarungan klimaks di film ini tidak dilakoni Ip Man, melainkan Gong Er lawan di Ma San di pinggir rel kereta.

Gong Er dan pelayan setianya akhirnya juga hijrah ke Hong Kong. Di koloni Inggris itu, dalam kesepian Gong Er meninggal. Cinta antara Ip Man dan Gong Er, kalaupun ada, tidak berakhir bahagia.

***

Terus terang, The Grandmaster bukanlah film kungfu yang mudah diikuti. Saya menonton di akhir pekan kemarin, dengan teater bioskop terisi lumayan ramai. Penonton mungkin berharap bakal disuguhi film kungfu yang berisi adegan duel silat spektakuler dengan kisah yang enak diikuti.

Nayatanya yang mereka dapati adalah kisah yang disusun seperti sebuah potongan-potongan peristiwa dengan dialog-dialog filosofis dan puitis. Menjelang film berakhir, saya melihat beberapa penonton keluar duluan. Ketika lampu teater dinyalakan, komentar pertama penonton di belakang kursi saya adalah, "Film-(Ip Man)-nya nggak jelas." Saya melirik sambil tersenyum. Dalam perjalanan pulang saya berkicau, "#theGrandmaster tuh kayak nonton film kungfu yg dibikin sama garin nugroho :D. Beda, asyik! #shortreview."

Yang saya maksud dalam kicauan itu adalah, mungkin begini bla suatu saat nanti Garin Nugroho bikin film kungfu. Filmnya bakal mengesampingkan cerita dan plot yang lancar, lebih fokus pada gambar-gambar dan dialog simbolis.

Saya mendapati konon aslinya The Grandmaster berdurasi lebih dari empat jam. Agar "ramah" bioskop, Kar Wai memangkasnya jadi 138 menit. Pengulas film di luar sana kemudian mengatakan film ini dipaksakan diedarkan dalam satu jilid hingga terasa seperti sebuah film yang tak selesai.

Dari situ pula kemudian banyak yang memaklumi hubungan Ip Man dan istrinya yang tak dieksplorasi lebih jauh. Song Hye-kyo yang cantik menjadi mubazir. Atau pula, ada tokoh Pisau Cukur (Chang Chen) yang tak jelas apa fungsinya di film. Pisau Cukur sepertinya datang dari film lain, lalu potongan gambarnya dimasukkan begitu saja ke dalam hikayat Ip Man-Gong Er.

Bagi saya, apa yang disajikan di layar tetaplah sebuah film yang tuntas. Perkara aslinya berdurasi 4 jam lebih, toh kita sebagai penonton hanya bisa menilai yang kita tonton.

Sebagai film kungfu, The Grandmaster memang bukan film yang enak diikuti. Tapi, sebagai film untuk menyelami karakter terdalam seorang manusia, film ini tetaplah tontonan ciamik. Pada sosok Gong Er kita melihat apa yang khas dalam setiap karya Wong Kar Wai, tentang manusia-manusia yang menerima penderitaan batin tak terperi dan cinta tak berbalas.

Lihat juga 10 Film Kungfu Terbaik versi wartawan kami di sini.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    622 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    1.047 respon
  3.  
    52 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    2.357 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    550 respon

Total Respon: 4.576
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft