
Bukan semata karena 18+ True Love Never Dies (2010) hampir 600 ribu penonton maka sutradara Nayato Fio Nuala (44) menganggap 18++ istimewa.
Bagi sutradara Affair, sekuel ini salah satu film penting dalam sejarah karier. 18++ mempertemukan Nayato dengan sosok yang sangat diidolakan sejak ia duduk di bangku SMP, Roy Marten. “Saya sudah menduga 18+ bakalan sukses. Percaya diri aja lagi. Hahaha,” canda Nayato ketika dimintai komentar soal sukses 18+, minggu lalu. Upaya melanjutkan 18+ digagasnya bersama Chand Parwez Servia empat bulan silam. Jika dalam 18+ ia bekerja sama dengan penulis naskah Ery Sofid, di 18++ Nayato ditopang Cassandra Massardi.
Ia mengakui, 18++ tampak matang dari sisi naskah. Musiknya terdengar menyatu dengan plot cerita. Film yang dibintangi Adipati Dolken dan Kimberly Ryder ini menjadi jawaban atas lantangnya caci maki penonton kepada Nayato. “Saya prihatin dengan kondisi film Indonesia sekarang. Menjaring penonton makin susah. Yang bikin miris, penonton Indonesia belakangan sinis. Belum menyaksikan film, sudah mencaci duluan. Bagaimana kalau menonton dulu baru berkomentar?” Nayato menantang.
18++ terasa istimewa karena munculnya Roy Marten sebagai Pak Bram, kakeknya Kara (yang diperankan Adipati). Roy idola Nayato sejak kecil. Dua film Roy yang jadi favoritnya, Sesuatu Yang Indah (Wim Umboh, 1976) dan Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya, 1977).
Nayato ingat, dalam Sesuatu Yang Indah, Roy diganjar plakat Djamaluddin Malik kategori Pemain Muda Penuh Harapan. Syuting hari pertama bersama Roy dilalui Nayato dengan agak kaku. Ia sungkan mengarahkan karena karisma Roy sampai sekarang belum pudar. Proses syuting dua bulan. Pengambilan gambar butuh waktu 20 hari.
“Hari pertama syuting, di jam-jam awal saya riskan. Syuting film ini termasuk lama. Biasanya syuting tujuh hari selesai. Pengambilan gambar di Bogor dan Bandung. Saya berupaya bikin gambar-gambar yang lebih cerah. Tidak lagi remang-remang seperti film sebelumnya,” imbuhnya.
Nayato menilai 18++ sebagai sindiran bagi anak muda zaman sekarang. Ia ingin menyuarakan, remaja jangan manja! Jangan terlena kemudahan fasilitas dari orang tua.
Jika ingin mendapat sesuatu, harus berbuat sesuatu. Musik yang dibilang Nayato menyatu dengan film adalah karya Melly Goeslaw (38) dan Anto Hoed (48). Melly menyumbang lagu “Sampai Akhir Jaman” dan “Selamanya Cinta”.
(wyn/adm)
galeri foto terbaru
plasamsn hari ini
- Lapas Salemba Rusuh, Napi Saling Tusuk
- Lagu-Lagu Musim Panas Favorit
- Foto-foto Terbaik dari Arena Olahraga
- Memahami Hak Perempuan dalam Islam
- Tebak Tatto Selebriti
- Pemandu Arah Kiblat Berbasis GPS
- Perjalanan Bayern dan BVB Menuju Wembley
- Stockholm Rusuh, Mobil-Mobil Dibakar
- 10 Aturan Tidak Resmi Saat Karaoke
- Keliling Havana dengan Bel Air 1956
- Pameran Mesin Judi Asia
- Terapi Kuda Di Meksiko
- Aksi Tendangan Bola Anak Kecil ke Gawang
- Wallpaper Pantai-pantai Indah
Iklan
poling hiburan
- Lihat
- Bagikan
campur sari













