
SEBELUM filmnya edar, Soegija dipromosikan sebagai film Garin Nugroho paling sederhana, mudah diikuti, paling mudah dicerna.
Ini tampaknya untuk menampik stigma yang bertahun-tahun melekat pada Garin sebagai sineas film-film yang tak mudah diikuti, yang lamban, menyuguhkan banyak bahasa gambar penuh simbol, film-film yang berat,yang banyak meraih juara di festival film di luar negeri.
Mempromosikan Soegija sebagai film yang sederhana adalah poin penting agar calon penonton tak emoh duluan melihat nama GARIN NUGROHO di poster film dan bilang, “Nggak jadi nonton, deh. Yang bikin filmnya Garin. Pasti berat.”
Lantas, benarkah semua klaim itu?
Terus terang, usai nonton filmnya, perasaan saya campur aduk. Buat saya filmnya tidak jelek. Banyak sekali pesan yang bisa diambil dari Soegija. Dan tata artistiknya mengagumkan. Senang rasanya melihat period film (istilah untuk menyebut film berlatar masa lampau) masih dibuat di negeri ini.
Tapi, di saat bersamaan, ada yang mengganjal. Saya tak bisa menikmati sepenuhnya filmnya. Pendek kata, saya simpulkan, filmnya bagus, tapi bukan yang terbaik. Untuk itu unek-unek ini ditulis.
Pertama, izinkan saya berargumen kenapa unek-unek ini penting dituliskan. Saya tak ingin menjadi orang yang bilang setiap film yang dihasilkan Garin Nugroho pastilah bagus hanya semata pembuatnya ya Garin.
Totot Indarto pernah menulis esai panjang di Kompas tahun 2003 berjudul “Mau Omong Apa Sampeyan, Mas Garin?” yang mengatakan kecenderungan pengulas film saat menghadapi film Garin. Katanya, kebanyakan pengulas film bersikap begini saat berhadapan dengan film Garin: “Saya tidak betul-betul mengerti film Garin, sehingga kesulitan menjelaskannya kepada orang lain. Tapi, hey! Ini kan film Garin Nugroho! Artinya, ini film bagus. Karena film-film Garin selalu bagus, sebagaimana tercermin pada banyaknya penghargaan dari berbagai festival film internasional. Maka, cobalah nikmati betapa bagusnya film ini melalui gambar-gambarnya yang indah dan tidak pernah dibuat orang lain sebelumnya.”
Kebesaran nama Garin membuat pengulas film rikuh mengkiritiknya.
Nah, Soegija ini bikin rikuh kuadrat. Ini film besar sekaligus proyek idealis yang ingin mengenalkan tokoh pahlawan Mrg Albertus Soegijapranata yang namanya tak pernah disebut dalam narasi kisah kepahlawanan negeri ini. Belum lagi Soegijapranata adalah tokoh besar agama tertentu (Katolik) hingga makin bikin publik kebanyakan tak enak hati mengkritiknya.
Tapi sudahlah. Saya sekadar ingin berbagi kesan usai nonton Soegija.
***
Usai pemutaran film Soegija bagi wartawan beberapa waktu lalu, seorang kawan bertanya, “Soegija itu siapa? Pahlawan? Kok, nggak pernah dengar?” Kawan itu bilang lagi, kalau ia pahlawan kok potretnya tak pernah dipajang di kelas-kelas di sekolah.
Mendengar omongan kawan itu, ingatan saya berlari ke masa kecil, ke ruang kelas saya waktu SD di tahun 1980-an. Saya ingat, ruang kelas dipenuhi gambar potret pahlawan. Saya ingat ada potret Pangeran Diponegoro, Patimura, Imam Bonjol, serta beberapa potret Pahlawan Revolusi. Memang ada potret RA Kartini, tapi kebanyakan potret pahlawan yang berjuang membela negari ini lewat peperangan alias jalan militer. Hanya sedikit potret dari zaman pergerakan nasional, yang berjuang melawan penjajah dengan membuat organisasi politik maupun berjuang lewat jalur diplomasi.
Novelis Ayu Utami menulis esai pendek “Pelajaran Sejarah Kita” di majalah Katolik Hidup edisi 27 Mei 2012. Tulisnya, “Dibesarkan dalam era Soeharto, saya dididik untuk selalu menghubungkan perjuangan kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata... bahasa kekerasan menjadi seolah-seolah keren. Heroisme selalu digambarkan dalam bentuk pertempuran bambu runcing.”
Di esai tersebut, Ayu menekankan pentingnya mengenal dan mempelajari Mrg Albertus Soegijapranata yang sepenggal kisa hidupnya diangkat Garin Nugroho ke dalam Soegija. Ayu mengawali tulisannya betapa, sebagai penganut Katolik, ia awam pengetahuan tentang sejarah bagaimana agama Katolik sampai di Jawa dan dianut olehnya dan leluhurnya.
Katanya, “Hampir semua orang Islam Jawa tahu siapa Walisanga. Tapi, anak-anak Katolik biasanya bingung tentang siapa yang memperkenalkan agamanya ke Indonesia. Itu juga kelemahan pelajaran agama (katolik) pada masa saya. Terlalu sibuk dengan doa dan dogma; lupa pada sejarah.”
Masalahnya kemudian, apa Soegija ini medium yang tepat untuk mengenal lebih jauh sosok Soegija dan pada gilirannya, membuat penganut Katolik tahu lebih jauh sejarah mereka?
Menonton Soegija dan membaca beberapa ulasan serius film ini, terutama dari penganut Katolik yang kritis atas film ini, saya menyimpulkan: 1) Soegija jelas bukan film agama, apalagi film religi Katolik. Memang ada simbol-simbol Katolik diperlihatkan, tapi itu sebatas yang sepatutnya muncul di layar karena film ini mengangkat hidup seorang pastor Katolik. 2) Sebetulnya, Soegija hanya bagian kecil dari film ini. Tanpa cerita sepenggal hidup Soegija, film Garin tetaplah jadi sebuah film. Ya, karena Garin sejatinya tak mengisahkan kisah Soegija, sejarah gereja Katolik di Jawa, apalagi dakwah Katolik. Garin sedang menyuguhkan kritik sosialnya atas Indonesia zaman kiwari dengan bercermin pada kisah tauladan masa lampau.
Problem mendasar film ini terletak pada judulnya: Soegija. Mau tak mau, karena judulnya memilih nama tokoh yang betulan pernah hidup, film ini punya beban sebagai film biopic. Masalahnya, Soegija sendiri bukanlah film yang taat asas untuk disebut film biopic. Meski filmnya mengambil sepenggal kisah hidup Soegijapranata dari 1940-1949 (saat ia diangkat sebagai pastor pribumi pertama di tanah Hindia Belanda, masuk penjajahan Jepang, hingga masa saat perang kemerdekaan ketika Belanda ingin kembali merebut kemerdekaan Indonesia) sang pastor berada di pinggir dari narasi besar Garin: orang-orang yang berada dalam kemelut perang besar di tahun-tahun itu.
Syahdan, kita melihat kisah-kisah orang berkelindan, bergantian menyita perhatian. Kisah-kisah ini benang merahnya adalah “keterpisahan”. Ada kisah Mariyem (Annisa Hertami), seorang perawat yang harus berpisah dengan kakaknya, Maryono (Abe). Ada bocah Tionghoa bernama Ling Ling (Andrea Reva) yang terpisah dari ibunya (diperankan Olga Lidya).
Keterpisahan ini bukan cuma persoalan bangsa terjajah, tapi juga mereka yang berada di posisi penjajah. Ada perwira Jepang Nobizuki (diperankan Suzuki) yang rindu pada putrinya, membuatnya tak bisa tega pada anak-anak. Ada juga Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang begitu merendahkan bangsa pribumi, merasa dirinya mesin perang yang hebat, namun mendadak tersentuh oleh seorang bayi, dan ingin pulang ke ibunya di Belanda. Robert berkawann dengan Hendrick (Wouter Braaf), fotografer yang jatuh cinta pada “Indonesia” tapi cintanya ditolak.
Di antara kisah-kisah di atas masih ada kisah tentang rombongan orkes yang gegap gempita bermusik di tengah perang. Ada juga bocah yang di tengah revolusi inginnya berkelahi saja. Kisah-kisah itu di bingkai oleh narasi historis penyiar RRI berbahasa Jawa.
Lantas, Soegijapranata? Di mana Romo Kanjeng dalam narasi besar itu?
Bagi saya, ia tampak seperti kepingan kecil. Kita melihatnya diangkat jadi uskup, melihatnya menyambangi korban-korban perang, menghadapi Jepang yang ingin merebut gerejanya, pindah ke Yogyakarta saat ibu kota Republik pindah ke kota itu, baca buku, dan banyak menulis. Banyak tulisannya yang penuh makna muncul di layar. Bagi saya, Soegija (dimainkan dengan tampang terlalu serius oleh sastrawan Nirwan Dewanto) seperti hadir untuk sekadar menuliskan kata-kata mutiara di layar.
Keputusan menyuguhkan film ini bukan semata kisah hidup Soegijapranata mendatangkan konsekuensi di atas, kisahnya muncul dalam banyak kepingan, bahkan nyaris numpang lewat. Patut dihargai alasan pembuat film ini untuk tak menjadikan filmnya jadi film religi. Pun kesadaran bahwa betapapun heroiknya Romo Kanjeng, secara sinematik kisahnya “membosankan” karena ia bukan pejuang militer seperti Patimura, Pangeran Diponegoro, atau Sultan Hasanuddin. Begitu “membosankan”-nya sosok Soegija, sineasnya sampai perlu menyelipkan tokoh konyol yang tugasnya membanyol mendampingi Romo Kanjeng yang diperankan dengan kocak oleh Butet Kertaradjasa.
Tambahan pula, setiap kisah di film ini muncul tak lebih seperti percikan. Alih-alih membuat kita hanyut terbawa emosi lalu bersimpati pada nasib mereka di layar, kita sekadar kena percikan air, hanya kena basah sedikit. Momen-momen emosional di layar tak cukup menggiring saya untuk ikut terbawa emosi.
Yang menggugah justru betapa aktualnya pesan film ini pada Indonesia masa kini. Setengah abad lewat, pesan-pesan Soegijapranata tetap relevan. Hal ini yang terasa unggul dari film ini, betapa yang lampau tetap terasa aktual.
***
Pada akhirnya, apa Soegija film Garin yang paling sederhana, dalam arti mudah dicerna?
Mudah dicerna, mungkin iya. Buktinya, kita bisa menangkap pesan-pesan Soegija yang tetap relevan bagi masa kini. Sederhana? Mudah diikuti? Garin berusaha betul mengikuti pakem film kebanyakan. Ada pengenalan tokoh dan masalahnya masing-masing, para tokoh bergelut dengan masalah mereka, dan kemudian masing-masing menyelesaikan masalahnya.
Namun, terlalu banyak tokoh dan cerita membuat filmnya jadi tak fokus. Penonton tak punya cukup waktu untuk bersimpati pada masing-masing tokoh. Saya berkesimpulan, Soegija film yang sederhana, mudah diikuti, tapi bukan berarti ia film yang lancar. Film Garin yang paling sederhana dan paling mudah diikuti masih dipegang Daun di Atas Bantal (1997) dan Mata Tertutup (2012).
Sebagai film bagi awam untuk mengenal sosok Soegijapranata pun, film ini terasa kurang. (Untuk mengenal lebih jauh Soegija, bacalah biografinya yang bertebaran di toko buku seiring filmnya rilis, dan bagi saya itu nilai positif lain film ini.)
Tapi, bagaimanapun, sebuah film semacam Soegija masih dibuat di negeri ini menandakan perfilman kita masih memiliki idealisasi. Masih ada orang-orang yang bikin film serius, tidak asal-asalan.
Melihat kenyataan filmnya laris ditonton, walau oleh golongan agama tertentu, menandakan fenomena yang bisa dilirik produser lain. Model film macam Soegija, dan juga Sang Pencerah dua tahun lalu, yakni film-film berdasar kisah hidup tokoh yang punya basis massa yang kuat dan banyak, dengan penggarapan serius dan mendapat restu dari golongan dari mana si tokoh berasal, terbukti bisa mendatangkan banyak penonton.***
(ade/ade)
galeri foto terbaru
plasamsn hari ini
- Bayern Munich, Raja Baru Eropa
- Kemolekan Zhang Yuqi
- Sapo Tahu Sayuran
- Bila Badut Turun ke Jalan
- Perayaan Waisak 2013
- KPK Punya Bukti Priyo Terlibat dalam Korupsi Alquran
- Panduan Lengkap Membeli Laptop
- Berita Menggemparkan Pekan Ini
- Perjalanan 50 Tahun Lamborghini
- 11 Lokasi Wisata Mewah di Selandia Baru
- Berita Menarik dalam Gambar Pekan Ini
- 10 Buku Anak yang Dilarang
- Wallpaper Pantai-pantai Indah
Iklan
poling hiburan
- Lihat
- Bagikan
campur sari










