Tue, 05 Jun 2012 00:31:19 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Snow White and the Huntsman, Dongeng Putri Salju Rasa “Twilight” dan Lain-lain

Ah, andai tak ada Kristen Stewart atau kisahnya tak diselipi kisah cinta segitiga mirip Twilight, filmnya mungkin akan lebih dikenang dari sekadar tafsir sok gelap dongeng Snow White.


Snow White and the Huntsman, Dongeng Putri Salju Rasa “Twilight” dan Lain-lain

SULIT untuk tidak teringat pada Twilight saat menonton film ini, Snow White and the Hunstman.

Bukan saja lantaran filmnya dibintangi tokoh utama yang sama dengan Twilight, yakni Kristen Stewart. Tapi dilema cinta segi tiga yang disisipkan ke dalam versi anyar dongeng Snow White ini terasa seolah terinspirasi dari Twilight. Hingga, usai nonton, saya berkicau di Twitter saya (@a_irwansyah) bertanya, “Team Huntsman atau Team William?” Maksudnya, usai nonton Anda akan memilih cinta Snow White (Stewart) sebaiknya berpihak pada siapa, sang pemburu, The Huntsman, atau William, sang pangeran sekaligus cinta masa kecilnya?

Terus terang, Snow White and the Hunstman di luar yang saya kira. Menonton trailer-nya, saya pikir bakal disuguhi tafsir baru dongeng Snow White yang rasional, dalam arti tidak menggunakan sihir, lebih manusiawi, dan saya duga, memberi latar sejarah pada dongeng tersebut. Saya pikir, filmnya bakal berwujud seperti Ridley Scott menceritakan ulang legenda Robin Hood tahun 2010 silam yakni, menyuguhkan kisah Robin Hood selayaknya film berlatar sejarah yang sugguh pernah terjadi di zamannya.

Tadinya, saya kira Snow White and the Huntsman (SWTH) bakal seperti itu. Tapi saya salah. Sineasnya (ini film pertama sutradara Inggris Rupert Sanders yang sebelumnya banyak membuat iklan, skenarionya ditulis Evan Daugherty dan 2 orang lagi) rupanya sebatas memberi tafsir baru dan membuat kisah dongeng anak-anak yang dikenal di seluruh dunia itu (terutama berkat film kartun Walt Disney) terasa lebih sebagai tontonan dewasa. Sineasnya mencomot elemen-elemen dasar dongeng Snow white lalu merajutnya jadi dongeng baru bagi penonton lebih dewasa.

SWTH sesuai dengan semangat zaman kiwari yang gemar menceritakan ulang dongeng klasik menjadi lebih kompleks. Novel-novel Neil Gaiman, misalnya, termasuk ke dalam contoh ini. Gaiman menulis dongeng bukan untuk pembaca anak-anak, melainkan pembaca dewasa yang tak mungkin lagi disuguhi dongeng sebelum tidur kisah Snow White, Cinderella, atau Ariel si Putri Duyung ala Disney. Mereka ini yang menginginkan cerita-cerita yang sudah berkali-kali diceritakan sebagai pengantar tidur sewaktu kecil diceritakan ulang dalam versi yang berbeda, lebih kompleks, tapi tetap mengandung unsur-unsur yang sudah familiar bagi mereka.

Dengan semangat itu pula tak sampai dua bulan lalu hadir Mirror Mirror di bioskop kita yang juga mengangkat dongeng Snow White. Mirror Mirror (MM) juga memberi tafsir baru. Namun, baik MM dan SWTH mengambil jalan berbeda. Ibarat kata, satu belok kiri, satu lagi belok kanan. MM terasa sebagai sebuah komedi romantis dengan humor ala sitkom, SWTH menyuguhkan aroma film epik kolosal macam The Lord of the Rings.

Khusus untuk SWTH, ulasan di Entertainment Weekly dengan tepat menggambarkan filmnya, yang lahir di zaman Hollywood ingin mengeruk untung box office global sebanyak mungkin, perubahan estetis harus dilakukan. Kata sang pengulas di Entertainmet Weekly, “filmnya berusaha keras mengubah cerita untuk cewek menjadi cerita untuk cowok-dan-cewek yang kelihatannya seperti 3 film jadi satu.”

Pada titik ini, mengubah dongeng Snow White tak semata ingin bergenit ria menjadikannya bukan lagi tontonan anak-anak, tapi juga demi meraih untung ditonton sebanyak mungkin baik dari cowok dan cewek.

Kisah SWTH melibatkan cinta segitiga antara sang putri Snow White (Stewart), pemburu (Chris Hemsworth) yang kemudian memilih melindunginya, serta Pangeran William (Sam Claflin), teman masa kecil yang sesudah dewasa juga bertekad melindungi Snow White. Dalam perjalanan kabur dari kejaran pasukan ratu penyihir jahat, Ravenna (Charlize Theron), Snow White bertemu dengan 8 kurcaci yang kemudian bersumpah jadi pengikut setianya. (Ya, 8, bukan 7, walau kemudian meninggal satu dan jadi 7 seperti dongeng aslinya.)

***

Saya pernah membaca tafsiran feminisme yang mengatakan Snow White-nya Disney sejatinya merendahkan martabat perempuan. Karakter putri-putri Walt Disney, terutama sebelum Bella di The Beauty and the Beast (1991), tak lebih sesosok putri yang berpangku tangan, menunggu pangeran berkuda putih menyelamatkannya. Putri-putri dalam dongeng Walt Disney adalah perempuan-perempuan yang menyerahkan nasibnya semata pada pria, tidak mandiri. Khusus dongeng Snow White malah menyisipkan pesan kecantikan fisik adalah hal yang begitu penting. Ya, bukankah mantra paling terkenal dari dongeng ini adalah bertanya pada cermin ajaib di dinding siapa yang paling cantik di seluruh dunia?

SWTH kemudian seolah ingin menjawab kritik kaum feminis itu. Sang Putri Salju di SWTH tak cuma menunggu sang pangeran datang. Ia ikut mengangkat senjata, bahkan memimpin kaum pria melawan ratu penyihir jahat, Ravenna. Snow White telah malih rupa jadi Joan of Arc, pahlawan wanita dari Prancis yang berperang melawan Inggris di Abad Pertengahan.

Namun, dengan semangat rekonstruksi itu, termasuk menjawab kritik kaum feminis, tak memberi bobot lebih pada filmnya selain keasyikan menyelami gambaran lebih dark dan epik dfari cerita dongeng yang sudah kita hapal. Proses perubahan karakter Snow White (Stewart) dari wanita yang takut dan lemah hingga harus dilindungi sang pemburu dan sang pangeran menjadi pemimpin pasukan terjadi begitu cepat, hanya lewat ciuman (siapa yang menciumnya, saya takkan bilang).

Stewart buat saya kurang meyakinkan sebagai Snow White, kecuali ia punya kulit seputih salju, bibir semerah darah, dan rambut sehitam kayu arang. Ekspresi wajahnya masih sama dengan Bella Swan di Twilight. Yang mencuri perhatian justru Charlize Theron dengan karakter Ratu Jahat Ravenna-nya. Sineasnya memberi latar belakang kehidupan menyedihkan pada sang tokoh jahat, hingga kita, penonton, juga jatuh iba padanya. Belum lagi efek khusus yang diselipkan pada sosok Ravenna yang menambah karakternya semakin kuat (lihat burung-burung gagak yang menjadi kostumnya lalu meleleh mirip lelehan aspal hitam). Tengok pula pilihan sineasnya untuk memakai aktor berukuran tubuh normal, tapi kemudian dibuat cebol secara digital. Di sini, teknologi dipakai bukan sekedar pameran kecanggihan, tapi memang memberi kekuatan pada cerita.

Ah, andai tak ada Kristen Stewart atau kisahnya tak diselipi kisah cinta segitiga mirip Twilight, filmnya mungkin akan lebih dikenang dari sekadar tafsir sok gelap dongeng Snow White.

Images credit: Universal Pictures

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    27 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.522 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.785 respon
  3.  
    13 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    705 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.578 respon

Total Respon: 5.590
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft