Mon, 08 Oct 2012 12:15:33 GMT | By Editor Wayan Diananto, tabloidbintang.com

Rumah Kentang: Mampukah Mengembalikan Nama Baik Film Horor?

Film horor seperti Rumah Kentang ini mulai langka ditemukan di film-film horor lokal lima tahun terakhir.


Rumah Kentang: Mampukah Mengembalikan Nama Baik Film Horor?

KEPERCAYAAN yang diwariskan nenek moyang menyebut ada tiga cara untuk menyaksikan penampakan makhluk gaib.

Pertama, menghadap cermin lalu menyisir rambut lima kali. Di antara Anda dan cermin, ada lilin sebagai penerang. Setelah menyisir lima kali, padamkan lilin lalu tatap kaca lurus dan sorot mata tajam.

Cara kedua, menengok ke belakang melalui celah di antara dua kaki dengan membungkukan badan. Cara ketiga yang kerap muncul di film-film horor Indonesia, memanggil arwah dengan medium boneka jelangkung. Mantra yang diucapkan cukup populer, “Jelangkung-jelangkung di sini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput pulang tak diantar…”

Farah (Shandy Aulia) melakukan cara pertama. Ia menyisir rambut lima kali di kamar, di rumah, yang diwariskan almarhumah Ibunya. Cara ini ditempuh setelah rumah warisan di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan itu terasa ganjil. Adik Farah, Rika (Tasya Kamila) beberapa kali memberi tahu, “Kita tidak sendiri…” kepada Farah. Di luar itu, Farah melihat penampakan anak kecil bermain piano.

Ia berkali-kali menjual rumah melalui koran. Maksudnya, hasil penjualan rumah akan dipakai Farah untuk membeli rumah yang lebih kecil. Sisanya, untuk menyambung hidup. Dalam proses penjualan itu, Rika pingsan di kamar. Badannya berlumur darah. Kekasih Farah, Arman (Gilang Dirgahari) menyarankan agar memanggil orang pintar (Ki Kusumo).

Menariknya film ini, tidak merusak logika penonton dengan plot yang melompat-lompat. Set tempat dan waktunya konsisten. Jose bertutur melalui proses hari ke hari. Layaknya, mendapat rumah yang sudah tiga tahun tanpa penghuni, Anda diajak tokoh utama untuk membereskan rumah perlahan. Mengurus listrik ke PLN, mengurus sambungan telepon, mengisi kulkas dengan persediaan makanan, dan seterusnya. Anda dilibatkan, dalam kisah beres-beres rumah.

Bersamaan dengan itu, Jose mulai menyuntikan suasana tidak beres di rumah itu. Dan pada saat bersamaan, sutradara Jelangkung itu memperlihatkan hubungan Farah-Rika yang semula beku. Dengan demikian, terlihat pertalian emosi adik kakak yang lumayan kokoh. Hal seperti ini mulai langka ditemukan di film-film horor lokal lima tahun terakhir.

Kisah adik-kakak semacam ini memperlihatkan kemana kiblat Jose ketika mengerjakan Rumah Kentang (RK). Film ini mengingatkan kita pada emosi kakak beradik dalam Don’t Click, A Tale Of Two Sister, atau The Grudge. Citarasa oriental tersamar banyaknya mitos lokal yang dipresentasikan sejak scene awal. Selain tiga cara melihat setan, Jose juga bermain dengan mitos lawas tentang pintu yang diketuk oleh the invisible hand dan bagaimana si pendengar ketukan harus bersikap.

Secara keseluruhan, Jose memaparkan cerita yang intens, akrab, dan menghargai logika penonton. Kisahnya “memanusiakan” penonton Indonesia yang belakangan menjadi korban pelecehan film horor kelas B. Jose juga mengefektifkan fungsi scoring dalam memberi efek kejut. Yang menjadi problem film ini barangkali, minimnya peran dari pemeran pendukung.

Entah diberi kesempatan atau tidak, peran notaris rumah, Tantenya Farah (Chintami Atmanegara), maupun beberapa pemuda di awal cerita sebenarnya bisa diperbantukan untuk memperkuat background Farah.

Farah di sini seolah single fighter dengan beban cerita yang disangga sendiri. Sementara karakter lain di film ini terlihat useless. Faktor lain yang memberatkan, RK seolah terlambat rilis sewindu.

Legenda RK sudah didengungkan Jelangkung (2001) lalu diperjelas Dhimas Djayadiningrat via Tusung Jelangkung (2003). Setelah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap horor lokal terjun bebas, Mampukah RK mengembalikan nama baik horor yang kadung cemar?

Di Sudut Rumah Kentang: Dari masa ke masa, horor selalu identik dengan kamar mandi. RK pun punya scene kamar mandi yang mendebarkan. Di awal film, Sabrina mendengar pintu rumah di ketuk. Ketika dibuka, tak ada orang. Rupanya si “tamu” sudah masuk tanpa sepengetahuan tuan rumah. Tamu itu membilas badannya di kamar mandi. Dari tirai kamar mandi, terlihat kedua kaki si “tamu” menghitam, tampak melepuh. Percayalah, dia bukan tipikal “tamu” yang layak disambut!

Pemain : Shandy Aulia, Tasya Kamila, Gilang Dirgahari, Chintami Atmanegara, Ki KusumoSutradara : Jose PoernomoPenulis : Jose PoernomoProduser : Raam SorayaProduksi : Hitmaker StudiosDurasi : 102 menit

Foto: Dok. Hitmaker

(wyn/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    842 respon
  2.  
    2 %
    Eddies Adelia
    151 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    822 respon
  4.  
    41 %
    Dewi Sandra
    2.848 respon
  5.  
    9 %
    Rizty Tagor
    598 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    739 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    869 respon

Total Respon: 6.869
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft