
ULASAN ini sejatinya bisa sangat pendek. Tapi saya tak mungkin hanya menulis “keren!”, “cool!”, “Tonton sendiri untuk buktikan bagusnya” berkali-kali untuk memenuhi kuota 700 kata.
Atau, saya juga tak bisa menuliskan berulang-ulang apa yang saya tulis di akun Twitter saya (@a_irwansyah) usai nonton film ini: “Klo biasanya penonton merasa paling tau, #ModusAnomali bikin kt tak tau apa yg trjadi sampe film kelar. Film sinting! #shortReview.” Itu juga masih terlalu pendek.
Maka baiklah, saya akan berkicau lebih panjang. (Dan janji nggak akan spoiler.)
Beberapa hari usai nonton Modus Anomali, saya teringat percakapan sutradaranya, Joko Anwar dengan kritikus film Eric Sasono, dan Edwin, sutradara Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo untuk situs Rumahfilm.org pada 2008 silam.
Di bagian keempat wawancara itu, Joko bilang penonton film kita kena sindrom film-buff (penggila film) baru. “Mereka merasa diri mereka paling pintar, tapi sebenarnya nggak,” kata Joko.
Kata Joko lagi, “Begitu mereka kena sindrom film-buff baru, mereka menonton film cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Jadi mereka selalu menempatkan diri di atas sebuah film. Padahal kalau lo mau mengambil sesuatu yang bagus dari film, mengambil manfaat dari pergi ke bioskop atau menyetel VCD, lo harus menempatkan diri setara dengan film itu. Lo masuk ke film itu mencari tahu what is that movie all about.”
Saya tertarik membincangkan Modus Anomali dengan kerangka teori di atas ketimbang misalnya, memulainya dengan mendeskripsikan awal filmnya (hutan yang tenang, tangan keluar dari tanah, lalu tokoh kita terbangun dalam keadaan amnesia, kemudian berlari ke sana-kemari).
***
Joko Anwar sudah menempatkan dirinya di tempat khusus di jagat sinema tanah air. Hanya dengan 4 film sepanjang 7 tahun karier profesionalnya sebagai sineas, Joko telah menorehkan namanya sebagai brand yang baik. Tidak banyak sineas kita yang jarang membuat film, tapi namanya jadi acuan. Selain Joko, nama yang muncul di kepala saya Garin Nugroho. Seperti Garin, Joko adalah brand. Namanya lebih besar dari film-filmnya. Saat saya menyebut film-film apa saja yang sudah dibuat Joko, seorang kawan bilang, “Cuma segitu? Berarti gue udah nonton semua filmnya kecuali yang baru ini.” Nah!
Saya lantas teringat majalah Swa edisi 15-28 Maret 2012 yang mengulas sajian utama “Survei Media Sosial 2012: Indonesia Most Favorable Brands & Most Influential Personality”. Dari survei Swa, untuk urusan film, nama Joko Anwar dinobatkan sebagai yang paling berpengaruh. Tuh!
Ada konsekuensi ketika nama sang sineas menjadi brand yang bahkan lebih besar dari film-filmnya. Garin, misalnya. Namanya sudah membuat jeri duluan calon penonton film. Film-film Garin selalu didengungkan sebagai film yang bagus tapi berat, tak mudah dimengerti, film kelas festival. Padahal, Garin juga membuat Daun di atas Bantal, Mata Tertutup, dan Soegija (bakal edar Juni ini) yang linear dan mudah dimengerti.
Bagaimana dengan Joko Anwar?
Menarik bagaimana Joko membangun namanya menjadi sebuah brand. Pertama, Joko memilih lingkaran orang film yang tepat. Mentornya adalah Nia DiNata, sutradara yang menghasilkan film-film bermutu mulai dari Ca Bau Kan, Arisan!, Berbagi Suami, dan Arisan! 2. Joko bahkan menulis skenario Arisan! untuk Nia. Film panjang pertamanya, Janji Joni (2005) dibuat bersama Kalyana Shira, rumah produksi milik Nia.
Saat tak membuat film, Joko kerap muncul di film-film dari lingkaran pertemanannya, jadi cameo atau ikut menulis skenario untuk teman-temannya. Ini artinya, nama Joko kerap muncul di jagat sinema kita, di kepala kita, para pecinta film-film baik. Dari satu film ke film lain, Joko juga menunjukkan kepiawaian mengolah bahasa film semakin baik. Film-filmnya adalah lompatan dari satu level ke level lain. Joko tidak menyuguhi setiap filmnya dengan gaya bertutur seragam. Dari film A ke film B selalu ada yang beda. Tengok saja, Janji Joni adalah komedi romantis berlatar belakang kecintaan pada sinema, Kala adalah noir rasa Indonesia, Pintu Terlarang sebuah thriller psikologis yang menggedor jantung. Dan Modus Anomali ini... ah, saya jelaskan lebih lanjut di bawah.
Kembali ke soal Joko, di era Twitter ini, Joko tergolong sineas yang melek teknologi dan rutin berkicau. Lantaran brand-nya sudah sangat dikenal, setiap film Joko dinanti, setidaknya oleh pecinta film-film baik. Sebab kita tahu, seperti Garin atau Quentin Tarantino di kelasnya masing-masing, Joko tidak akan menyuguhi kita tontonan yang biasa-biasa saja.
***
Syahdan, dengan segala atribut yang disandangkan pada Joko dan film-filmnya, Modus Anomali mendapat perlakuan istimewa dari penikmat film tanah air—penikmat film-film baik, tentunya.
Ini menimbulkan konsekuensi, pembacaan penonton atas Modus Anomali menjadi lebih serius. Entah bagaimana, disadari atau tidak, banyak yang menonton dengan “mempersenjatai” diri terlebih dahulu. Ada yang menonton dengan siap mencabik-cabiknya dengan pisau bedah sudah di tangan.
Pisau bedah itu bisa macam-macam bentuknya. Dari yang sekadar teori perfilman atwa bagaimana film yang baik (baca: lengkap) disajikan, atau ada yang siap menghubung-hubungkan filmnya dengan teori macam-macam, semisal psikoanalisa Sigmund Freud.
Menonton dengan kondisi begitu membuat penonton (atau juga pengulas film) menjadi mencari-cari kesalahan dari filmnya.
Masalahnya, Joko Anwar seorang sineas yang rapi. Film-filmnya tak punya cacat elementer soal masalah teknis—termasuk Modus Anomali ini.
Setelah tak menemukan cacat teknis, yang kemudian dicari-cari penonton/pengulas adalah soal motivasi dari tokoh kita punya kelakuan yang tak normal alias modus anomali. Seolah Joko harus menjelas-jelaskan motif dari tokohnya.
Soal motif memang absen dari Modus Anomali. Tapi, tanpa motif, bukannya filmnya lantas jadi tak asyik. Sebab, film ini memang tak hendak menyuguhkan motif—dan tak perlu juga. Sejak awal Joko memang hanya menyuguhkan kita dunianya—sebuah hutan di negeri antah berantah atawa “random country” dengan orang-orangnya berkulit sawo matang tapi bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.
Pendek kata, menonton Modus Anomali ya cukup dengan menontonnya. Tak perlu bawa pisau bedah sendiri. Joko sudah menyediakannya di layar untuk kita, termasuk parang dan panah.***
Images credit: Lifelike Pictures
(ade/ade)
galeri foto terbaru
plasamsn hari ini
- Bayern dan Dortmund Siap Berpesta
- Anggota Polda Metro Jaya Bunuh Diri
- 10 Hotel Ramah Lingkungan Terbaik
- Selebriti Bergaun Ketat
- Lego Terbesar di Dunia
- Kontes Kecantikan Penyandang Cacat
- Berita Menarik dalam Gambar Pekan Ini
- Kemolekan Zhang Yuqi
- Pajero Sport Edisi Khusus Diluncurkan
- PSSI Sambut Rencana City Akuisisi Klub Indonesia
- Hiruk Pikuk Pengumuman Kelulusan SMA
- Anjing Ini Menjilati Gigi Singa
- Wallpaper Pantai-pantai Indah
Iklan
poling hiburan
- Lihat
- Bagikan
campur sari













