Wed, 22 Aug 2012 09:24:16 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Membaca "Perahu Kertas" di Layar Lebar

Maaf jika saya dianggap cerewet dan menurut Anda malah bagus filmnya sama betul dengan novelnya. Percayalah, seperti Anda, saya juga begitu menyukai novelnya dan amat senang kisahnya difilmkan.


Membaca "Perahu Kertas" di Layar Lebar

TANPA tahu filmnya akan menjadi dua bagian, saya terperanjat ketika di layar muncul tulisan “Akhir bagian pertama.”

Saya dan teman yang ikut menonton film ini saat premiere beberapa waktu lalu saling tatap dan berseru penuh tanya, “Filmnya bersambung?!”

Tapi sejurus kemudian muncul perasaan lega dan sebuah pemahaman, tampaknya sudah tiba masanya di jagad film nasional sebuah kisah yang aslinya satu jilid novel dibagi ke dalam film. Persis buku ke-7 Harry Potter jadi dua film ataupun buku ke-4 Twilight juga jadi dua film.

Ini artinya, selain pendekatan filmnya berusaha setia pada novelnya, yang artinya pembaca novelnya akan dimanjakan karena apa yang mereka baca akan mereka temukan di layar; juga ada keyakinan dari produser membuat dua film sekaligus akan mendatangkan untung.

Namun, di lain pihak, terutama setelah menonton Perahu Kertas, saya juga sedikit menyayangkan keputusan memanjangkan satu kisah novel jadi dua film. Seperti saya tulis di akun Twitter saya (@a_irwansyah) usai nonton filmnya, saya menilai Perahu Kertas “nyaris terlalu setia dengan novelnya. Sekadar melihat apa yang sudah saya baca.” Saya punya “mixed feeling” atas filmnya.

Komentar pendek di Twitter itu kemudian ada yang mengomentari, “Bukannya bagus kalau setia dengan novelnya? Malah kan banyak film adaptasi yang dicerca karena beda dengan novelnya.”

Saya sudah jawab pendek pertanyaan di atas di akun Twitter saya. Ijinkan saya menjawabnya di sini lebih panjang.

Dan sebelum berpanjang-panjang, saya perlu tekankan, Perahu Kertas adalah film yang baik. Seperti kebanyakan film karya Hanung Bramantyo, filmnya juga sudah melewati uji kelayakan sebagai tontonan yang layak dari segi teknis pengisahan. Saya tak hendak mencereweti aspek teknis yang umumnya sudah baik tersebut.

***

Yang hendak saya ulas di tulisan ini adalah perkara klasik adaptasi novel ke film. Dibilang klasik karena sudah menjadi “suratan takdir” ketika sebuah novel diadaptasi ke layar lebar, orang akan membanding-bandingkan dengan filmnya.

Dalam sebuah esai panjang tentang film berdasar adaptasi media lain (novel, komik, console game, dll) berjudul “Mari Menonton Buku” yang ditulis pada 2004, kritikus film Eric Sasono mengingatkan kita, “Saya ingin mengingatkan satu hal: tontonlah film sebagai film, bukan sebagai terusan dari media lain yang menjadi sumber film tersebut,” tulisnya.

Ia lalu melanjutkan: “Film adalah sebuah media yang utuh, terpisah dan harus mampu bercerita sendiri tanpa harus dijelas-jelaskan, diacu-acukan kepada media lain, dan terutama media sumber inspirasi film tersebut. Jangan lupa bahwa film adalah media yang memiliki perangkat storytelling-nya sendiri sehingga ketika ia sampai ke penonton, ia harus mampu bercerita secara utuh, bulat dan tak perlu ada prasyarat macam-macam untuk bisa mengerti film ini bercerita tentang apa.”

Saat mengulas Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008) yang diangkat dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata di blog saya, saya menulis begini:

“... banyak orang yang belum mafhum kalau novel dan film adalah dua media berbeda. Pecinta karya aslinya pasti ingin filmnya semirip mungkin novelnya. Ini yang sulit. Sebab, novel bertutur dengan kata, sedang film dengan gambar. Novel bisa berpanjang-panjang hingga bisa sedemikian tebalnya, sedangkan film rata-rata nyaman ditonton tak lebih dari 2 hingga 3 jam. Jika mengasumsikan 1 halaman = 1 menit, butuh waktu 500 menit untuk mengadaptasi novel setebal 500 halaman. Durasi itu terlalu lama untuk sebuah film. Maka, mustahil memfilmkan Laskar Pelangi persis seperti novelnya. Kita harus memahami itu. Atau, setidaknya, berusaha memahaminya. Maka, mau tak mau ada pemampatan cerita di sini. Ada bagian-bagian yang ada di novel, tapi menghilang di film. Dan hal ini mutlak adanya.”

Rupanya, apa yang saya bayangkan dulu mustahil, bisa dilakukan Hanung bersama produsernya. Menengok novel Perahu Kertas jumlahnya lebih dari 400-an halaman. Kepada media Hanung mengatakan versi filmnya jadi berdurasi 4 jam. Ini artinya, dengan mengasumsikan 1 halaman = 1 menit, 400 halaman novelnya sudah termaktub dalam film berdurasi 4 jam tersebut.

Dan memang, saat menontonnya, saya hanya sedikit menemukan hal yang hilang (prolog di Belanda, misalnya) dan diubah dari versi novel (pertunangan sahabat Kugy jadi pernikahan). Untuk perihal kesetiaan, Hanung telah menunaikan tugasnya dengan amat baik. Pembaca novel karya Dewi “Dee” Lestari ini pasti menemukan apa yang mereka bayangkan ketika membaca novelnya di film, mulai dari jam Kura-kura Ninja yang dipakai Kugy sampai sekolah Pasukan Alit.

***

Sesuai niatan penulisnya, Perahu Kertas adalah novel yang sangat ringan. Dee begitu lancar menuturkan kisahnya membuat pembacanya tak ingin menaruh buku hingga menyelesaikannya. Selain itu, Perahu Kertas adalah novel yang sangat visual. Saat membacanya pertama kali, saya bisa langsung membayangkan setiap adegan di novel bak film di benak saya, termasuk dialog-dialognya. Ungkapan suasana hati Kugy dan Keenan, dua tokoh utama novelnya, saya bayangkan bisa diakali dengan suara narasi. Dan rupanya itulah yang dilakukan Hanung. Kugy diberi tempat bernarasi beberapa kali di film.

Pendek kata, Perahu Kertas adalah novel yang sangat mudah difilmkan karena materinya memang sudah sangat visual dari sananya. Maka, menurut saya, buat sutradara sekaliber Hanung, memfilmkan Perahu Kertas adalah perkara mudah. Apalagi kemudian, seperti diakuinya, Hanung nyaris tak melakukan perubahan pada kisah novelnya. Ia sekadar menggunakan kepandaian tekniknya.

Di titik ini filmnya mendatangkan “mixed feeling” alias rasa campur aduk di benak saya. Anda mungkin boleh bilang saya cerewet, tapi semula saya mengharap filmnya akan “lain” dan sekadar menangkap ruh filmnya, bukan total mengadaptasi mentah-mentah. Saat ke bioskop, saya tak hendak menonton film yang “sama” dengan yang sudah saya baca di buku. Saya menduga-duga, ketika akhirnya memutuskan membagi novel Perahu Kertas jadi dua film, Hanung dan Dee (juga menulis skenario) pasti berpikir keras bagaimana mengakhiri bagian pertama. Dalam teori pembabakan skenario film ada momen yang namanya klimaks. Buat saya, ini yang absen dalam bagian pertama Perahu Kertas.

Misalnya, film pertama dari buku ke-7 Harry Potter berakhir saat Doby peri rumah baik hati sahabat Harry tewas dan Voldemort mencuri tongkat sihir sakti Dumbledore, meninggalkan sebuah puncak nestapa pada kisahnya.

Sementara itu, film pertama buku ke-4 Twilight berakhir saat Bella Swan terbangun dalam keadaan sebagai vampir, setelah sebelumnya sekarat. Ini juga meninggalkan puncak rasa penasaran mengetahui lanjutannya.

Coba tengok bagaimana akhir bagian pertama Perahu Kertas: Kugy (Maudy Ayunda) yang sekian lama terpisah akhirnya bertemu Keenan (Adipati Dolken) di pernikahan sahabat mereka, diselingi sebuah adegan dagelan sahabat Kugy salah melulu mengucap ijab kabul. Lucu? Iya. Tapi, inikah momen klimaksnya? Mungkin, tapi kurang “nendang” untuk sebuah klimaks.

Bagi saya, kejutan utamanya adalah muncul tulisan “akhir bagian pertama” dan filmnya dibagi jadi dua. Ini artinya, saya harus ke bioskop lagi menuntaskan kisah yang versi filmnya nyaris sama dengan bukunya.

Maaf jika saya dianggap cerewet dan menurut Anda malah bagus filmnya sama betul dengan novelnya. Percayalah, seperti Anda, saya juga begitu menyukai novelnya dan amat senang kisahnya difilmkan. Harap percaya juga, saya sudah berusaha keras menyukai filmnya (dan filmnya tidak jelek, kok) tapi memang kurang sreg jika dibagi dua film. Itu saja.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apakah Camelia Malik dan Harry Capri Pantas Bercerai?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    56 %
    Ya
    11.054 respon
  2.  
    44 %
    Tidak
    9.051 respon

Total Respon: 20.510
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft