Sun, 31 Mar 2013 20:54:09 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Madre, Adonan Biang Roti dengan Bahan Tidak Pas

"Mungkin memang ada cerita yang sebaiknya enggak difilmkan. Madre salah satunya."


Madre, Adonan Biang Roti dengan Bahan Tidak Pas

IZINKAN saya bercerita terlebih dahulu bagaimana persentuhan saya dengan cerita Madre.

Madre, sebuah cerpen panjang (betapa anehnya istilah ini?) terdapat dalam buku kumpulan cerpen Dewi Lestari alias Dee. Saya baca cerpen itu dalam perjalanan berangkat kerja dari rumah di Tangerang ke kantor di Jakarta melewati jalan tol yang padat pada suatu pagi tahun lalu.

Saat membacanya, saya begitu hanyut terbawa oleh kisahnya. Di bus saya ketawa sendiri dan--ini yang saya sendiri tak percaya--menangis haru oleh kisah tentang adonan roti biang bernama "madre" dan kisah cinta Tansen dan Mei. Tak terasa, cerpen panjang itu tamat saya baca dalam perjalanan pagi itu.

Ada momen-momen kunci dan kalimat yang saya ingat terus. Misal kalimat Pak Hadi yang bilang Tansen tak mungkin tega "menjual" ibunya sendiri. Atau kejadian di masa kecil Mei merusak adonan biang roti kakeknya.

Saya juga jatuh cinta pada karakter-karakternya. Pada Tansen yang bingung antara pilih hidup bebas atau terikat, pada Mei yang terobsesi pada Madre dan punya kesalahan masa lalu yang ingin diubahnya, atau juga pada Pak Hadi yang setiap kata-katanya nyelekit tapi terasa benar.

Sebagai sebuah cerpen, Madre dibuat dengan adonan yang pas. Hasilnya ketika dikunyah tak mau berhenti hingga halaman terakhir.

Sesiapa yang sudah menonton Madre pastilah membayangkan kisahnya akan juga terasa asyik bila difilmkan. Kisah yang begini lancar mungkin akan mudah difilmkan.

Syahdan, sekitar setahun setelah membaca cerpennya, saya menonton Madre di bioskop.

Kisah awalnya masih sama. Tansen (Vino G. Bastian) mendapat warisan sebuah kunci dari kakek yang tak pernah dikenalnya. Kunci itu membawanya pada sebuah toko roti tua. Seingat saya setting di bukunya di Jakarta, tapi versi film diubah jadi Jl. Braga, sebuah kawasan tua di Bandung.

Di toko roti bernama Tan De Bekker itu, Tansen bertemu Pak Hadi (Didi Petet) yang kemudian membimbingnya pada sebuah kulkas tua dibelit rantai besi bergembok. Kunci diserahkan Tansen untuk membuka gembok. Dalam kulkas ada adonan biang roti yang diberi nama "Madre".

Tansen kemudian nge-blog, cerita soal adonan biang roti "Madre". Seorang pembaca blognya tertarik ingin beli adonan biang itu.

"Seratus juta" kata Mei (Laura Basuki), si penggemar blog Tansen, seorang cewek cantik keturunan Tionghoa, membuka penawaran pada Tansen, ingin beli adonan biangnya.

Sampai di sini saya masih melihat filmnya sekadar memvisualkan apa yang saya baca dulu. Tapi lama-lama saya merasa tafsir Benni Setiawan atas kisah Madre terasa lain.

Jika Dee begitu lancar berkisah, Benni terasa harus menyeret-nyeret kisahnya susah payah. Jika Madre versi tulisan sudah enak disantap sejak gigitan pertama, Madre versi visual malah terasa anyep sejak awal.

***

Saya bertanya-tanya, apa yang salah dengan adonan biang roti Benni?

Hm, mungkin jawabnya terletak pada karya darimana filmnya berasal. Kisah Madre yang asyik mungkin memang renyah dibaca, tapi ketika diwujudkan jadi film ternyata tak mudah. Sebagai cerpen, Madre terbilang kisah yang pendek. Konfliknya pun datar.

Membaca lagi Madre, saya berkesimpulan yang bikin kisahnya kesengsem adalah "ulekan" tangan Dee. Dee telah jadi salah satu penulis favorit saya sejak bukunya Filosofi Kopi (saya tak jatuh cinta padanya di Supernova). Sastrawan yang saya kagumi setiap tulisannya, Goenawan Mohamad tak sungkan memuji Dee. Saya kutipkan apa yang ditulis GM pada pengantar buku Filosofi Kopi (2006).

"Jika ada yang memikat pada Dee adalah cara dia bertutur: ia peka pada ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus bukan hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, membuat kita senyum, atau memsona... Tak kalah penting: ritme itu mendayu-dayu. Juga tidak ruwet, bahkan rapi."

Dee memang penulis jempolan yang mampu membuat pembacanya hanyut dalam cerita hingga tandas. Saya ingat membaca novel Perahu Kertas dua ratusan halaman langsung tak mau berhenti. Tapi ketika novelnya difilmkan, saya merasa filmnya sekadar mengkonfirmasi apa yang sudah saya baca.

Masalahnya beda dengan Madre ini. Madre sama lancarnya dengan Perahu Kertas. Tapi sebagai cerpen, kisahnya mungkin memang tak panjang dan konfliknya kurang. Akhirnya, Benni, sebagai nahkoda Madre versi film, memberi bahan lain pada adonan rotinya.

Bahan lain yang dimaksud itu adalah memberi nuansa komedi berlebih pada kisahnya. Perubahan mencolok pertama yang saya kenali adalah perbedaan karakter Pak Hadi di novel dengan film. Di novel, Pak Hadi kerap bicara pedas tanpa tedeng aling-aling. Tapi omongannya terasa benar. Di film, Pak Hadi tampak komikal. Adegan ia memperlakukan adonan "Madre" dan bagaimana ia membuat roti jadinya malah terasa konyol alih-alih mengundang tawa.

Belum lagi bila Anda tengok karyawan lain Tan De Bekker. Orang-orang tua itu (yang antara lain diperankan Titi Qadarsih) malah aktingnya terasa berlebihan. Lebay dan konyol. Tak sedap dipandang apalagi mengundang selera.

Karena nuansa filmnya dibumbui bahan komedi, mau tak mau Tansen dan Mei pun ikut-ikutan berkomedi ria. Mungkin niatnya ingin filmnya lebih segar (atau agar bisa mengulur waktu?). Tapi hasilnya malah menjadikan filmnya cuma setingkat di atas FTV cinta-cintaan konyol yang kita saksikan saban hari. Production value filmnya jadi terasa mubazir dengan komedi konyol bin lebay yang memenuhi cerita.

Kemudian, ada pula konflik Mei yang ternyata sudah punya calon suami. Sayang konflik yang tak ada di novelnya ini malah terkesan jadi tempelan. Kurang bikin greget. Ia seperti kismis yang ditaburi terlalu sedikit di atas roti.

Namun, Madre tak melulu sebuah adonan yang gagal. Saya ingat, ketika tahu Laura Basuki bakal memerankan Mei, di akun Twitter saya berkicau rasanya bayangan sosok Mei yang saya imajinasikan di kepala ketika membaca cerpennya bukanlah Laura. Bagi saya, Laura tipe gadis Tionghoa baik-baik, religius, kalem. Tak seperti Mei yang digambarkan pintar dandan, glamour, sekaligus punya kesibukan seabrek.

Paling dekat, saya menggambarkan Mei akan lebih pas diperankan Sandra Dewi.

Tapi rupanya Laura mampu membawakan peran Mei sesuai karakternya. Tak persis seperti di buku. Namun tak juga buruk. Bagi saya, Laura berhasil menjadi jiwa dari kisah Madre di film, bukan Vino.

***

Akhirnya, tak lama usai nonton, saya berkicau di akun Twitter saya, menyimpulkan: "Mungkin memang ada cerita yang sebaiknya enggak difilmkan. Madre salah satunya."

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    15 %
    Tetap menjadi motivator
    345 respon
  2.  
    24 %
    Berhenti menjadi artis
    561 respon
  3.  
    51 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    1.196 respon
  4.  
    10 %
    Pindah ke luar negeri
    263 respon

Total Respon: 2.365
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft