Wed, 27 Jun 2012 17:40:24 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Lewat Djam Malam, 1954 dan 2012

Menonton Lewat Djam Malam di bioskop urban kelas atas macam Plaza Senayan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi dari sini saya bisa menikmati pengalaman penonton yang beda dengan di Sinematek maupun di Kineforum.


Lewat Djam Malam, 1954 dan 2012

UNTUK ketiga kalinya saya nonton Lewat Djam Malam (1954), film yang digadang-gadang sebagai film Indonesia terbaik yang pernah dibuat.

Tiga kali nonton Lewat Djam Malam, tiga kali saya mendapat pengalaman menonton berbeda.

Pengalaman pertama tahun 2006 silam. Kritikus film senior JB Kristanto dan Salim Said mengenalkan saya pada judul film itu. Syahdan, saya bertandang ke Sinematek di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, tak jauh dari kantor. Sinematek memberi fasilitas nonton film bagi masyarakat umum yang ingin nonton film-film jadoel. Tempatnya ala kadarnya, di lantai yang sama tempat staf Sinematek bekerja. Ruang nonton hanya berupa cubicle dengan TV layar cembung ukuran 20 inci dan sebuah headphone.

Dari pengalaman nonton sendirian di Sinematek saya bisa merasakan filmnya memang istimewa. Karena tak ada rubrik yang bisa menampung Lewat Djam Malam, saya tak menuliskan ulasannya usai nonton pada 2006 silam. Di artikel pengantar soal "25 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" (dimuat Bintang Indonesia edisi 776, Th-XVI, Minggu pertama Maret 2006), saya hanya mengutip hasil wawancara dengan Kristanto dan Said. Saya tulis begini:

“Bintang bertanya pada Kristanto yang mantan wartawan film di Kompas, apa film Indonesia terbaik yang pernah dibuat. "Film Indonesia terbaik sepanjang masa itu Lewat Djam Malam (1954)," jawabnya. Di matanya, film itu layak disebut terbaik dilihat dari alasan sinematografis maupun sosial. Ia bercerita film itu mengisahkan tentang korupsi di awal usai perang revolusi. Pada buku katalog film yang ditulisnya Kristanto menulis film itu sebagai "karya terbaik Usmar Ismail". Film itu, tulisnya lagi, sebuah kritik sosial cukup tajam mengenai para bekas pejuang kemerdekaan pasca perang. Bagi mantan penulis resensi film di Tempo yang kini jadi pengamat politik, Salim Said, film terbaik itu juga Lewat Djam Malam. "Bukan Darah dan Doa. Film Pedjuang (film Usmar yang lain) malah jauh lebih enak dilihat," katanya pada Bintang via telepon Senin siang.”

Di bagian lain, saat mengulas pendek film Gie (no.8 dalam deretan "25 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa"), dengan gegabah saya membandingkan Gie dengan Lewat Djam Malam. Saya tulis, “… film ini punya gagasan lebih besar dari sekadar mengisahkan kisah hidup sosok Gie. Yakni bagaimana seorang yang ikut berjuang menumbangkan rezim korup, malah menemukan rezim korup baru. Teman-temannya semasa aktivis juga ikutan korup. Gie jadi sosok kesepian. Sebuah gagasan yang mengingatkan kita pada mahakarya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam (1954).”

Saya katakan gegabah karena terlalu sembrono membandingkan Soe Hok Gie dengan Iskandar (diperankan AN Alcaff), bekas pejuang yang turun gunung di Lewat Djam Malam. Hok Gie, kita tahu, ikut demonstrasi menumbangkan rezim. Ketika ia sadar rezim baru sama korupnya dengan rezim terdahulu, dan beberapa kawan-kawannya yang dulu bekas aktivis mahasiswa ikut menjadi bagian dari rezim baru, Gie memilih ke pinggir, naik gunung, dan akhirnya tewas di gunung. Iskandar, di lain pihak, dalam kemarahannya gelap mata membunuh bekas komandannya. Gie menjadi sosok kesepian. Tapi Iskandar akhirnya memilih menjadi hakim dan algojo.

2Pengalaman kedua nonton Lewat Djam Malam adalah Maret tahun lalu di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, yang memutarnya sebagai bagian acara Bulan Film Nasional (BFN) Sejarah Adalah Sekarang 5.

Seingat saya, yang nonton hari itu hanya belasan orang. Anda juga harus mafhum, Kineforum adalah bioskop alternatif yang menjadi oase bagi masyarakat yang ingin nonton film-film bukan arus-utama (mainstream). Tipe penonton bioskop Kineforum adalah mereka yang datang jauh-jauh ke situ (jika bukan mahasiswa IKJ) untuk menonton film-film bernilai seni tinggi maupun menjadi penanda kultural pada suatu masa. Pendek kata, penonton bioskop Kineforum umumnya penonton serius.

Alhasil, menonton Lewat Djam Malam di Kineforum menghasilkan sebuah tulisan yang serius. Dalam keremangan bioskop dan ketakziman menonton, saya lebih bisa menangkap makna dan maunya film ini. Saya menulis, “ … terekam kegalauan Iskandar yang merasa bersalah telah dijadikan alat atasannya membantai orang-orang tak berdosa. Tergambar pula betapa asingnya ia dengan zaman normal yang dilihatnya.”

Pada bagian lain saya menulis begini, “… film ini tetap layak disebut puncak pencapaian sineas kita yang belum terlampaui hingga kini. Lima puluh tahun lewat setelah filmnya edar, kita masih menganggap apa yang diwacanakan film ini tetap relevan. Tengok saja, betapa harapan kita membuncah saat negeri ini menapaki alam demokrasi sesungguhnya pasca 1998, tapi kemudian kita kecewa karena ternyata harapan tinggal harapan, dan korupsi maupun kesewenang-wenangan semakin terang benderang.”

3Syahdan, Jumat (22/6) malam lalu, saya bertandang ke Plaza Senayan XXI menonton lagi Lewat Djam Malam dalam versi terbaiknya, versi yang sudah direstorasi atawa diperbaiki. Gambar filmnya dan suaranya lebih jernih. Saya angkat topi pada pihak yang sudah repot-repot memperbaiki film penting ini—walau mereka mengerjakannya tanpa bantuan pemerintah sama sekali (melainkan dibantu pihak Singapura dan lembaga preservasi film World Cinema Foundation pimpinan Martin Scorsese).

Menonton Lewat Djam Malam di bioskop urban kelas atas macam Plaza Senayan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi dari sini saya bisa menikmati pengalaman menonton yang beda dengan di Sinematek maupun di Kineforum.

Menonton di jam pertunjukkan pukul 19.15 adalah waktu yang tepat untuk menonton penonton Lewat Djam Malam masa kini. Mereka umumnya profesional muda yang baru pulang kerja, hanya satu dua yang pantas disebut orang tua.

Malam itu, pada akhirnya saya lebih asyik menonton penonton ketimbang larut dalam tema besar filmnya. Tapi di sinilah asyiknya. Dan lebih asyik lagi ketika mencocokan konteks kelahiran Lewat Djam Malam di tahun 1954 lampau dengan kondisi tahun 2012 kini.

Dari membaca wawancara dengan almarhum Misbach Jusa Biran, pendiri Sinematek, di buku Lewat Djam Malam Diselamatkan (2012), diketahui niatan membuat film ini demi mengikuti festival luar negeri. Pada 1953, cerita Misbach, Usmar Ismail dan Djamaludin Malik bertandang ke Jepang mengikuti konferensi produser-produser se-Asia. Saat konferensi beredar wacana tahun depannya, 1954, bakal digelar Festival Film Asia yang pertama di Tokyo. “Djamal mau ikut, tapi tidak punya film untuk dikirim. Mereka bingung mengirimkan film apa karena merasa film yang pernah dibuat masih kurang baik. Namun Djamal tetap bilang ikut. Jadi, ia minta Usmar produksi filmnya, sementara ia sendiri mencari uang,” cerita Misbach.

Tugas membuat cerita dan skenario jatuh ke Asrul Sani. Filmnya akhirnya tak jadi dikirim ke festival di Tokyo. Ketika Usmar dan Djamal hendak berangkat ke Jepang, pemrintah melarang. Kala itu hubungan Jepang dengan Indonesia sedang kurang baik. Indonesia memprotes Jepang karena rampasan perang belum dibayar. Alhasil, kata Misbach, Djamal mengadakan Festival Film Indonesia pertama pada 1955. Di ajang FFI pertama itu, Lewat Djam Malam ditahbiskan sebagai Film Terbaik, berbagi piala dengan Tarmina.

Lewat Djam Malam lahir di masa yang kita sebut sebagai era Demokrasi Liberal (1950-1959). Pasca penyerahan kedaulatan penuh oleh Belanda tahun 1949, Indonesia memilih sistem demokrasi parlementer sebagai tata kelola negara. Seperti sistem parlementer pada umunya, tanggung jawab pemerintahan ada pada perdana menteri, presiden hanya sebagai simbol. Perdana menteri, berikut pemerintahannya, bisa jatuh bila kebijakannya tak didukung parlemen. Masalahnya kemudian, terhitung sejak pertama kali Muhammad Natsir jadi perdana menteri pada 1950, terjadi tujuh kali pergantian kabinet sepanjang demokrasi liberal tahun 1950-an.

Di awal 1950-an pula, ada peristiwa besar yang menjadi penanda zaman. Pada 17 Oktober 1952, Angkatan Darat mengorganisasi massa di seantero Jakarta. Dua tank diarahkan ke Istana, tempat Presiden Soekarno tinggal. Massa, yang didukung AD, minta presiden membubarkan parlemen. Sejarah mencatat, peristiwa itu dikenang sebagai usaha “kudeta” gagal.

Meski begitu dampaknya luas. Itulah kali pertama, kekecewaan terhadap sistem parlementer disuarakan dengan lantang. Dalam esainya, “Demokrasi dan Kekecewaan”, Goenawan Mohamad berpijak pada peristiwa tersebut untuk menggambarkan sebuah situasi rasa kecewa pada demokrasi yang hari-hari ini juga sama kita rasakan, selepas 14 tahun Reformasi.

Aroma kekecewaan pada situasi negeri pasca revolusi fisik amat terasa saat nonton Lewat Djam Malam. Perang kemerdekaan nyatanya tak hanya melahirkan patriot, tapi juga orang-orang culas. Ada yang kemudian hidupnya sukses meski dengan jalan tercela, ada pula yang jadi pecundang, sekadar jadi centeng rumah bordil, menjagai seorang pelacur.

4Paling baik memang meletakkan Lewat Djam Malam pada konteksnya. Baik sambil mencari tahu semangat zaman yang melahirkannya, maupun mendudukkannya pada zaman sekarang.

Saat menonton pertama dan kedua, lantaran menontonnya dengan khusyuk—yang pertama sendirian saja di Sinematek dan yang kedua dengan penonton-penonton serius di Kineforum—saya relatif menangkap pesan film ini sebagai kritik sosial pada kondisi negara-bangsa pasca revolusi yang tak membaik.

Menonton yang ketiga kalinya di Plaza Senayan tempo hari, saya melihat filmnya dengan cara berbeda. Alih-alih asyik membaca kritik sosialnya, saya lebih asyik menonton Lewat Djam Malam sambil melihat-lihat bagaimana Indonesia zaman itu. Menonton dengan begini yang ada malah tertawa-tawa, melihat kekonyolan yang tersaji di layar.

Saya tersenyum-senyum melihat betapa ukuran cewek cantik masa itu yang pipinya gembil, tubuhnya montok. Gaya cewek bercakap-cakap pun menarik disimak. Pandangan seperti sinis merendahkan ataupun mulut dimiringkan rupanya dianggap pas untuk menunjukkan superioritas. Penonton malam itu rasanya tak habis pikir musik pergaulan masa itu adalah lagu “Potong Bebek Angsa” dan “Rasa Sayange”. Mereka mungkin menonton sambil mengasosiasikan, begini bila anak muda dugem di tahun 1950-an.

Di mata penonton Plaza Senayan malam itu, polah Laila (diperankan dengan menawan oleh Dhalia), pelacur yang bermimpi punya kehidupan indah dengan menggunting gambar-gambar di majalah menjadi bahan tawa yang renyah. Setiap kali Laila menyanyi tentang nasibnya yang malang, kami semua terbahak.

5Saya mafhum bila setelah diputar di bioskop umum, di mal-mal kelas atas di kota besar, Lewat Djam Malam menjadi bergeser maknanya.

Penonton Lewat Djam Malam di bioskop umum pada dasarnya adalah mereka yang oleh pengamat ekonomi Muhammad Chatib Basri disebut sebagai “Kelas Konsumen Baru”. Mereka adalah kelas menengah yang mapan secara ekonomi dan punya kebiasaan konsumtif yang tinggi. Afiliasi politik kelas ini tak jelas. Mereka tak tertarik pada politik praktis dan lebih suka berkeluh kesah atas layanan publik di Twitter ketimbang aktif berpartisipasi memperbaiki keadaan.

Karena tak tertarik pada politik maupun yang nyerempet-nyerempet ke situ, tema kisah di Lewat Djam Malam mungkin tak terlalu diminati. Menelisik kehidupan zaman itu rasanya lebih pas bagi mereka.

Bagi saya hal itu tidaklah salah. Persepsi penonton tak bisa dihakimi. Jika memang yang lebih menarik adalah gambaran sosio-kultural masa itu ya apa mau dikata. Demikianlah maunya penonton kita di tahun 2012.***

Images credit: Filmindonesia.or.id

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    702 respon
  2.  
    2 %
    Eddies Adelia
    124 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    709 respon
  4.  
    42 %
    Dewi Sandra
    2.462 respon
  5.  
    8 %
    Rizty Tagor
    497 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    636 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    752 respon

Total Respon: 5.882
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft