Sat, 23 Jun 2012 01:50:00 GMT | By Editor Renny Y. Adystiani, tabloidbintang.com

Legenda Kisah Nyata "Matah Ati" Kembali Dipentaskan

“Matah Ati” ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22-25 Juni. Tiket kelas VVIP Rp.1.200.000, VIP Rp.925.000, kelas I Rp.750.000, kelas II Rp.550.000, kelas III Rp 250.000. Tiket bisa didapat di ticket box Teater Jakarta.


Legenda Kisah Nyata "Matah Ati" Kembali Dipentaskan

“Tiji tibeh. Mati siji, mati kabeh. Mukti siji, mukti kabeh.”

Pertengahan abad ke-18, tanah Jawa menjadi saksi pemberontakan melawan penjajah. Darah bercucuran, nyawa melayang, kebebasan dipertaruhkan. Pria dan wanita, tua dan muda, bertarung melawan tentara VOC. Begitu pun dengan Laskar Prajurit Putri, yang mengekspresikan keberanian dan tekad kaum hawa di tanah Jawa.

Jauh di desa Matah, seorang gadis lugu bernama Rubiyah mendapat mimpi misterius. Rubiyah bermimpi menjadi seorang puteri ningrat yang dipersunting seorang ksatria gagah berani. Rubiyah sadar, khayalannya hanyalah bunga tidur.

Tak dinyana, Rubiyah akan bertemu dengan jodohnya, seorang ksatria perkasa dari Surakarta. Raden Mas Said namanya. Ksatria gagah berani bergelar Pangeran Sambernyowo itulah yang nantinya akan mempersunting Rubiyah sekaligus menobatkannya sebagai pimpinan Laskar Prajurit Putri bergelar Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati.

Nama Matah Ati yang berarti “melayani hati yang pangeran” menjadi perlambang kesetiaan sang puteri ningrat terhadap pasangannya. Tak hanya sebagai istri, Rubiyah juga setia mendampingi suaminya yang juga bergelar Kanjeng Gusti pangeran Adipati Arya Mangkunagoro itu di medan perang. Bersama-sama, mereka memimpin para petarung dengan memegang teguh satu prinsip: “Tiji tibeh. Mati siji, mati kabeh. Mukti siji, mukti kabeh (Mati satu, mati semua. Mulia satu, mulia semua)”.

Matah Ati, Romantis dalam Mistis

Mistis. Itulah kesan pertama yang saya rasakan, bahkan sebelum pentas dimulai. Aroma ratus kemenyan yang bersemilir di hidung seolah melekatkan jiwa saya dengan sisi misterius dalam pribadi Rubiyah. Mungkin inilah rahasia mengapa “Matah Ati” mampu mengulang penampilannya hingga kali ketiga.

Kemampuan para perakit ide dalam membekap penontonnya ke dalam sisi magis yang dibangun, membuat saya seolah tak ingin bangkit dari tempat duduk setelah pentas usai. Saya kecanduan kecanduan. Sangat kecanduan.

Pementasan “Matah Ati” berasal dari mimpi Atilah Soeryadjaya, seniman sekaligus keturunan keraton Mangkunegaran yang peduli akan tradisi budaya kuno Jawa. Wanita yang juga dikenal di kalangan pentas wayang orang itu bermimpi untuk mengembalikan citra kampung halamannya, kota Solo, menjadi pusat kesenian dan budaya di Jawa.

Dalam “Matah Ati”, Atilah berperan selaku penulis naskah, produsen, sutradara, sekaligus perancang kostum. Lakon “Matah Ati” yang merupakan legenda kisah nyata para leluhurnya dari garis keluarga Mangkunegaran, berhasil memperkenalkan budaya tanah Jawa –khususnya Solo- hingga ke pentas dunia.

“Matah Ati” pertama kali dipentaskan di Esplanade Theatre, Singapura, 22-23 Oktober 2010 lalu. Walau ditampilkan di negeri orang, “Matah Ati” sukses besar. Kesuksesan terulang saat penampilan kedua, kali ini di Jakarta, 13-16 Mei 2011. Jay Subyakto selaku penata artistik, berhasil membuat imajinasi para pemirsanya ‘melintir’ dengan tata panggung yang dibuat miring 15 derajat.

Bentuk panggung ini pula lah yang membuat saya seolah enggan berkedip sambil harap-harap cemas, kuatir ada pemain yang jatuh terpeleset. Tapi tidak terbukti! Entah apa yang dilakukan Jay dan para pelakon hingga mampu berdiri tegak di atas panggung miring itu. Penggunaan panggung miring ini ada alasannya sendiri.

“Waktu pertama latihan, kami pakai bidang datar sehingga ada beberapa gerakan yang tidak terlihat jelas,” ungkap Jay, Kamis (21/6) malam.

Penggunaan bidang miring, lanjut Jay, bertujuan agar para penonton dapat melihat pergerakan para pemain di barisan belakang. Begitu juga bagi para penonton yang duduk di kursi belakang dapat melihat keseluruhan pementasan tanpa ada yang terhalang. Brilian.

Konsep panggung unik juga akan diterapkan Jay pada pementasan “Matah Ati” di konferensi Federation for Asian Cultural Promotion (FACP) di Hotel Sunan, Solo, 6-9 September dan di halaman depan istana Mangkunegaran, Solo, 8-10 September mendatang.

Tak habis di situ decak kagum kami. berbagai efek khusus dan penataan panggung hasil percampuran ide kreatif Atilah, Jay, dan Inet Leimena selaku koordinator produksi dan penata acara benar-benar mampu memuaskan para penikmatnya. Terakhir, romansa antara Rubiyah dan Raden Mas Said beratraksi dengan tangkas di tengah kesan mistis nan temaram.

“Matah Ati” ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22-25 Juni. Tiket kelas VVIP Rp.1.200.000, VIP Rp.925.000, kelas I Rp.750.000, kelas II Rp.550.000, kelas III Rp 250.000. Tiket bisa didapat di ticket box Teater Jakarta.

(rere/gur)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    15 %
    Tetap menjadi motivator
    281 respon
  2.  
    24 %
    Berhenti menjadi artis
    447 respon
  3.  
    50 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    919 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    202 respon

Total Respon: 1.849
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft