Mon, 10 Dec 2012 16:21:05 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

KALEIDOSKOP: 10 Film Hollywood Paling Asyik Tahun 2012 (IMHO)

Jadi, inilah dia, film-film, “in my humble opinion (IMHO),” memberi pengalaman sinematik paling mengasyikkan saat ditonton sepanjang tahun ini.


KALEIDOSKOP: 10 Film Hollywood Paling Asyik Tahun 2012 (© IMHO)

KENAPA “paling asyik”? Kenapa tidak pakai “terbaik”?

Well, kalau mau jujur, film-film terbaik yang dibikin Hollywood tahun ini tidak atau belum beredar resmi di bioskop kita. Saya bisa saja menyebut Argo, Moonrise Kingdom, The Master, Cloud Atlas, atau Zero Dark Thirty di daftar ini. Namun, apa artinya bila film-film tersebut tak edar di bioskop tanah air. Jika memaksakannya, daftar ini bakal terlalu elitis atau bahkan mengawang-awang.

Maka, saya ganti kategori “terbaik” dengan “paling asyik.” Pemilihan frasa “paling asyik” mendatangkan konsekuensi berbeda. Untuk memilih film-film yang paling asyik, ukuran yang saya pakai bukan lagi nilai estetika karya tersebut sebagai karya seni. Yang diagungkan bukan semata-mata pencapaian estetis, akting memukau, ataupun skenario, penyutradaraan, serta sinematografi mumpuni. Bukan. Bukan teknik sinema yang jadi ukuran sebuah film Hollywood masuk daftar ini.

Melainkan, semata-mata, apakah film tersebut memberikan pengalaman menonton yang paling mengasyikkan di antara film-film Hollywood lain? Pengertian asyik bisa sangat luas. “Asyik” saya pahami tidak semata menghibur dalam arti filmnya renyah dan gurih dinikmati. Pun “asyik” tak juga berarti filmnya ringan. Film bernilai tinggi yang menjadi kandidat Oscar pun bisa jadi sebuah tontonan mengasyikkan.

Jadi, inilah dia, film-film, “in my humble opinion (IMHO),” memberi pengalaman sinematik paling mengasyikkan saat ditonton sepanjang tahun ini.

1. Life of Pi (Sutr. Ang Lee)Bagi yang sudah baca novelnya jauh sebelum berwujud jadi film, pasti bakal mengira novel karya Yann Martel ini terbilang material yang tak mungkin difilmkan, un-filmable. Tapi bagi Ang Lee, yang sudah membuat film kungfu (Crouching Tiger, Hidden Dragon) sampai koboi gay (Brokeback Mountain) tak ada kata yang tak mungkin. Sepuluh atau 15 tahun lalu, film semacam ini mungkin takkan terwujud secara visual. Namun, dengan perkembangan teknologi CGI dan kamera 3D yang semakin canggih, Lee terbukti bisa mewujudkannya. Life of Pi versi layar lebar adalah bukti perkawinan jenius antara teknologi dan storytelling berbobot sastra. Filmnya tidak sekadar pamer teknologi (harimau yang begitu realis) tapi gambar-gambar yang indah bak puisi. Saat diminta menulis di kertas komentar pada wartawan usai nonton film ini, saya cuma menulis pendek: “Ang Lee’s best.” Titik.

2. Frankenweenie (Sutr. Tim Burton)Film ini adalah buat ulang karya Tim Burton sendiri dari film pendeknya tahun 1980-an untuk studio Walt Disney. Namun, bila ditelisik lebih jauh, Burton sejatinya sedang membuat film personal sambil meramunya dengan segala hal favoritnya. Kisahnya ia pinjam dari pakem cerita monster Frankenstein dengan premisnya dibelokkan: bagaimana bila ada seorang anak jenius yang bisa menghidupkan lagi anjing kesayangannya yang sudah mati? Berbagai unsur ciri khas Burton bertaburan di film ini, mulai dari gaya surealis-nya, sampai kegemarannya meminjam film-film monster dan horor klasik. Film anak-anak tidak pernah begitu penuh kode bagi pecinta sinema sebelumnya. Namun, Burton berhasil melakukannya. Dan, ah, bocah kecil itu punya nama lain selain Victor Frankenstein di dunia nyata. Namanya, Tim Burton.

3. Chronicle (Sutr. John Landis)Di ulasannya, kritikus film Roger Ebert menulis begini: “Terkadang, sebuah film datang entah dari mana sambil mengumumkan kedatangan bakat-bakat baru yang patut diperhitungkan.” Chronicle adalah kejutan manis di bioskop saat awal tahun. Kisah superhero sekali lagi didefenisi-ulang di layar lebar. Chronicle sebuah penemuan inovatf di genre yang orang kira cuma bisa asyik diwujudkan dengan bujet ratusan juta dollar dan menghasilkan efek khusus dahsyat. Dengan meminjam teknik mockumentary (dokumenter bohongan), fim ini seperti mengawinkan serial Heroes yang pernah populer dulu dengan Blair Witch Project. Gaya seperti ini sudah jamak di film horor, tapi rasanya baru kali ini dilakukan di film superhero. Yang menarik, karena kita tahu karakter di sini punya kekuatan super bisa membuat benda-benda bergerak sendiri, kamera terkadang dibiarkan melayang, memberi sudut gambar (angle) yang tak bisa dilakukan film-film berjenis mockumentary lainnya.

4. Cabin in the Woods (Sutr. Drew Goddard)Kata Joss Whedon, salah satu penggagas film ini, Cabin in the Woods adalah “a very loving hate letter” kepada genre film horor. Ya, genre ini sudah begitu ajeg dan memiliki formula baku yang kerap diulang-ulang dari film ke film. Perlu ada inovasi bagi genre ini. Scream melakukannya pada 1990-an yang menghasilkan epigon horor remaja sepanjang paruh terakhir 1990-an dan awal 2000-an. Sekitar 15 tahun kemudian hadir Whedon (jadi produser) dan Drew Goddard (sutradara), yang pernah membuat serial Buffy the Vampire Slayer, mengacak-acak formula film horor. Whedon dan Goddard merekonstruksi ulang format baku film horor dan bermain-main dengannya. Plotnya meminjam plot usang film horor yang telah berkali-kali dipakai (bahkan oleh sineas tanah air) yakni sekumpulan remaja dengan karakter stereotip (si pirang seksi, si tampan gagah, si bodoh, si pintar, dan cewek baik-baik masih perawan) pergi ke tempat terasing jauh dari peradaban. Di situ mereka bertemu zombie dan makhluk horor lain yang ternyata adalah… aduh, saking asyik kisahnya, sebaiknya Anda tak tahu film ini intinya tentang apa.

5. The Dark Knight Rises (Sutr. Christopher Nolan)Lewat The Dark Knight Rises, Christopher Nolan mencoba menaklukkan pencapaian sinematik yang ia raih sendiri. Lewat The Dark Knight (2008), Nolan menempatkan film superhero sama terhormatnya dengan film-film berkelas lain. Berhasilkah? Well, Nolan sudah mencobanya. Hasilnya, tergantung interpretasi masing-masing. Yang jelas, tugasnya dengan menggenapi trilogi Batman yang realis tuntas sudah. Dengan film ketiga ini, Nolan makin meneguhkan posisinya sebagai sutradara yang berpengaruh di generasinya. Di tangannya, kisah Batman tidak lagi cerita superhero anak-anak. Para pahlawan dan penjahat berkostum menjadi relevan dan menjadi cerminan kontemporer kita. Andai tak ada penembakan di bioskop saat premiere filmnya, nasib film ini mungkin akan lebih baik di box office Amerika. Tapi, kejadian penembakan brutal yang pelakunya mengaku sebagai Joker itu semakin menegaskan film Batman rasa Nolan bukan film superhero biasa.

6. Skyfall (Sutr. Sam Mendes)Skyfall menandai 50 tahun kehadiran James Bond di layar lebar. James Bond pasca 9/11 ditandai dengan kehadiran Daniel Craig (lewat Casino Royale, 2006) sebagai agen 007 penyuka vodka-martini yang mendobrak pakem James Bond sebelumnya. Bond di tangan Craig berambut pirang, lebih brutal, dan tak suka pakai senjata canggih. Skyfall menjadi pijakan lain saat kita sudah kian menerima Craig sebagai Bond (dan bahkan ada yang menyebutnya “James Bond terbaik”). Dengan cerdas, tahapan ini dibuat sineasnya untuk menceritakan ulang mitos James Bond bagi generasi penonton baru. Kita disuguhi latar belakang Bond, M yang baru, Moneypenny, dan Q versi baru. Hebatnya, di tangan Sam Mendes (sutradara), reboot ini berlangsung mulus dan terutama, mengasyikkan.

7. 21 Jump Street (Sutr. Phil Lord dan Christopher Miller)Biasanya, film yang diangkat dari serial TV masa lalu dibuat dengan niat mendatangkan nostalgia bagi penonton lama dan mencoba meraih penonton baru dengan membuat kisahnya aktual. Versi film 21 Jump Street tak hanya mendatangkan nostalgia. Yang dipinjam 21 Jump Street versi film cuma konsep ceritanya—polisi bertampang remaja ditugaskan menyamar ke SMA untuk menggulung penjahat, memberantas peredaran narkoba di sekolah. Kisahnya berkembang membongkar segala konvensi film aksi polisi. Filmnya membentur sana-membentur sini, berkelakar, menyindir segala hal, dan menyuguhkan lelucon yang nakal dan liar sampai ada potongan penis segala. Namun, pencapaian terbaik 21 Jump Street versi film adalah ketika ia tidak jatuh jadi sekadar film aksi polisi. Film ini pas disebut salah satu film remaja SMA atawa high school movie terbaik, dapat disejajarkan dengan Mean Girls di pertengahan 2000-an ataupun Sixteen Candles dari era 1980-an. Di antara petualangan aksi Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) ada sub-teks selayaknya film remaja klasik Hollywood: persahabatan, perlombaan ingin jadi yang paling populer di sekolah, hingga cinta remaja.

8. Ted (Sutr. Seth McFarlane)Ted adalah kejutan menyegarkan tahun ini. Siapa mengira, cerita dengan boneka beruang di dalamnya bisa begitu menghibur. Menghibur siapa? Well, film ini memang meninggalkan dua kubu: yang suka dengan humor dan lelucon kasarnya dan satunya lagi, yang menganggapnya kelewatan. Saya termasuk yang tertawa ngakak dan menerima setiap lelucon Ted. Penulis-sutradara Seth McFarlane, menawarkan humor segar yang tak ada habisnya. Setiap lelucon kasar dan referensinya pada budaya pop (tentu dengan mengolok-oloknya) bagi saya sangat berhasil. Menonton Ted, seperti saya tulis di esai soal filmnya, seperti menonton Crayon Shinchan. Dan seperti Shinchan pula di awal kemunculannya di negeri kita pada awal 2000-an, banyak orang yang tak suka padanya dulu.

9. The Avengers (Sutr. Joss Whedon)The Avengers adalah produk Studio Marvel, produsen komik saingan utama DC Comics (pemilik Superman dan Batman), yang mengangkat jagoan-jagoan supernya ke dalam satu film. The Avengers menggabungkan Captain America (Chis Evans), Iron Man (Robert Downey Jr.), Hulk (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), jagoan cewek Black Widow (Scarlett Johansson), serta pemanah ulung bermata elang Hawkeye (Jeremy Renner). Semuanya digabungkan dalam satu layar, dikomando oleh organisasi rahasia pelindung bumi S.H.I.E.L.D. yang dikepalai Nick Furry (Samuel L. Jackson). Majalah Time mengatakan, The Avengers sejatinya mengambil plot sebuah film indie tentang keluarga disfungsional yang berkumpul dalam satu rumah sehabis liburan atau karena sebuah kejadian. Kita melihat para anggota keluarga saling tak akur, bertengkar, punya sifat berbeda, serta kepentingan berbeda. Tapi yang ini bedanya, dalam plot film superhero dengan bujet lebih dari 200 juta dollar AS. Perkawinan itu melahirkan film superhero terdahsyat.

10. Looper (Sutr. Rian Johnson)Looper is Inception of 2012. Film ini tidak sekadar berwujud aksi fiksi ilmiah, tapi terutama mengajak penontonnya berpikir. Dalam bayangan sineasnya, Rian johnson, di masa depan tak lama lagi perjalanan menembus waktu belum ditemukan. Tapi di masa depan yang lebih jauh, hal itu ditemukan. Nah, muncul pekerjaan bernama “Looper” yang kerjanya menghabisi penjahat dari masa depan yang dikirim ke masa lalu. Dari sini, kisahnya berkembang menjadi permainan menjelajahi waktu beserta logika di dalamnya: tindakan kita di masa lalu, di kemudian hari menentukan nasib kita di masa depan; tentang menebus kesalahan mencoba mengubah sejarah; dan pada akhirnya membuat pilihan hidup demi masa depan lebih baik. Looper memberi semua pelajaran hidup itu dengan mengasyikkan.

Ada film asyik dari Hollywood tahun ini yang kami lewatkan masuk daftar di atas? Silakan isi kolom komentar.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    27 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.479 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.731 respon
  3.  
    13 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    681 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.539 respon

Total Respon: 5.430
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft