Thu, 18 Oct 2012 14:57:48 GMT | By Editor Wayan Diananto, tabloidbintang.com

Cita-Citaku Setinggi Tanah: "Cita-Cita Saya Ingin Makan di Restoran Padang"

Cita-citaku Setinggi Tanah nyaris tanpa konflik. Tidak ada dramatisasi. Efek drama didapat dari proses yang dijalani anak seusia Agus.


Cita-Citaku Setinggi Tanah: "Cita-Cita Saya Ingin Makan di Restoran Padang"

KETIKA SMP, saya menabung uang koin di dalam botol oli. Saya butuh uang Rp 37 ribu untuk beli pocket radio, yang bisa menangkap gelombang MHz alias FM.

Maklum, radio pemberian eyang putri hanya bisa mencapai frekuensi KHz alias AM. Saya memecah celengan dan membelinya di Toko Luwes, tepat di bulan Mei, bulan kelahiran saya. Saya ingin menghadiahi diri sendiri.

Siaran pertama yang saya dengarkan program Favorita Sepekan, tangga lagu paling hit di Solo. Kala itu, “Nyanyian Cintamu” dari AB Three berjaya. Saya buangga setengah mati, bisa membeli radio setelah hampir enam bulan tidak jajan di sekolah. Itu cita-cita saya!

Dan 13 tahun kemudian pertanyaan yang sama soal cita-cita disodorkan kepada Agus (Muhammad Syihab), bocah asal Muntilan, Jawa Tengah.

Agus ingin makan di rumah makan Padang. Baginya, pengunjung restoran Padang ibarat raja. Aneka hidangan disuguhkan. Memenuhi meja. Cita-cita ini ditertawakan temannya, Sri (Dewi Wulandari), Puji (Iqbal Zuhda), dan Jono (R Maulana Daffa). Masakan Padang kemewahan bagi Agus, yang tiap hari menyantap tahu bacem buatan ibunya (Nina Tamam). Pagi itu, Agus ditugasi guru membuat karangan soal cita-cita. Agus ingin wujudkan cita-cita makan di restoran Padang dulu, baru menulis karangan. Ia rela tidak jajan di sekolah dan bekerja sebagai buruh pengantar ayam demi makan di restoran Padang. Lalu proses yang sama, yang pernah saya alami belasan tahun silam direka ulang di layar. Menahan nafsu jajan, membiarkan anak-anak lain menikmati makanan sementara si empunya cita-cita menelan liur.

Eugene Panji selama ini dikenal dengan ide sepele, namun membuat yang biasa itu membekas di benak. Seingat saya, ia pernah mengeksekusi ide seorang laki-laki yang duduk di bibir pantai. Lalu pria itu membayangkan di pantai yang sama sekian tahun. Kala itu, ia bersendau gurau dengan wanita yang dicintainya, yang kemudian disebut mantan.

Jadilah cerita pendek itu video klip dengan gradasi warna apik, berjudul “Jenuh” (Rio Febrian, 2006). Ide sederhana lainnya, yang pasti pernah dialami siapa pun, diangkat Panji lewat Cita-citaku Setinggi Tanah (CCST). Eksekusinya menarik. Proses Agus mengumpulkan rupiah realistis. CCST nyaris tanpa konflik. Tidak ada dramatisasi. Efek drama didapat dari proses yang dijalani anak seusia Agus.

Dan, proses pembelajaran hidup yang diserap Agus dari ayah Agus (yang bekerja sebagai buruh pabrik tahu), dari ibu Agus yang tidak mampu membeli daging, dari Eyang Putri yang memberi oleh-oleh peci bekas kakeknya, dari Mbah Tapak, dan Mbah Keong. Anda yang pernah didatangi kakek atau nenek tentu pernah mengalami penyelesaian seperti ini. Penyelesaian natural ini membuat karya Panji ini terlihat bulat dan utuh.

Dear Agus, Wayan, dan Anda: “Rezeki itu tidak pernah pergi. Ia hanya menanti waktu yang tepat untuk kembali.”

Pemain: Muhammad Syihab, Dewi Wulandari, Iqbal Zuhda, R Maulana Daffa, Nina TamamSutradara: Eugene PanjiPenulis: SatrionoProduser: Eugene Panji, Ida Meliana, Meilany Adolfin RProduksi: Humanplus ProductionDurasi: 78 menit

Foto: Dok Humanplus

(wyn/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    429 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    699 respon
  3.  
    52 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    1.530 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    345 respon

Total Respon: 3.003
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft