Fri, 02 Mar 2012 18:20:26 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

“Negeri 5 Menara”, Sastra Motivasi, dan Filmnya

Yang berhasil pula dari film ini adalah atmosfir pesantren muncul sempurna.


“Negeri 5 Menara”, Sastra Motivasi, dan Filmnya

SEBELUM omong lebih jauh, jangan lupa siapkan tisu saat nonton film ini.

Bicara momen paling diingat dari film ini, Negeri 5 Menara, bagi saya adegan saat ayah Alif (diperankan David Chalik) menjual kerbau, memasukan tangannya ke dalam sarung menjabat tangan si pembeli dan saling tawar menawar adalah momen terbaik film ini.

Pertama, momen itu berhasil menonjolkan sebuah laku sosial khas sebuah masyarakat yang terasa unik bagi penonton lain yang bukan dari masyarakat tempat kisahnya berasal. Adegan itu memberi pengetahuan, oh begini toh bila orang Minang berjualan kerbau. Kedua, adegan kekayaan tradisi lokal itu tak sekadar jadi tempelan. Pada adegan berikutnya kita melihat sang ayah menjelaskan pada Alif (Gazza Zubizareta) tentang makna filosofis di balik jabatan tangan di dalam sarung. Kehidupan, pesan sang ayah, harus dijabat dulu alias dijalani.

Negeri 5 Menara asalnya sebuah novel sukses fenomenal. Pertama terbit tahun 2009, novel ini sudah terjual lebih dari 200 ribu eksemplar. Sukses novelnya menyusul sukses sejenis yang juga diraih novel-novel sejenisnya. Novel jenis apa?

Nah, ini dia. Pada awalnya adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbit pada 2005 dan sukses besar hingga dijuluki “Indonesia’s Most Powerful Book”. Mudah mencirikan novel berjenis ini: biasanya kisah semi-autobigrafis penulisnya, mengisahkan perjuangan hidup dari nol lalu menjadi orang sukses (biasanya berhasil sekolah ke luar negeri atau jadi kaya), serta isinya menghembuskan motivasi bagi pembacanya untuk meraih mimpi setinggi langit. Sukses Laskar Pelangi kemudian melahirkan sukses serupa bagi novel sejenis macam Negeri 5 Menara, 9 Summers 10 Autumns, atau Mimpi Sejuta Dolar.

Dalam tulisan kritik sastranya di Kompas (26/2), Sidik Nugroho menyebut muasal fenomena sastra motivasi lantaran “kecenderungan bangsa ini yang sedang keranjingan mendengar motivator berbicara lantang di televisi dan berbagai acara lain.”

Ya, salah satu fenomena mutakhir beberapa tahun ini adalah menjamurnya berbagai bentuk motivasi, entah dalam bentuk karya sastra (macam novel-novel sejenis Laskar Pelangi dkk) maupun orang-orang yang pandai berkata-kata memotivasi orang lain yang kita sebut sebagai motivator (macam Mario Teguh dkk).

Sehatkah fenomena itu? Tidak bila Anda membaca esai Sidik Nugroho di Kompas. Sastra ditulis tak sekadar menghibur (atau memotivasi), melainkan, seperti kata Sidik, “karena penulisnya ingin menjunjung tinggi estetika bahasa seraya menyajikan realitas zaman yang ia hidupi.”

Apalagi, terendus kisah motivasi kini bermotif tak hanya memotivasi pembacanya menjadi sukses seperti penulisnya. Contoh mutakhir adalah novel Anak Sejuta Bintang (ditulis Akmal Nasery Basral) yang menceritakan kisah inspiratif Aburizal Bakrie. Isinya sastra motivasi, tapi motifnya, meminjam sebutan Goenawan Mohamad di Twitter: sastra pilpres. Maksudnya, karya sastra pesanan yang diterbitkan sebagai bagian dari pembentukan citra menjelang pemilihan presiden. Yang ingin dikejar tak sekadar memberi inspirasi, tapi jangan-jangan juga sebagai alat kampanye.

***

Nah, Negeri 5 Menara ini masih dalam kemurniaannya sebagai kisah motivatif dan inspiratif.

Alif “menjabat” kehidupannya masuk pesantren Madani di Ponorogo, Jawa Timur. Awalnya sekadar menuruti perintah orangtua, tapi kemudian kita tahu ia jatuh hati pada kehidupan pesantren, menemukan persahabatan sejati, serta menemukan mantra “man jadda wajada” yang membuatnya termotivasi untuk melakukan hal secara sungguh-sungguhya bila ingin berhasil.

Inti kisahnya itu saja. Begitu juga filmnya. Lalu, kenapa pula harus siapkan tisu saat menonton?

Sebagai novel, Negeri 5 Menara telah berhasil menginspirasi pembacanya (terbukti dari kelarisannya). Tapi, sebuah film harus menawarkan hal lain dari sekadar motivasi. Ia harus berhasil sebagai bahasa visual.

Di sini, buat saya letak keberhasilan versi film Negeri 5 Menara yang dibesut Affandi A. Rahman dan skenarionya ditulis Salman Aristo. Bagi saya, film yang berhasil adalah film yang sukses menggiring emosi penontonnya seperti apa yang dimaui filmnya. Ketika sebuah film menyuguhkan nuansa romantis, perasaan penontonnya juga ikut terbawa oleh romantisisme di layar. Ketika film mnyuguhkan adegan tegang, penonton ikut tegang.

Negeri 5 Menara versi film menyusun bata demi bata kisah persahabatan “Sahibul Menara”, sebutan bagi Alif dan teman sekamarnya yang bersahabat erat di pesantren Madani. Kita diikat dulu pada persahabatan mereka. Bagaimana mereka berkenalan, berbagi saat minum susu.

Dan ah, terutama kita diajak ersimpati pada sosok Baso (Billy Sandy), anggota Sahibul Menara yang paling cakap baca Quran dan paling pandai di kelas. Saking fokus pada Baso, bahkan karakter Alif berada di bayang-bayangnya. Saat film menunjukkan bagian pondok Madani bukan Alif yang jadi bintang, melainkan Baso.

Apalagi Billy Sandy memainkan karakter Baso dengan baik. Hingga ia tampak lebih bersinar dibanding tokoh utamanya.

Usaha menonjolkan karakter Baso terbayar karena saat ia harus pergi meninggalkan pondok Madani tak urung kita ikut sedih seperti anggota Sahibul Menara yang lain. Nah, di saat ini Anda tak mungkin tidak membutuhkan tisu untuk menyeka air mata yang berlinang.

Bagi yang tidak membaca novelnya, kepergiaan Baso mengingatkan kita pada momen sejenis di film Laskar Pelangi (2008). Sedikit banyak, karakter Baso mengingatkan kita pada sosok Lintang, bocah pintar yang terpaksa putus sekolah hanya karena ia harus menjadi kepala keluarga di usia belia, mengurus adik-adiknya lantaran sang ayah tak pulang-pulang dari melaut.

Kita memang mudah dibuat sedih oleh ironi macam begini. Salman, yang juga nenulis skenario Laskar Pelangi, tampaknya paham betul momen mana yang kan menjadi emosional bagi penonton. Atas kejeliannya, ia patut diacungi jempol.

Yang berhasil pula dari film ini adalah atmosfir pesantren muncul sempurna. Tidak hanya karena film ini jadi film pertama yang syuting di pesantren gontor, melainkan tengok wajah-wajah pemainnya—terutama mereka yang baru kita lihat main film layar lebar—buat saya, wajah mereka khas.

Yang muncul di layar bukan figuran-figuran berparas ayu dan ganteng yang biasa kita lihat di sinetron bersliweran, tapi wajah-wajah khas yang bisa kita temukan di pesantren. Untuk keseriusan menyuguhkan atmosfir tersebut, angkat topi pada sineasnya.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    894 respon
  2.  
    1 %
    Eddies Adelia
    160 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    861 respon
  4.  
    42 %
    Dewi Sandra
    3.037 respon
  5.  
    9 %
    Rizty Tagor
    634 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    776 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    933 respon

Total Respon: 7.295
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft