Tue, 28 Feb 2012 18:49:30 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

“Dilema” yang Bikin Bingung

Dilema? Buat saya lebih pas disebut ironi.


“Dilema” yang Bikin Bingung

DILEMA. Dalam kamus kata ini diartikaan sebagai “situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan.”

Menonton Dilema tempo hari, saya juga menemukan diri ini pada posisi dilematis. Tidak menonton film ini sampai selesai, saya akan menilai filmnya secara tak adil karena saya tak menontonnya utuh. Menunggui film ini hingga selesai seperti menyiksa diri karena saya bingung mengikuti film ini mengalir tanpa juntrungan.

Film ini sepertinya dibuat dengan niat baik ingin jadi film besar mengangkat realitas Indonesia (atau, lebih tepatnya, Jakarta) yang kompleks. Kompleksitas realitas itu hanya bisa diangkat dengan meyajikan kisah multi plot macam yang sudah disuguhkan di Crash (mengangkat kompleksitas AS/Los Angeles yang terbagi-bagi dalam ras dan kelas) ataupun Babel (kompleksitas dunia antara negara miskin dan kaya di zaman “war on terror”). Atau yang bikinan anak negeri sendiri, Berbagi Suami (tentang fenomena poligami). Pada cerita pertama kita bertemu seorang detektif muda yang baru dipindahtugas ke Jakarta. Kita bertemu Ario (Ario Bayu), seorang polisi muda idealis yang harus bermitra dengan polisi senior Bowo (Tio Pakusadewo). Tampak jelas plot kisahnya meminjam cerita-cerita detektif dari film Hollywood. Tapi biarlah.

Kita seolah melihat Denzel Washington dan Ethan Hawke di The Training Day. Well, sebetulnya agak sulit dicerna akal melihat detektif lokal dengan tongkrongan plot Hollywood.

Di cerita kedua kita bertemu filmnya yang menyentil bangkitnya radikalisme agama di masyarakat. Sebuah masjid yang dianggap menjalankan Islam sesat, didemo golongan Islam garis keras. Kita tentu langsung mafhum bagian ini menyentil keberadaan Ahmadiyah yang ditentang sesama Muslim. Demo kemudian berujung bentrok. Usai demo Said (Winky Wiryawan) memberi jatah upah pada Ibnu (Baim Wong). Film ini hendak menunjukkan demo Islam radikal sebetulnya pesanan. Walau, tentu, di kalangan pendemo ada yang memang berdemo dengan tulus ingin menegakkan syariat Islam yang diyakininya.

Kisah ketiga tentang Dian (Pevita Pearce), gadis cantik anak orang kaya, yang tengah menikmati kesendirian di tepi pantai. Ia melarikan diri dari trauma rasa bersalah atas kematian ibunya. Di pantai, ia didekati Rima (Wulan Guritno) seorang lesbian yang mencekokinya dengan ecstasy.

Cerita kelima tentang Adrian (Reza Rahadian), seorang arsitek sukses yang di siang bolong menerima kenyataan kalau orangtuanya yang iakira tewas dalam kecelakaan ternyata masih hidup. Ayahnya bukan orang sembarangan. Tapi Sonny Wibisono (Roy Marten), mantan preman, penguasa Jakarta yang kini jadi pengusaha. Ia lebih dikenal dengan iniskialnya SW (mengingatkan Anda dengan seseorang berinisial “W” juga ‘kan?). SW sedang sakit-sakitan. Ia merasa hidupnya tinggal sebentar. Maka, ia mengutus Hetty (Jajang C. Noer) mendatangi Adrian mengundangnya ke rumah. Adrian hendak diwarisi kerajaan bisnisnya, baik yang legal maupun ilegal. Adrian menolak. Berontak, ia menodong pistol pada SW. Lalu pergi mengambil laptop yang (mungkin) berisi semua rekam jejak kejahatan SW.

Kisah ke-6 tentang penjudi gaek bernama Sigit (Slamet Rahardjo). Ia seorang pecundang. Berjudi kalah terus, ditinggal anak-istri, dan jam emas warisan keluarga terpaksa tergadai gara-gara kalah judi. Malam itu, ia mendatangi kasino gelap yang dikelola Gilang (Ray Sahetapy) demi merebut jam tangan emas warisan keluarga. Dan malam itu, tampaknya jadi malam keneruntungannya. Sampai serombongan polisi datang menyatroni. Salah satu polisi itu, Ario, ternyata anaknya sendiri.

Untuk disebut omnibus alias kumpulan film-film pendek dalam satu film panjang, rasanya kurang tepat. Memang masing-masing kisahnya dibuat sutradara berbeda. Adilla Dimitri, Robby Ertanto Soediskam, Rinaldy Puspoyo, dan Robert Ronny mengerjakan cerita masing-masing. Hasilnya kemudian disatukan dalam satu film. Tidak seperti omnibus lain yang satu cerita selesai berlanjut ke cerita lain, film ini meyajikan lima cerita sekaligus. Hasilnya, lima cerita berkelindan, berganti-ganti mengisi layar, membuat kita lelah mencerna apa maunya film ini hingga setengah film. Sebetulnya apa yang disajikan di layar adalah sebuah komentar atas kondisi masyarakat kontemporer kita. Kita melihat korupsi sudah merajalela. Polisi dengan mudah disogok. Radikalisme agama makan korban, dan mungkin pangkal soalnya adalah “demo” pesanan. Umat dimanfaatkan elit. Di saat radikalisme subur, tetap ada orag yang hidup hedonis, berpesta ria di pantai untuk lari dari kepahitan hidup. Tapi sayang berlari ke ujung dunia pun tampaknya tak bisa menghindar dari trauma rasa bersalah. Juga sentilan kalau Jakarta dikuasai bukan oleh pemerintah, melainkan preman merangkap pengusaha yang bisa membeli apa saja dan siapa saja. Bahkan persahabatan pun bisa dibelinya (tengok adegan penusukan di ujung film).

Saya harus angkat topi atas keberanian Wulan Guritno yang mengawali langkahnya sebagai produser dengan mengangkat tema besar dan berat macam Dilema ini. Namun, keberanian adalah satu hal, menyuguhkan film yang rapi adalah hal lain. Untuk poin kedua ini, Wulan dan rombongan sineasnya patut dikomentari.

Sebagai kisah multi-plot, film ini cukup berhasil mengangkat kompleksitas masyarakat kita. Hanya saja, karena ditangani banyak orang terasa betul film ini tak seiring sejalan.

Yang paling kentara, editing film ini kasar. Setiap segmen cerita seenaknya berganti-ganti. Penonton tak diberi kesempatan mencerna dulu cerita yang baru lewat, sudah diberi persoalan baru dalam cerita lain.

Belum lagi filmnya tak taat asas soal waktu. Kita melihat kisah polisi berlangsung dari pagi hingga malam. Kisah radikalisme agama berlangsung siang berlanjut ke esok hari, malamnya, lalu esok hari dan malam lagi. Begitu juga kisah cewek liburan di pantai, dari siang ke malam, ke siang, ke esok harinya. Kisah big boss Jakarta berlangsung siang, berlanjut ke esok hari, lalu esok harinya lagi saat Adrian datang ke kantor polisi. Cerita penjudi gaek berlangsung hanya sepanjang hari.

Dengan runutan waktu berbeda-beda di masing-masing kisah, film ini seenak udelnya menyelang-nyelingkan cerita seolah hendak menanamkan ke benak penonton semuanya berlangsung bersamaan. Seharusnya, di saat si A begini, si B, si C, dan si D sedang begitu di waktu bersamaan. Yang ini tidak. Di layar, di saat si A begini, si B, si C, dan si D sedang begitu di waktu yang berlainan.

Andai film ini dibuat lebih rapi, kompleksitas masyarakat kontemporer kita mungkin akan terekam lebih baik. Dan Dilema jadi film besar, bukan film yang membingungkan.

O ya, satu lagi, pesan saya, jangan buru-buru tinggalkan bioskop walaupun Anda begitu menginginkannya. Begitu nama-nama sutradara bermunculan di layar, masih ada potongan terakhir film yang menjelaskan nasib akhir pelakonnya.

Yang paling saya ingat di akhir film, wajah SW muncul mengisi layar. Anak perempuan maupun anak lelakinya sudah tiada. Ia sakit-sakitan. Tak ada keturunannya yang mewarisi kekuasaannya. Dilema? Buat saya lebih pas disebut ironi.

(ade/ade)

Images credit: WGE Pictures

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    28 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.379 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.543 respon
  3.  
    12 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    614 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.407 respon

Total Respon: 4.943
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft