Sat, 18 Feb 2012 00:29:42 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

"#republiktwitter" di Republik Twitter

Film ini lebih punya bobot lantaran tak berhenti dari sekadar kisah cinta.


"#republiktwitter" di Republik Twitter

SAAT menonton film ini, #republiktwitter, saya mengingat-ingat lagi apa yang membuat saya mencandu Twitter.

Sebelum kepincut dengan Twitter, saya jatuh hati pada Facebook, dan sebelumnya lagi pada Friendster.

Saya meninggalkan Friendster karena ada Facebook yang fitur-fiturnya lebih lengkap (tak hanya mengunggah foto, menulis catatan, atau menunggu testimoni orang.). Facebook mungkin lebih lengkap, tapi lama-lama membosankan. Twitter nyatanya lebih mengasyikkan.

Banyak yang bisa dungkap orang hanya dalam 140 karakter. Twitter pertama-tama jadi tempat mencurahkan apa yang ada di hati, dalam pikiran, atau sekadar mengabarkan sedang melakukan apa (makan apa, sedang di mana).

Namun, jika sekadar saling berkicau, tak beda dengan Facebook. Twitter bukan sekadar tempat eksis. Twitter mendasari pada mengikuti (follow) dan diikuti follower orang yang mungkin tak pernah kita temui. Beda dengan Facebook yang sejatinya, tempat kita selalu connect dengan orang-orang yang kita kenal, tahu kabar terbaru mereka dari status-status update maupun foto yang diunggah.

Konsep Twitter lebih asyik. Kita boleh mengikuti siapa saja maupun apa saja. Beitu juga sebaliknya. Kalau tak suka, tinggal block dan unfollow.

Saya, Anda, kita telah menjadi bagian dari Twitterland. Indonesia termasuk negara dengan pengguna Twitter paling aktif di dunia. Saat ini ada 19,5 juta jiwa penggunaTwitter di Indonesia (nomor 5 di dunia). Dari segi aktivitas, pengguna Twitter Indonesia menyumbang kontribusi 28 persen (juga di posisi ke-5 di dunia).

Dengan data tak terbantahkan itu, oleh dibilang Indonesia salah satu negara yang pas dijuluki Republik Twitter.

***

Meningat popularitas Twitter, memang tinggal menunggu waktu saja ada film yang mengangkat demam Twitter. Kini momen itu telah tiba. Setelah Facebook (I Know What You Did on Facebook, 2010) dan BlackBerry (My BlackBerry Girlfriend, 2011) sinema kita sekali lagi merespon sebuah fenomena di masyarakat kontemporer kita: #republiktwitter didedikasikan bagi Twitter.

Jika film Facebook dan VlackBerry lebih berupa kisah cinta (dan perselingkuhan) dengan gadget mauoun media sosial sebagai alat yang memudahkan hal itu terjadi, Kuntz Agus (sutradara) dan E.S.Ito (skenario) bergerak lebih jauh.

Sejak awal, film ini menyuguhkan gambar-gambar cepat memperlihatkan setiap orang menundukkan kepala, memijit handphone, main komputer atau laptop, seuanya berkicau di Twitter. Ah, ini persis iklan provider pulsa telepon genggam/internet.

Lebay? Iya. Tapi saya maafkan. Kisahnya diawali Sukmo (Abimana Aryasatya, sebelumnya main Catatan Harian Si Boy), pemilik akun @lorosukmo, mahasiswa tingkat akhir dari Yogyakarta, yang berniat ke Jakarta menemui Hanum (Laura Basuki), pemilik akun @DyahHanum, cewek cantik yang dikenalnya lewat Twitter, seorang wartawan junior majalah Lini Masa.

Saya mengira kisahnya hanya hanya akan berupa kisah cinta dari dunia maya lantas kopi darat,yang mungkin tak sesuai harapan, tapi pada akhirnya mereka saling cinta.

Ternyata ini bukan jenis komedi romantis macam itu. Kuntz dan E.S. Ito tak hendak membuat sekadar kisah cinta.

Film ini mengangkat Twitter sebagai sebuah fenomena sosial. Film ini tampak cerewet menjelas-jelaskan kegandrungan kita pada Twitter. Setiap karakter seperti diberi pesan untuk omong soal Twitter dan fenomenanya. Termasuk Ben Kasyafani (berperan jadi Andre, shabat Sukmo) yang diberi corong sebagai orang yang tak menggunakan Twitter dan pengkritik Twitter.

“Anak muda sekarang itu generasi menunduk,” keluhnya melihat banyak orang menundk sambil memijit handphone. Kali lain ia marah pada pacarny yang lebih asyik Twitter-an, “Kamu pilih aku atau follower-follower kamu?!”

Fenomena yang ditelisik #republiktwitter adalah kenyataan kalau sekarang Twitter bisa jadi alat merekayasa masyarakat. Sukmo bekerja di warnet yang kerjaan utamanya menciptakan sebuah isu lewat Twitter hingga isu itu jadi pembicaraan banyak alias trending topic.

Syahdan, kita bertemu pula dengan Kemal (Tio Pakusadewo), dengan seorang konsultan politik, yang ngin menggolkan seorang pengusaha kaya jadi kandidat gubernur Jakarta. Caranya, ia meminta Sukmo dkk membuat nama pengusaha itu jadi trending topic.

Dari sini cerita berkelindan dengan proyek berita investigasi yang digarap Hanum. Ia ingin mengangkat Twitter yang jadi alat rekayasa politik. Ide ini dicuri redakturnya, dan satu-satunya membuktikan ide itu miliknya dengan mendapatkan sumber berita yang langsung terlibat di dalamnya.

Sukmo kemudian jadi dewa penolong dengan menjadi sumber berita utama Hanum. Tapi, nama-nama yang seharusnya anonim malah pada akhirnya disebut saat majalah terbit.

Hubungan Sukmo dan Hanum kritis. Tapi kemudian Hanum memperbaiki kesalahannya. Ia membersihkan nama-nama orang yang memang tak bersalah dalam rekayasa politik ini.

***

Film ini memperlihatkan bangsa kita begitu adiksi dengan Twitter. Setiap orang tampak Twitter-an setiap waktu. Facebook bahkan sudah dianggap bak fosil. Bahkan muncul anggapan, “Suara rakyat itu suara Twitter.” Tokoh di film ini percaya perubahan yang terjadi di dunia berawal dari Twitter.

Saya teringat tulisan Malcolm Gladwell berjudul “Small Change” di New Yorker pada 4 Oktober 2010. Gladwell, penulis Tipping Point itu, meyakini revolusi di sebuah negara tidak terjadi karena kicauan di Twitter. Katanya, orang-orang yang berkumpul di sebuah lapangan untuk melakukan revolusi datang tidak sekonyong-konyong karena ada ajakan lewat Twitter dari orang yang tak dikenalnya. Katanya, tak ada yang pergi berdemo seorang diri. Pasti ia datang bersama orang lain, atau ada orang yang dikenalnya ikut berdemo juga.

Well, melihat data pula, dengan hanya 19,5 juta pengguna dibanding 230-an juta jiwa penduduk Indonesia rasanya lebay bila menyebut Twitter mencerminkan keinginan seluruh masyarakat.

Segala penggambaran yang begitu masif atas Twitter itu kemudian malah membuat film ini terasa sebagai sebuah eksagerasi alias melebih-lebihkan. Yang terasa di hati bukannya film ini mendekati kenyataan, melainkan terasa berlebihan untuk sebuah kenyataan alias to good to be true.

Meski lebay, saya tak hendak bilang filmnya jelek. Film ini lebih punya bobot lantaran tak berhenti dari sekadar kisah cinta. Untuk keberanian sineasnya mengangkat tema yang mungkin akan dianggap terlalu berat bagi penonton Indonesia yang lebih suka film pocong ini-pocong itu, saya angkat topi. Salut.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    356 respon
  2.  
    24 %
    Berhenti menjadi artis
    580 respon
  3.  
    51 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    1.250 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    270 respon

Total Respon: 2.456
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft