Fri, 10 Feb 2012 14:58:46 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Nonton Lagi “Ada Apa dengan Cinta?”, Sebuah Perayaan

Bagaimana rasanya nonton Ada Apa dengan Cinta? di bioskop setelah 10 tahun?


Nonton Lagi “Ada Apa dengan Cinta?”, Sebuah Perayaan

BIOSKOP penuh. Bangku terisi hingga baris terdepan. Begitu yang saya saksikan di bioskop 21 Blok M Square, Kamis (9/10) malam.

Dalam keremangan ruang teater, kami tersenyum, terbahak, terharu bersama.

Sepuluh tahun lalu, kami juga ke bioskop. Tempatnya beda-beda, tapi filmnya sama: Ada Apa dengan Cinta? Atau sering kita singkat AAdC.

Sepuluh tahun lalu kita menontonnya saat masih pakai seragam putih abu-abu, pulang sekolah langsung ke bioskop. Atau ada yang sudah kuliah, bolos demi nonton bareng geng di kampus. Ah, atau ada yang nonton bareng pacarnya waktu itu, yang sekarang sudah putus atau malah justru jadi pasangan hidup. Mungkin juga ada yang kala itu nonton dengan sahabat/mantan pacar/orang terkasih yang kini sudah tiada.

AAdC? Terbilang fenomena perfilman nasional di masa itu. Sepuluh tahun lalu harus antre untuk nonton film ini. Antrian mengular di lobi bioskop. Banyak yang tak kebagian tiket dan terpaksa beli untuk pertunjukkan berikutnya. Totalnya, sebanyak 2,7 juta penonton datang ke bioskop demi film ini. Di masanya, film ini yang pernah menjadi predikat yang terlaris.

Mulai Kamis kemarin, kami semua—bagian dari 2,7 juta itu maupun yang tak merasakan sensasi nonton AAdC? di bioskop kala itu—datang lagi ke bioskop demi film yang sama.

Sebetulnya, sangat mudah untuk nonton film ini. Bila susah mencari VCD/DVD originalnya, bajakannya mungkin masih ada di lapak-lapak penjaja DVD bajakan. Jika tak ketemu pun, cukup googling di Yahoo, ketik “Google” di Yahoo, masuk ke Google lalu ketik “Ada Apa dengan Cinta Download” (NB: semoga joke “googling di Yahoo” ini belum garing). Tersedia sejumlah situs yang menyediakan file film ini untuk diunduh. Ingat, beli bajakan dan download di internet ilegal sebetulnya.

Jika tak mau yang ilegal, Anda bisa nonton di TV, siapa tahu ada stasiun TV berbaik hati menayangkan film ini. Anda juga bisa nonton film ini setiap saat di YouTube. Ada entah siapa mengunggah lengkap film ini ke situs bagi-bagi video itu.

Tapi tidak, kami semua, walau sudah memilih cara-cara di atas untuk nonton lagi AAdC?, tetap memilih ke bioskop untuk nonton filmnya yang dirilis ulang oleh Miles Productions dalam rangka ultah 10 tahun. Kami ke sana bukan nonton film demi sebuah cerita yang tak kita ketahui awal dan akhirnya. Kami datang untuk bernostalgia. Kami ke bioskop untuk sebuah perayaan. Ibarat ada teman ultah dan kita datang memenuhi undangannya.

***

Mengapa AAdC? begitu disuka? Buat saya, AAdC? adalah sebuah film yang lengkap. Satu dari sedikit film yang bisa mempertemukan semua selera orang. Ada yang suka romantisme pasang-surut hubungan Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro wardoyo); ada yang merasa lekat dengan persahabatan Cinta dan geng-nya; yang, mengutip Cinta, “sok intelek” mengambil pelajaran ada nilai-nilai feminisme di film ini (saat wanita tak mau terkungkung terus budaya patriarki yang abusive [jadi korban KDRT] dengan memilih memutus tali atas budaya itu dan memilih mandiri) atau kenyataan, selewat 4 tahun Reformasi 1998, kita mulai merasakan bangsa ini tak beranjak jauh dari sebelum 1998 (masih ada teror dan stigma); filmnya juga mengenalkan dengan asyik pada sastra (puisi Rangga , Chairil Anwar, dan “Aku”-nya Sumandjaya).

Semua itu mendapat porsinya yang pas. Lagu-lagu gubahan Melly Goeslaw dan Anto Hoed dengan mulus menyelinap di antara adegan yang hidup. Begitu pun unsur komedinya. Milly, Mamet, atau Edi Brokoli yang kribo menggelitik urat tawa kita dan tak jatuh jadi konyol. Ah, dan bahkan judulnya segera jadi catchphrase yang enak didengar yang kemudian diambil jadi idiom populer untuk menyebut ini-itu, "ada apa dengan anu?" atau "ada apa dengan si fulan?" .

Mengandaikan filmnya sebagai teks, semua sub teks di film ini (dari persahabatan cewek, feminisme hingga unsur komedi dan politis) tak berusaha mencuri perhatian dari cerita tokoh utamanya: ada apa dengan Cinta? Apa yang membuatnya seperti itu?

Sebagai sebuah film yang lengkap, tak ayal kita mengingat momen-momen di film ini.

Kita teringat terus wajah Cinta yang berseri seolah sudah yakin namanya jadi pemenang lomba puisi lalu air mukanya berubah ketika nama Rangga yang disebut. Kita ingat momen saat geng Cinta menari di kamar sambil mendengar musik. Atau dialog-dialognya ("Salah gue? Salah temen-temen gue?") atau puisinya ("Pecahkan saja gelasnya biar ramai"; "Ku lari ke hutan..."). Pendek kata, setiap momen di AAdC? kita kenang. Keseluruhan filmnya sendiri adalah sebuah momen—wujud paripurna karya populer yang disuka semua orang. Ambisi artistik sineas bertemu dengan selera pasar nan komersil.

Dalam ulasan AAdC? sepuluh tahun silam, tabloid ini memuji dengan kata-kata berikut: “Krisis naratif yang menjadi stigma bagi film Indonesia kontemporer berhasil diredam sutradara Rudi Soejarwo dalam Ada Apa Dengan Cinta?. Dibekali skenario susunan Jujur Prananto (Rini Tomboy, Petualangan Sherina), Rudi yang alumnus sebuah sekolah film di San Fransisco ini bercerita dengan rapi tanpa kehilangan spontanitas, bahkan sesekali menyelipkan surprise. Pencapaian ini hanya dimungkinkan oleh kedisiplinan -- sebuah kosa kata yang oleh sebagian pekerja seni dianggap momok, padahal merupakan syarat untuk membuat karya yang baik.”

Menjelang pengujung ulasan, tabloid ini memberi sanggahan pada yang menyebut AAdC? sebagai “film mengenai generasi konsumtif.” Kata tabloid ini kala itu, “Dalam pengamatan Bintang, justru inilah film yang tidak menggambarkan remaja masa kini sebagai konsumtif, dangkal, nyerocos dalam bahasa Inggris, cekikikan, atau stereotype anak muda lainnya yang biasa temukan di acara teve dan media lain. Cinta dkk 'cuma' pengurus majalah dinding, bukan cheerleader. Dia tidak menenteng telepon genggam meski rumah orangtuanya mewah, dan pergi kencan cuma naik taksi. Energi remaja diwujudkan dalam simbol lain yang lebih samar dan sederhana, seperti warna pink -- warna favorit remaja putri -- di tas sekolah Cinta, juga di baju, dan kamarnya.”

Saat nonton film ini lagi semalam, saya dan beberapa kawan bertanya-tanya, apa di awal 2000-an telepon genggam belum umum. Melihat rumah mewah keluarga Cinta atau kesan anak gaul kawan-kawannya, mereka seharusnya mampu membeli handphone walau di tahun itu belum umum dipakai. Atau mungkin ini pesan terselubung sineasnya untuk tidak menjadi remaja konsumtif yang terpengaruh tren gaya hidup. Remaja juga bisa terlihat cool dengan suka puisi, hobi baca buku.

***

Saat film berakhir, spontan kami bertempik sorak. Riuh tangan bertepuk memenuhi ruang teater. Pesta ulang tahun usai bagi kami. Giliran penonton lain yang merayakannya di jam pertunjukkan berikutnya.

Di lobi bioskop sejumlah penonton berfoto dekat poster besar AAdC? yang dipajang di salah satu sudut. Ya, kami tak sekadar menonton film. Tapi juga merayakan kenangan atas sebuah film. Rangga, Cinta, terima kasih atas undangan ultah kalian...

** Ditulis sambil mendengar lagu “Kesepian Kita”, Pas Band featuring Tere.

NB: Saking sukanya kami pada Ada Apa dengan Cinta? (AAdC?), film itu berkali-kali masuk daftar "Top List" versi kami. Kami menempatkan AAdC? dalam 25 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Untuk ukuran 20 tahun terakhir, AAdC? masuk daftar 20 Film Nasional Paling Fenomenal. Chemistry Rangga dan Cinta yang begitu hidup kami sebut sebagai salah satu Chemistry Paling Berkilau dalam Sinema Indonesia. Posternya juga masuk 20 Poster Film Terbaik pilihan wartawan kami. Adegan baca puisi di AAdC? juga jadi nomor wahid daftar 10 Adegan Paling Dikenang Era 2000-an. Temukan semuanya dengan mengklik tautan dari kami.

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    587 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    972 respon
  3.  
    51 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    2.204 respon
  4.  
    12 %
    Pindah ke luar negeri
    517 respon

Total Respon: 4.280
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft