Fri, 30 Mar 2012 16:08:28 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

“The Hunger Games”, Reality Show Maut Rasa Remaja

Yang ditonjolkan bukan tentang detil bagaimana para remaja saling bunuh, tapi perjuangan seorang anak manusia untuk bertahan hidup.


“The Hunger Games”, Reality Show Maut Rasa Remaja

SAAT membuat film, sejatinya, sineas dihadapkan pada sebuah pilihan. Apa yang tersaji di layar adalah hasil akhir pilihannya.

Menonton The Hunger Games tempo hari, makin terang benderang kalimat di atas. Andai sineasnya mau, The Hunger Games bisa menjadi sebuah film yang brutal, penuh kekerasan sadistis. Karena kisahnya tentang remaja yang ikut kontes “reality show” bertarung hingga mati.

Tapi tidak, sineasnya tak memilih menafsirkan novel Suzanne Collins tersebut dengan cara begitu. Sesuai hakikatnya sebagai novel remaja, The Hunger Games versi film juga ditujukan bagi penonton remaja.

Saya katakan remaja, bukan anak-anak. Di awal film, juga novelnya, ada pesan tersirat kisahnya tak cocok bagi anak di usia di bawah 12 tahun. Yakni saat Katniss Everdeen (Jennifer Lawrance), jagoan kita, menggantikan adiknya, Primrose, yang berusia 12 tahun, untuk mengikuti ajang tahunan The Hunger Games.

Kisah The Hunger Games membayangkan di masa depan, pasca perang besar, sebuah negara bernama Panem berdiri—dengan kota Capitol yang megah sebagai pusatnya. Setelah pemberontakan besar usai, sebagai bagian dari kesepakatan damai pasca perang, ke-12 distrik yang mengelilingi Capitol diwajibkan mengirim 2 remaja (usia 12-18 tahun) untuk mengikuti ajang bernama “The Hunger Games”. Para remaja itu, disebut “tribute”, totalnya berjumlah 24, ditempatkan di rimba belantara buatan, dijadikan tontonan, mengikuti “reality show” tak sekadar bertahan hidup tapi juga harus saling bunuh hingga muncul satu pemenang saja. Yang menang mendapat kemahsyuran, tinggal di Capitol yang berlimpah kekayaan. Dengan latar seperti itu film ini didasarkan. Di Distrik 12, nama Primrose disebut dalam undian. Sadar adiknya takkan sanggup bertahan hidup, Katniss maju menggantikan sang adik.

Sejatinya, ini adalah pesan yang empunya, kisah remaja baku hantam hingga ajal tetaplah bukan tontonan bagi anak di bawah usia 12 tahun.

***

Lantas, jika isinya remaja saling bunuh, kenapa pula filmnya ditujukan bagi remaja?

Mari menelisik sejenak sejarah rating sensor untuk film remaja. Awalnya, di tahun 1980-an, saat edar film Indiana Jones and the Temple of Dooms karya Steven Spielberg serta Gremlins (Spielberg, sebagai eksekutif produser), para orangtua protes karena 2 film itu mendapat rating sensor PG (parental guidence) yang berarti anak-anak boleh nonton tapi dengan bimbingan orangtua. Banyak orangtua protes karena film itu mengandung banyak kekerasan yang tak cocok ditonton anak-anak.

Kepada persatuan distributor film MPAA, Spielberg kemudian mengusulkan rating baru PG-13 atau PG-14, bagi film-film yang mengandung muatan dewasa, tapi belum pas untuk dikategorikan rating R (restricted) atawa di bawah usia 17 tahun harus didampingi orang dewasa. Akhirnya, pada 1 Juli 1984, MPAA mensahkan rating sensor baru PG-13 yang resminya mendefenisikan film di kategori ini sebagai “Parents Are Strongly Cautioned to Give Special Guidance for Attendance of Children Under 13 – Some Material may be Inappropriate for Children Under 13.”

Untuk The Hunger Games, mengecek situs imdb, rating PG-13 yang diperolehnya diberikan penjelasan “for intense violent thematic material and disturbing images--all involving teens.” Film ini punya tema kekerasan, penggambaran kekerasan yang akan mengganggu bila ditonton anak-anak, serta semuanya melibatkan remaja.

Yang menarik, kenapa pula filmnya tak sampai dapat rating R atau NC-17, terlarang bagi siapa saja di bawah usia 17 tahun?

Saya teringat film Jepang Battle Royale (2000) karya Kinji Fukasaku. Sebanyak 42 murid SMA dikirim ke sebuah pulau terasing oleh pemerintah Jepang yang fasis untuk bertarung hingga mati. Para murid diberi satu tas berisi senjata yang bisa mereka gunakan. Di pulau itu mereka saling bunuh, demi selamat. Adegan bunuh-bunuhan di film ini begitu sadis. Darah muncrat memenuhi layar. Di banyak negara, Battle Royale diberi rating sensor hanya boleh ditonton di atas usia 18 tahun. Bukan saja visualisasi yang sadistis, tapi memang sungguh mengganggu rasa nyaman melihat para remaja seolah kerasukan setan membunuhi teman-teman mereka sendiri.

The Hunger Games punya kisah mirip Battle Royale. Temanya mungkin sama-sama tentang remaja saling bunuh. Tapi Collins, sang penulis novelnya, dan Gary Ross, sutradaranya, sadar kisah yang mereka suguhkan juga ditujukan bagi remaja. Yang lebih ditonjolkan The Hunger Games kemudian bukan tentang detil bagaimana para remaja saling bunuh, tapi perjuangan seorang anak manusia untuk bertahan hidup.

Memang ada darah muncrat. Tapi sedikit. Ada adegan laga, tapi tak menyita perhatian. Banyak remaja yang mati, tapi lebih banyak yang tak dimunculkan di film. Kita, penonton, lebih banyak diminta membayangkan bagaimana mereka mati.

Buat saya, The Hunger Games malah lebih pas disebut kritik sosial atas suguhan reality show yang mewabah di masyarakat kita. Film ini berpesan, segalanya adalah tontonan demi menaik simpati pnonton. Tengok bagaimana para peserta The Hunger Games dijadikan tontonan. Atau momen Katniss dipermak Cinna (Lenny Kravitz), penata busananya, demi menarik simpati. Tengok pula “cinta” Katniss dengan Peeta (Josh Hutcherson) yang lebih terasa sebagai tontonan. Bukankah cinta di reality show macam dipertontonkan mereka akrab kitya saksikan dalam reality show macam AFI, Penghuni Terakhir, dan entah apa lagi?

***

Ingat pula, sejak awal Hollywood memang tak ingin menyuguhkan sesuatu yang kontroversial dan meniatkan film ini sebagai tontonan remaja. The Hunger Games adalah mainan baru Hollywood untuk meraup banyak uang dari penonton remaja. Cerita Harry Potter sudah tamat, sedang Twiilght tinggal satu film tersisa. Hollywood butuh franchise yang membuat pundi-pundi uang mengalir terus ke kantung mereka. Setelah beberapa kali mencoba menghidupkan novel-novel remaja atau fantasi laris tapi hasilnya flop ketika difilmkan, The Hunger Games jadi pertaruhan paling akhir Hollywood. Beruntung hasilnya menggembirakan (di pekan pertama meraup untung AS$ 155 juta!).

Dua novel lanjutan The Hunger Games dipastikan bakal difilmkan. Dan jangan berharap bakal sesadis Battle Royale. Hollywood tak seberani itu.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan, "Happy Hunger Games, and may the odds be ever in your favor!"

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    27 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.479 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.731 respon
  3.  
    13 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    681 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.539 respon

Total Respon: 5.430
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft