Thu, 09 Feb 2012 14:47:08 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

10 Film Jurnalistik Pilihan

Dalam rangka hari pers nasional yang jatuh 9 Februari, kami memilih film-film jurnalistik pilihan.


10 Film Jurnalistik Pilihan

WARTAWAN rasanya salah satu profesi paling asyik di bumi. Tak percaya? Cobalah jadi wartawan dan rasakan asyiknya.

Jika tidak asyik, Hollywood pasti ogah membuat film bertema kewartawanan. Nyatanya, Hollywood menghasilkan sejumlah film wartawan yang asyik. Menonton film-film ini Anda pasti kepincut dengan asyiknya kerja jurnalistik.

Bagi Anda yang ingin jadi wartawan, harap tonton dulu film-film ini. Bagi yang sudah jadi wartawan, film-film ini bisa jadi pegangan maupun pembangkit semangat kerja kewartawanan. Dalam rangka hari pers nasional yang jatuh saban 9 Februari, kami memilih film-film jurnalistik pilihan.

1. All The President’s Men (1976)Sejak skandal Watergate terjadi di tahun 1974, bahasa Inggris (Amerika) punya kosakata akhiran baru. Setiap skandal yang melibatkan pemerintah AS pasti diberi akhiran “gate” di belakangnya. Presiden Reagan punya Iran-gate. Clinton punya Zipper-gate saat skandal cintanya dengan Monica Lewinsky muncul ke publik. Alan J. Pakula merunut lagi investigasi duo wartawan Washington Post, Bob Woodward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman), atas skandal yang ujungnya membuat Presiden Richard Nixon mengundurkan diri itu. Inilah cerita detektif paling seru yang detektifnya bukanlah polisi, melainkan wartawan. “Follow the money,” kata sumber anonim mereka, Deep Throat. Woodward dan Bernstein mewawancarai banyak orang hingga memelototi kartu perpustakaan di perpustakaan yang menggunung.

2. The Killing Fields (1984)Film ini dikenang orang bukan sebagai film tentang kewartawanan, melainkan tentang bagaimana kekejaman rezim Polpot membantai rakyatnya sendiri di Kamboja pertengahan tahun’70-an lampau. Tapi buat saya, film ini adalah kisah sejati persahabatan antara wartawan New York Times dan penerjemahnya, Dith Pran, ditengah kekacauan Kamboja saat itu. Saya paling haru pada saat Pran (Haing S. Ngoor) dibuatkan foto untuk paspornya—agar ia bisa keluar dari Kamboja. Saya tak bisa lupa bagaimana exciting-nya Pran difoto, lalu kemudian wajahnya hilang dari kertas foto karena gagal dicetak. Sementara itu, sang wartawan New York Times malah peroleh hadiah Pulitzer berkat laporannya yang dikerjakan bareng Pran, di saat sahabatnya itu disiksa lahir batin di ladang pembantaian.Beruntung film ini berakhir manis, dengan lantunan lagu “Imagine”-nya John Lennon. Ah, what a scene…

3. Under Fire (1983)Bayangkan ini: foto gerilyawan Che Guevara yang ikonik itu (yang terus-terusan direproduksi jadi poster, mug hingga kaos) dibuat saat Che sudah meninggal. Tentu kejadiannya tak begitu. Film ini bukan berkisah tentang Che, meski saya merasa betul tokoh pemberontak Rafael diambil dari Che. Alkisah, di Nikaragua akhir 1970-an, pemberontak Marxis gerilyawan Sandinista tengah berjuang menggulingkan pemerintahan Samoza yang pro AS. Kontan Nikaragua jadi gula bagi wartawan yang datang menyemut. Termasuk fotografer handal, Russell Price (Nick Nolte). Di tangah perang, Price dihadapkan pada pilihan sulit. Ia diminta pemberontak memfoto Rafael yang sudah mati, kelihatan hidup agar perjuangan bisa diteruskan. Jurnalisme yang mengagungkan fakta dan kejujuran tentu mengharamkan itu. Tapi ini bukan lagi soal jurnalisme atau berita eksklusif, tapi nasib puluhan juta rakyat Nikaragua…

4. Shattered Glass (2003)Muda, pintar, berbakat, dan….. pembohong besar. Itulah Steven Glass (Hayden Christensen), wartawan cemerlang dari majalah New Republic, majalah bergengsi yang jadi bacaan resmi di Air Force One, pesawat kenegaraan presiden AS. Siapa sangka, banyak berita berbobot yang ditulisnya adalah hasil rekaan—entah semua atau separuhnya. Film ini mengajarkan kita dengan baik bagaimana kebohongan bisa menjadi adiksi.

5. The Insider (1999)60 Minutes, acara berita liputan mendalam di stasiun TV CBS, punya reputasi tinggi di AS sana yang hasil liputan-liputannya tak hanya jarang terlampaui oleh media sejenis, tapi oleh media apapun (cetak, online atau lainnya). Tapi, suatu kali mereka juga pernah keseleo. Film ini merekam saat-saat 60 Minutes yang terhormat itu, membiarkan sumber beritanya terkatung-katung sendirian. Para petingginya memilih tak menyiarkan berita soal kecurangan petinggi perusahaan rokok guna menghindari tuntutan. Ya, memang tak ada gading yang tak retak. Tapi kadang retakan gading itu justru yang akan dikenang terus…

6. Welcome to Sarajevo (1997)Wartawan yang diterjunkan ke medan konflik pastilah menemukan dilema. Ia jadi saksi bagaimana nyawa manusia begitu mudah melayang diterjang peluru. Tapi, apa iya sang wartawan yang hadir di sana hanya jadi saksi saja, lalu memberitakannya pada dunia, dan melenggang pulang seolah tak terjadi apa-apa? Wartawan juga manusia. Ia punya hati nurani. Film ini memerlihatkan saat-saat wartawan memakai hati nuraninya. Seorang wartawan Inggris (diperankan Stephen Dillane), tak hanya memberitakan konflik Perang Bosnia-Serbia yang diliputnya. Ia juga ikut menyelamatkan anak-anak yang terjebak di tengah perang. Seorang di antaranya, ia adopsi dan dibawa pulang ke Inggris. 7. Salvador (1986) Wartawan yang mendapat kemahsyurannya hanya sedikit. Sebagian besar wartawan hanya jadi pekerja rutin yang mencari berita lalu menulis laporannya. Sisanya jadi pecundang. Ini kisah sang wartawan pecundang Richard Boyle (James Woods) saat Reagan baru saja menang pemilu menggantikan Jimmy Carter. Boyle wartawan yang sulit mencari kerja. Ia pemabuk, pemadat, dan lebih sering teler ketimbang memotret objek beritanya. Oliver Stone mengangkat kisah Boyle saat bertualang ke El Salvador bersama kawannya (Jim Belushi). Negeri yang tengah dirundung konflik ini pernah didatanginya dulu. Ia punya kenalan pejabat di sana--juga istri dan anak. Dipikirnya, ia bisa kembali menjual berita di sana. Tapi pejabat penindas rakyat--termasuk pada keluarga istrinya--memaksanya tak bisa tinggal diam. Ia meracau bahkan menyudutkan sang pejabat. Inilah pelajaran penting Salvador buat saya. Wartawan berperangai kacau pun punya hati nurani, mampu menentukan mana yang benar dan salah.

8. War Photographer (2001)Kamera (film) mini ditempatkan di kamera (foto) milik James Nachtwey, fotografer handal yang hasil fotonya menghiasai lusinan majalah berita dari Eropa hingga Amerika. Walhasil, kita, penonton, melihat apa yang Nachtwey lihat saat memotret. Kita telah jadi mata kameranya. Yang berarti pula mata sang fotografer. Momen yang ditangkap Nachtwey, itu pula yang kita lihat.Nachtwey melintasi negeri, pergi dari satu daerah konflik ke daerah konflik lainnya. Dari bekas reruntuhan perang Bosnia sampai Indonesia. Sebagai fotografer perang, nyawanya sering terancam (sahabatnya tewas di dekatnya saat bertugas). Inilah film yang memerlihatkan foto-foto menawan dari daerah perang yang kita lihat di majalah sambil menyeruput kopi atau makan keripik, hadir berkat taruhan nyawa sang juru foto.

9. The Hunting Party (2007)Berita eksklusif harus didapat. Itu motto setiap wartawan. Di Bosnia pasca perang, yang eksklusif adalah saat Anda bisa mewawancarai penjahat perang yang diburu tentara internasional. Tapi, bagaimana bila pada kenyataannya tentara internasional—termasuk AS yang biasanya getol mengecam kejahatan HAM—justru membiarkan penjahat perang bebas berkeliaran. Itulah premis utama film ini. Wartawan perang veteran (Richard Gere) yang sering mengacau, sahabatnya yang telah hidup lurus dan meraih jabatan (Terrence Howard), plus wartawan bau kencur menyusuri belantara bekas pecahan Yugoslavia demi mencari si buronan. Saat akhirnya mereka “menemukan”-nya, sang wartawan veteran perang mengambil sikap: ini bukan lagi urusan jurnalistik, tapi semacam pembalasan dendam. Adegan terakhir saat buruannya “dilepas” tak bisa hilang dari ingatan saya.

10. Almost Famous (2000)“Honey, you’re to sweet for rock and roll…” begitu ucapan seorang groupie (diperankan Kate Hudson) pada William Miller (Patrick Fugit), wartawan amatir, masih SMA, pemalu, kutu buku, tapi fans berat rock and roll (dari koleksi musik milik kakaknya yang kabur dari rumah). Miller yang baik-baik semula hanya mendengar musik rock lalu menghayatinya dalam-dalam. Namun, bukan begitu caranya menikmati musik anti kemapanan itu. Rock and roll bukan sekadar genre musik. Ia tak hanya untuk didengar. Tapi juga dilakoni. Kesempatan melakoni gaya hidup rock and roll dirasai Miller saat berkesempatan ikut tur keliling sebuah band untuk laporan yang diminta majalah Rolling Stone. Ia jadi saksi jatuh-bangun band itu berikut bagaimana kehidupan nyata anak band. Pada akhirnya, buat saya, Almost Famous tidak hanya salah satu film paling penting tentang rock and roll, melainkan juga sebuah film tentang kewartawanan yang tak boleh dilewatkan.

(ade/ade)

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    662 respon
  2.  
    1 %
    Eddies Adelia
    113 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    665 respon
  4.  
    42 %
    Dewi Sandra
    2.290 respon
  5.  
    9 %
    Rizty Tagor
    473 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    604 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    710 respon

Total Respon: 5.517
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft