Tue, 23 Aug 2011 16:30:25 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Menengok Wali Songo di Film

Yuk, bernostalgia dengan film-film Wali Songo.


TERSEBUTLAH seorang bocah priyayi bernama Raden Mas Said. Ia tercenung melihat keluarga miskin kelaparan. Merasa iba, bocah ini menolong. Ia mencuri makanan dari lumbung persediaan keluarganya.

Namun, perbuatan itu justru mendatangkan malapetaka bagi sang bocah. Ayahnya, Tumenggung Wilarikta--petinggi Majapahit (adipati) di Tuban--memergokinya. Sang ayah murka. Radern Mas Said dihukum sekap di gudang itu.

Kita tahu, sejak itu Raden Mas Said malah jadi tak betah di rumah. Ia berkelana, melihat sendiri begitu banyak kesengsaraan diderita rakyat. Melapor ke ayahnya, ia malah dianggap menyebar fitnah. Akhirnya, Raden Mas Said bertindak jadi "maling budiman", yakni merampok orang kaya korup untuk dibagikan pada orang miskin.

Itulah salah satu episode kehidupan Raden Mas Said yang tersaji dalam Sunan Kalijaga (1984), film pertama yang mengangkat Wali Songo ke layar lebar.

Dalam telaahan kritikus film Eric Sasono di makalahnya saat diskusi Pembaruan Islam dalam Film di Komunitas Salihara belum lama ini, Sunan Kalijaga termasuk ke dalam film yang mengajukan tema pembaruan Islam. Film ini, dicatat Eric, terbagi menjadi dua bagian yang nyaris tak berhubungan. Bagian pertama adalah kisah Raden Mas Said ketika belum masuk Islam. Sedangkan bagian kedua adalah ketika ia sudah menjadi Sunan Kalijaga dan menyebarkan ajaran Islam.

Perpindahan bagian pertama ke bagian kedua dimulai saat Raden Mas Said (setelah dewasa diperankan Deddy Mizwar) berjumpa dengan Sunan Bonang dan membuatnya insyaf, sekaligus menjadi guru. Dalam sebuah momen yang terkenal, Sunan Bonang menancapkan tongkatnya di tanah, dan meminta Raden Mas said menunggui tongkat itu di pinggir sungai. Penantian panjang di pinggir sungai itu--dari mulai tongkat jadi ular hingga lumut dan akar menyelimuti tubuh--membuat Raden Mas Said memperoleh nur, cahaya Ilahi. Tapanya bertahun-tahun memberinya gelar Sunan Kalijaga.

Sutradara dan penulis Sofyan Sharna memilih versi bertapa di tepi sungai sebagai asal usul Sunan Kalijaga di filmnya dibanding versi lain. Legenda bertapa di kali memang memungkinkan eksplorasi visual lebih seru ketimbang, misalnya, ada juga yang menulis, Kalijaga diambil dari sebuah desa di Cirebon tempat sang sunan pertama berdakwah. Versi lain malah menyebut Kalijaga semata lidah Jawa yang terpeleset melafalkan bahasa Arab qadi zaka, yang berarti pelaksana dan membersihkan.

Toh, pilihan bertapa di kali ini disambut. Dalam catatan Katalog Film susunan JB ristanto, Sunan Kalijaga sukses besar. Filmnya jadi yang terlaris nomor dua di Jakarta pada 1984 ditonton lebih dari 500 ribu penonton. Plus meraih 6 nominasi FFI termasuk untuk Film Terbaik dan Aktor Terbaik (Deddy Mizwar)--meski hanya dapat 1 piala, Poster Terbaik.

Penyakit produser film kita yang pedagang dari dulu, melihat dagangan orang lain laku, maka dibuatlah film sejenis. Setahun setelah Sunan Kalijaga sukses, film Wali Songo lain bermunculan. PT Inem Film memproduksi Sunan Gunung Jati. Sedang PT Tobali Indah mengajak PT Empat Gajah Film mebuat sekuel Sunan Kalijaga berjudul, Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar.

Raam Soraya,lewat perusahaannya Soraya Intercine Films, memproduksi Sembilan Wali. "Film yang sudah ada cuma menceritakan satu wali. Lewat Sembilan Wali, kami ingin film yang lebih lengkap lagi," kata Raam pada Gatra di edisi 22 Desember 2001. Para bintangnya pun kelas atas dan tokoh terkemuka masa itu. Guruh Soekarnoputra didapuk jadi Sunan Muria. Jga ada tokoh NU Kyai Yusuf Hasjim sebagai Sunan Gresik. Penyanyi Alfian sebagai Sunan Gunung Jati, dan penari Sardono W. Kusumo sebagai Sunan kalijaga. Bujet Sembilan wali terbilang amat mahal untuk ukuran masa itu, Rp 600 juta.

Masalahnya, kenyataannya, sembilan wali tak hidup sezaman, saling bercakap, dan duduk di masjid yang sama. Sebab, ketika Sunan Bonang lahir, misalnya, Sunan Ampel sudah berusia 64 tahun. Catatan sejarah juga menunjukkan, ketika Sunan Gunung Jati lahir, Sunan Gresik--alias Maulana Malik Ibrahim--sudah wafat 29 tahun sebelumnya.

Tapi, di awal film Sunan kalijaga, misalnya, kita melihat kesembilan wali berjalan beriringan keluar dari Masjid Demak.

Selain itu, film-film Wali Songo lebih menekankan pada sisi action. Walau isinya berisi dakwah verbal, penggunaan tipuan optik menggambarkan kesaktian para wali diberi porsi berlebih. Begitu juga bagian perang kolosal. Di tahun 1980-an, film yang laku kalau bukan film silat atau horor ya, film seks. Maka, film Wali Songo harus diimbuhi adegan action--karena tak mungkin disisipi horor dan seks.

***

Belum lama ini saya kembali menonton salah satu film Wali Songo, Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar (1985). Yang paling mencuri perhatian saya di awal film ini saat para wali berdiskusi melihat kemerosotan moral dan kemiskinan rakyat Majapahit. Sunan Kudus (Kusno Sudjarwadi) mengusulkan memberontak pada Majapahit. Tapi Sunan Kalijaga (Deddy Mizwar) menentangnya dan mengatakan tidak sepatutnya pemimpin (baca: pemerintah) dilawan.

Menengok kalau film ini sudah direstui Departemen Agama (di awal film disebutkan ucapan terima kasih pembuatnya pada pemerintah), jelas bagian itu berpesan agar rakyat tidak melawan pemerintahan Orde Baru dan bila tetap melakukannya--bisa dimaknai--melanggar agama.

Soal Syech Siti Jenar (di film ini diperankan Ratno Timoer) sebetulnya hanya diceritakan sedikit. Film ini memilih versi kisah yang sudah tersebar luas. Siti Jenar diceritakan berasal dari cacing tanah yang secara ajaib berubah jadi manusia. Siti Jenar sang cacing tanah mencuri dengar petuah sang wali saat berada di perahu dan menyerap ilmunya.

Seperti Wali songo, Siti Jenar kemudian juga menyebarkan agama Islam, mendirikan pondoknya, dan memiliki murid. Suatu kali, seorang sunan mendapati murid Siti jenar memamerkan kekuatan sihir (menyusun telur di udara). Hal ini memaksa sang sunan mengadu kesaktian dengan murid Siti Jenar. Sang sunan berhasil membuat telur-telur itu menetas.

Tentu, bagian paling menentukan dari kisah Siti Jenar adalah saat ia mengajarkan pandangan manunggaling kawula gusti. Pandangan ini merumuskan bersatunya Tuhan dalam tubuh hamba-Nya. Ujung-ujungnya pandangan ini meyakini, karena Tuhan dan hamba sudah bersatu dalam satu tubuh, maka ia adalah Tuhan.

Di film, Sunan Kalijaga yang mendengar pandangan kawula-gusti ini saat memergoki padepokan Siti Jenar. Sunan Kalijaga kemudian membawa persoalan itu ke majelis para wali. Diputuskan, Siti Jenar harus datang untuk disidang.

Seperti cerita yang sudah sering dikisahkan, Siti Jenar akhirnya dihukum pancung.

***

Untuk sampai ke adegan itu, muncul adegan Sunan Kalijaga membuntuti Siti Jenar hingga ke dalam tanah. Siti Jenar membuat penghalang, tapi bisa ditembus Sunan Kalijaga. Ujung-ujungnya keduanya malah saling sapa, mengucap salam. Lalu, ada juga adegan anak-anak kecil bersila mendengar seorang kakek (bukan wali) menceritakan pendapatnya soal pengadilan Siti Jenar. Saat seorang anak bertanya, "Kanjeng Syech Siti Jenar itu sesat apa tidak?"

Dijawab si kakek, "Allah lah yang Maha Tahu."

Pada akhirnya, film ini bermain aman, menyerahkan penafsiran sesat-tidak-sesat pada penonton. Dikatakan bermain aman karena bagaimana pun hingga kini pengikut Syech Siti jenar terus ada. Makamnya, berada di dua tempat yang dipercaya tubuhnya dibaringkan, terus dikunjungi peziarah.

Filmnya juga tak memilih bersimpati penuh pada Siti Jenar. Film ini, misalnya, tidak memperlhatkan sebuah riwayat yang mengisahkan setelah kepala Siti jenar terpenggal, seperti dilukiskan lagi Goenawan Mohamad dalam salah satu Catatan Pinggirnya, darah mengalir dalam beberapa warna. Kepala yang tercopot itu kemudian tertawa. Ia berseru agar darahnya segera kembali ke tubuh. Maka darahnya pun cepat mengalir balik ke urat nadi, dan bercaknya tak tampak lagi.

Setelah itu, kepala Jenar mengitari jasadnya tiga kali, dan akhirnya bertaut kembali ke tubuhnya. Tak ada bekas luka. Bahkan cahaya paras Siti Jenar berpendar dan mengucap salam: "Assalamualaikum."

***

Menarik juga kenapa film ini memilih Sunan Kalijaga sebagai "lawan" Syech Siti Jenar. Karena, di riwayat lain, konon Sunan Kudus, di hadapan para wali dan pembesar Demak, yang memancung Siti Jenar, pada suatu hari Jumat di abad ke-15, di halaman masjid keraton, setelah salat selesai.

Kita tahu, dalam penyebaran Islam di Jawa, Sunan Kalijaga, wali kesembilan, yang paling berhasil. Ia dianggap berhasil membuat agama Islam dipenuhi warna lokal (baca: Jawa). Dalam dakwahnya, Sunan kalijaga memakai ikon-ikon lokal sepeti wayang maupun syair Jawa. Islam rasa Jawa lahir berkat jasa Sunan Kalijaga.

Sementara itu, pandangan tasawuf Syech Siti Jenar rupanya klop juga dengan masyarakat Jawa. Zoetmulder dalam disertasi filsafatnya--yang dikutip Seno Gumira Ajidarma (2007)--soal Siti Jenar menyebut hubungan Siti Jenar dengan tasawuf Al-Hallaj hanya sampai pada tingkat kemiripan.

Menurut Zoetmulder, ide-ide Siti Jenar justru dipengaruhi ide-ide India. Dikatakan Seno, ajarannya serasi dengan suatu bagian dari kisah tradisi Hindu, Arjunawiwaha saat Bhatara Indra dalam wujud resi tua menyampaikan ajaran kesempurnaan pada Arjuna yang sedang bertapa.

Kita mafhum, sebelum Islam jadi agama dominan, Hindu menjadi agama terbesar di Jawa. Ketika lokalitas dihormati dalam penyebaran agama seperti dilakukan Sunan Kalijaga dan pengajaran agama baru ternyata mirip dengan yang lama seperti dilakukan Jenar, sejatinya yang dipertontonkan adalah perang ideologi. Meminjam teori ideologi Antonio Gramsci, pemikir Marxis Italia, lewat film ini, dua ideologi Islam-Jawa dipertentangkan dan bertarung menjadi ideologi dominan.

Siapa pemenangnya? Mengutip kakek di penutup film ini saya ingin menjawab, "Allah lah yang Maha Tahu." ****

(ade/ade)

Iklan

Lihat Wajah Baru MSN

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    13 %
    Tetap menjadi motivator
    708 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    1.206 respon
  3.  
    52 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    2.706 respon
  4.  
    12 %
    Pindah ke luar negeri
    637 respon

Total Respon: 5.257
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft