Sun, 28 Apr 2013 07:18:00 GMT | By Editor Wayan Diananto, tabloidbintang.com

Cerita di Balik Layar "Cinta Brontosaurus" Raditya Dika

Tahun ini milik Raditya Dika (28). Ada tiga film yang melibatkannya: Manusia Setengah Salmon, Cinta Dalam Kardus, dan Cinta Brontosaurus (CB)


Cerita di Balik Layar "Cinta Brontosaurus" Raditya Dika

BISA jadi, tahun ini milik Raditya Dika (28). Ada tiga film yang melibatkannya: Manusia Setengah Salmon, Cinta Dalam Kardus, dan Cinta Brontosaurus (CB).

Film yang disebut terakhir akan edar di bioskop 8 Mei mendatang. Selain Dika, CB melibatkan beberapa nama besar seperti Meriam Bellina, Dewi Irawan, Bucek Depp, dan Tyas Mirasih. Fajar Nugros, yang angkat nama lewat drama apik Queen Bee, didapuk duduk di kursi sutradara.

Mengapa Harus Brontosaurus?Proyek CB direncanakan tahun lalu. Produser Starvision, Chand Parwez Servia, membocorkannya kepada Fajar ketika pascaproduksi film Cinta Di Saku Celana (CDSC) di Bangkok. Nama sutradara sudah ditetapkan. Fajar pun tidak berminat mengarahkan film ini karena merasa ia bukan orang yang lucu. Cenderung menye-menye.

Sepulang dari Bangkok, Fajar dan istri, Susanti Dewi, menonton pertandingan sepak bola Piala AFF di Gelora Bung Karno, Jakarta. Di tengah pertandingan ia ditelepon Parwez. "Hai Fajar, mau tidak mengarahkan film CB?" sapa Parwez dari ujung telepon.

Hal pertama yang dirasakan Fajar, khawatir. Ia teringat, dulu ketika mengerjakan film CDSC, cerita yang awalnya slapstik dieksekusi Fajar menjadi drama beraroma black comedy. Ia tidak ingin mengulang hal yang sama. "Kamu baca dulu naskahnya," Parwez meminta.

Hal lain yang kemudian melegakan Fajar, skenario CB tidak 100 persen berhubungan dengan buku yang lebih dulu terbit. Film ini mengisahkan proses Dika memfilmkan buku dan alasan menulis buku itu. Inti cerita film ini soal keyakinan laki-laki terhadap pasangannya. Dari kecil sampai remaja, Dika setiap kali jatuh cinta selalu ditolak cewek. Kalau toh diterima, umur hubungan ini tidak panjang.

Dika sampai pada kesimpulan, tidak ada yang abadi bahkan cinta sekalipun. Cinta bisa kedaluwarsa. Itu sebabnya pada masa puber, kita mengenal istilah "cinta monyet". Film ini memperkenalkan konsep cinta yang lebih besar, lebih tahan lama, dewasa, dan penuh keyakinan. Namanya, Cinta Brontosaurus. Mengapa tidak gajah? Mengapa harus brontosaurus? Hal itu yang akan dijelaskan di film.

"CB salah satu dari sekian banyak judul cerita dalam buku. Sejak awal, Dika sudah berkicau di lini masa, film ini bukan tentang bukunya tetapi bagaimana buku itu difilmkan. Followers Dika mulai memahami. Saya yakin terhadap tema keyakinan di film ini. Makin dibuat drama, film ini makin lucu. Kondisi para pemainlah yang membuatnya lucu. Bukan karena slapstik," Fajar menukas. Syuting CB dimulai Januari selama 14 hari di Depok, Cinere, dan Cibubur.

14 Hari, 138 "Scene"Syuting 2 minggu menghasilkan 138 scene. Dika adalah faktor penting sekaligus memudahkan kinerja Fajar di lokasi syuting. Si Kambing Jantan itu menulis buku sekaligus mengerjakan skenario. Rangkap jabatan ala Dika membuatnya tahu kemana film ini akan melangkah. Ia tahu apa yang harus dikerjakan di lokasi syuting dan bagaimana menghidupkan karakter paling vital.

Scene sebanyak 138 itu, kata Fajar, tidak ada yang dibuang. "Semua adegan penting. Dialog antarpemain dan suasana chit-chat disunting di meja penyunting. Paduan dua elemen ini penting karena di situlah letak kelucuannya. Syuting CB sangat seru dan berkesan. Ada banyak fakta unik di dalamnya," sambungnya.

Dan inilah lima fakta unik dari lokasi syuting CB.

1. Adegan paling susah, ketika Dika bertemu produser yang ingin memfilmkan bukunya, Mr. Soe Lim. Mr. Soe terkenal dengan film-film horor. Setiap film horor milik Mr. Soe harus divisualkan Fajar. Masalahnya, Fajar sangat penakut. “Saya ogah kalau harus syuting di kuburan, bertemu dengan figuran yang jadi pocong atau suster ngesot. Latar kuburan disiasati dengan teknik green screen. Apalagi saya ingat betul syutingnya waktu itu Kamis alias malam Jumat!” akunya.

2. Ini kali pertama Fajar mengarahkan Meriam Bellina. Jam terbang tidak bisa dibohongi. Mer memerankan Mama Jessica, pemelihara monyet. Meski hanya empat scene, Mer memberi saran bagaimana karakter Mama Jessica dikembangkan. Saat take, monyet itu mencakar leher Mer. "Mbak Mer tidak mengeluh karena kamera masih rolling. Begitu saya teriak 'cut', barulah monyet itu dilepaskan dari gendongannya lalu kami tahu insiden pencakaran itu. Yang membuat saya kagum, tanpa banyak bicara, Mbak Mer berinisiatif menelepon dokter tanpa menyusahkan kru. She is great actress!" demikian Fajar terkesan.

3. Monyet yang tampil di CB wangi dan bersih. Ia dikawal dokter khusus.

4. Director of photography Yadi Sugandi tampil empat scene di layar sebagai Uwa Andi. Cameo lainnya, Tyas Mirasih, Joe "P Project", dan Moammar Emka.

5. "Rumah sang produser, Chand Parwez Servia, dijadikan lokasi syuting untuk latar perkantoran. Saat itu, Pak Parwez sedang di Singapura," bocor Fajar. Wow!

(wyn/adm)

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    706 respon
  2.  
    2 %
    Eddies Adelia
    124 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    711 respon
  4.  
    42 %
    Dewi Sandra
    2.464 respon
  5.  
    8 %
    Rizty Tagor
    498 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    637 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    753 respon

Total Respon: 5.893
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft