Wed, 27 Feb 2013 18:45:45 GMT | By Editor Panditio Rayendra, tabloidbintang.com

Warm Bodies: Kisah Zombie yang Lebih Hangat dari Cinta Vampir

Warm Bodies jelas bukan "Twilight for zombies". Ini kisah cinta antara zombie dengan manusia yang tak hendak menjual romantisme unyu.


Warm Bodies: Kisah Zombie yang Lebih Hangat dari Cinta Vampir

WARM Bodies itu Twilight versi zombie.

Itu kurang lebih keterangan yang saya dapat dari tiga orang berbeda yang aktif menonton film. Sebagai alay pemuja The Twilight Saga, dan selalu menonton reguler di hari pertama setiap film yang diangkat dari novel Stephenie Meyer itu rilis di Jakarta, saya tak sabar menantikan Warm Bodies (WB) rilis di Indonesia.

Maka pada Selasa (26/2), saya bergegas ke bioskop untuk menyaksikan show pertama film yang diangkat dari novel karya Isaac Marion ini.

Ternyata, bayangan "Twilight versi Zombie" yang sudah melekat di otak saya lenyap seketika. Adegan pembuka langsung depresif. Memperlihatkan sebuah kota yang sebagian wilayahnya dihuni zombie. Ditunjukkan juga bagaimana mereka makan organ tubuh manusia, termasuk otak. Tidak vulgar, tapi cukup menjijikkan dan membuat saya stres, khususnya selama 20 menit pertama. Sekaligus menyadarkan saya WB tak hendak menjual romantisme unyu.

Alkisah, sebuah virus mengubah beberapa penduduk sebuah kota di Amerika Serikat menjadi zombie, yang membunuh dan memakan manusia. Kisah hidup zombie yang tinggal di bandara terbengkalai ini dituturkan melalui narasi zombie imut bernama R (Nicholas Hoult, di kehidupan nyata adalah mantan pacar Jennifer Lawrence).

Suatu hari, sekelompok anak muda bersenjata menerobos area yang sudah dikuasai zombie. Mereka hendak mengambil stok obat di sebuah gedung yang terletak di area tersebut. Kelompok ini bertemu R dkk yang sedang "cari makan." Tentu saja terjadi pertempuran antara dua pihak ini.

Dalam kesempatan itu, R terpesona pada Julie (Teresa Palmer), putri kolonel yang ibunya mati dibunuh zombie. Sebagai perlindungan diri, R membunuh Perry (Dave Franco), kekasih Julie. Dalam kondisi terdesak dan ditinggal teman-teman manusia, Julie yang ketakutan diselamatkan R. Cowok yang hampir selalu memakai jaket merah maroon ini kemudian menyuruh Julie pura-pura jadi zombie dan mengajaknya tinggal di pemukiman zombie.

Julie ketakutan setengah mati. R berusaha mengulur waktu dengan berbagai alasan agar Julie lebih lama tinggal bersamanya di bangkai pesawat. R sedikit demi sedikit memakan otak Perry. Dengan cara ini R bisa lebih "hidup." Dengan memakan bagian otak, R bisa merasakan dan melihat memori semasa hidup orang yang dibunuhnya. Dalam hal ini, R bisa melihat sejarah hidup Perry, termasuk masa-masa indahnya dengan Julie.

Hari berganti hari, Julie lama-lama nyaman dengan R. Tapi sebagai manusia normal, dia tetap ingin tinggal di habitatnya dan bertemu kolonel Grigio (John Malkovich).

***

Premis WB mungkin sama dengan Twilight: laki-laki dan perempuan beda "alam" yang jatuh cinta. Namun WB tampil lebih humanis dan realistis. Entah apakah di novelnya memang begitu (coz I simply don't read), atau karena penulis skenario dan sutradara film ini Jonathan Levine, yang mendapat pujian saat menyutradai 50/50-nya Joseph Gordon Levitt.

Meski aslinya imut, zombie R tampil dengan pakaian compang-camping, muka berantakan, dan mulut belepotan darah. Sungguh berbeda dengan prince Edward Cullen yang tampil kinclong di setiap pemunculan.

Cara jalan R (dan zombie-zombie lain), khas dan cenderung konyol. R is definitely not a perfect prince-typical. He's just clumsy-clueless-guy, eh, zombie next door. Still charming in his own way, though.

Julie, karakter utama perempuan, juga bukan tipe cewek labil seperti Bella Swan. Alih-alih ingin diubah jadi zombie, Julie malah melakukan segala cara untuk bisa pulang ke dunianya, meski ia tak menampik perasaan nyaman setelah beberapa hari tinggal bareng R.

Saat kondisi memisahkan keduanya, Julie tidak lantas galau duduk di depan jendela sampai empat musim berganti seperti Bella. Menumpahkan kekagumannya, ia bercerita soal perkenalannya dengan R pada Nora (Analeigh Tipton). Lumrah dilakukan cewek, cerita ke besties-nya saat sedang jatuh cinta. Lho, kok saya jadi membandingkan dengan Twilight? Hehehe... semata-mata ingin mengingatkan saja, WB bukanlah film romantis yang mengharu biru.

Chemistry yang dibangun Hoult dan Palmer cukup menggetarkan. Namun bukan itu yang diekspos, karena kisah percintaan ini dibagi rata dengan nuansa komedi dan horor yang cukup kuat.

Adegan-adegan lucu seperti Julie menirukan gaya jalan zombie, dan saat R dirias agar tak terlalu pucat saat berbaur dengan manusia, dijamin membuat senyum-senyum sendiri. Komplit, deh. Dari yang awal dibuat jijik, tegang, tertawa, sampai tersentuh, "dapet" semua.

(ray/ade)

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    14 %
    Tetap menjadi motivator
    428 respon
  2.  
    23 %
    Berhenti menjadi artis
    698 respon
  3.  
    52 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    1.525 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    344 respon

Total Respon: 2.995
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft