Sun, 15 Jul 2012 10:05:50 GMT | By Editor Julian Edward, tabloidbintang.com

Setelah RBT Hilang dan Pemasukan Nagaswara (Juga Label Lain) Merosot Drastis

Setelah RBT tak lagi bisa diandalkan, apa senjata label rekaman menangguk untung?


Setelah RBT Hilang dan Pemasukan Nagaswara (© Juga Label Lain)

Oktober 2011, masyarakat ramai berkeluh tentang fenomena pencurian pulsa. Aktivasi layanan premium berlangganan hingga ring back tone dituding sebagai biang kerok.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengambil upaya tegas dengan menghilangkan seluruh layanan tersebut secara massal. Sayang, langkah ‘potong ranting’ itu membuat label rekaman rugi besar dan berujung bangkrut. Insan musik menyebut tragedi ini sebagai ‘Black October’.

Kira-kira lima tahun terakhir, di tengah maraknya pembajakan kaset dan CD, ring back tone (RBT) menjadi angin surga bagi label dan musisi. Musisi kompak merilis single -- bukan lagi album --dengan harapan RBT lagu tersebut laris di pasaran. Kehadiran RBT mendongkrak pemasukan label rekaman yang tak lagi berharap pada penjualan kaset dan CD.

Label Nagaswara menggantungkan peruntungan di industri musik nasional lewat fenomena RBT. Masih ingat dengan prestasi band Wali yang unduhan RBT-nya mencapai 20 juta aktivasi hanya dalam hitungan bulan? Atau Kerispatih dan juga Zivilia saat meraih jutaan aktivasi RBT hanya berbekal satu single saja, “Aishiteru”. Sekarang, coba ingat-ingat lagi, penyanyi atau band apa yang tiga bulan terakhir meraih prestasi serupa? Tidak ada.

“Ketika BRTI mengambil kebijakan itu, kami kehilangan bakul nasi kami. Selama ini, RBT menjadi harapan satu-satunya pemasukan bagi label. Kaset dan CD asli tidak laku karena ada bajakan. Sejak RBT di-restart ulang, kami tidak tahu lagi harus berbuat apa,” tutur pemilik Nagaswara, Rahayu Kertawiguna. Ia merasa terpukul dengan keputusan BRTI, mengingat selama ini Nagaswara dikenal sebagai label pendulang aktivasi RBT.

Padahal, lanjut Rahayu, BRTI seharusnya bisa mengambil kebijakan yang adil. “Bila selama ini ada content provider yang nakal dengan mencuri pulsa, harusnya dia yang dihukum, jangan semua label kena imbasnya. Saya percaya, label seperti Nagaswara, Sony Music, Musica, Trinity dan lainnya bekerja dengan jujur. Tapi kenapa kami kena getahnya juga,” cetus Rahayu. Karena keputusan BRTI, kini pemasukan Nagaswara hanya tersisa 15 sampai 20 persen saja.

Rahayu gamblang membuka nominal aktivasi RBT yang diperoleh artis-artis Nagaswara, band Wali misalnya. Sebelum Black October, unduhan RBT Wali bisa mencapai 300 ribu aktivasi dalam satu hari. “Sekarang, dapat 7 ribu aktivasi per hari saja sudah syukur,” tandas dia. Pemasukan yang merosot ini tidak mencukupi biaya operasional Nagaswara, termasuk biaya promosi dan maintenance artis.

Apalagi, Nagaswara dikenal sebagai label dengan jumlah musisi terbanyak, yaitu 400 band dan solois. “Bayangkan, dengan artis yang kami miliki, biaya promosi jadi sangat besar. Awalnya saya mencoba bertahan meski defisit. Tapi lama-lama pusing juga. Kini Nagaswara siaga satu,” imbuh Rahayu. Sepanjang 2012, tak pelak grafik keuangan Nagaswara menukik jatuh.

(jul/adm)

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    27 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.479 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.731 respon
  3.  
    13 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    681 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.539 respon

Total Respon: 5.430
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft