Sun, 26 Aug 2012 17:40:56 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

5 Film Terbaik dan Terburuk Stallone

Apa saja film-film terbaik dan terburuk dari Sylvester Stallone?


5 Film Terbaik dan Terburuk Stallone

SYLVESTER Stallone. Nama itu sudah demikian akrab dan banyak orang tumbuh sambil menonton film-filmnya.

Pertama ia menarik perhatian kita lewat Rocky di tahun 1976. Film peraih Oscar tahun 1976 itu memberi tiket menjadi bintang. Sebagai petinju bernama Rocky Balboa, Stallone mampu meyakinkan kita jagoan bisa datang dari seorang yang tak pernah diperhitungkan alias underdog.

Kemudian, di paruh terakhir 1970-an dan awal 1980-an, Stallone bermain di Rocky 2 dan 3 serta Nighthawks yang makin menegaskan dirinya sebagai bintang aksi.

Tapi, adalah perannya sebagai veteran Perang Vietnam yang pulang kampung, John Rambo di First Blood (1982) yang membuat namanya berkibar ke seantero jagad. Sukses film itu meneguhkan Stallone tak hanya sebagai bintang tapi juga sebuah ikon.

Rambo kedua dan ketiga kemudian dijadikan Hollywood sebagai “duta besar” untuk mengekspor nilai-nilai Amerikanisme ke penjuru planet bumi. Di Rambo II (1985), Stallone memporak-porandakan Vietnam seolah membalas kenyataan sejarah Amerika kalah perang di Vietnam; sedang di Rambo III (1988), Stallone membantu kaum Mujahiddin Afghanistan mengusir Uni Soviet sebagai pesan Amerika berhasil menang atas Soviet di kancah Perang Dingin. Jangan lupa juga, Rocky, sambil mengenakan celana pendek bermotif bendera Amerika, berhasil mempecundangi petinju Soviet, Ivan Drago (diperankan Dolph Lundgren) di Rocky IV (1985).

Sebagai ikon, film-film yang dibintangi Stallone ditunggu setiap penggemarnya di seluruh dunia. Mereka tak peduli kebanyakan film-filmnya sebetulnya terbilang buruk. Sampai-sampai di pengujung tahun 1990-an, lembaga yang saban tahun menyerahkan Razzie Awards (Oscar-nya film-film jelek) menobatkan Stallone sebagai “Aktor Terburuk Abad 20” untuk “95 persen yang sudah dikerjakannya.”

Selewat era 2000-an, Stallone seolah bangkit. Ia sadar namanya masih jadi ikon. Ia sadar banyak orang masih ingin menontonnya (dan kawan-kawannya sesama bintang aksi era 1980-an) demi untuk bernostalgia dengannya. Maka lahirlah The Expendables pertama (2010) dan kedua (2012) sebagai “The Avengers”-nya bintang-bintang laga.

Sambil menyambut The Expendables II yang tengah edar di bioskop, ini saat tepat untuk menengok lagi film-film Stallone. Pemeringkatan ini kami salin dari situs Metacritic yang mengumpulkan 5 film terbaik dan terburuk Stallone berdasarkan penilaian para kritikus film Amerika.

Well, perlu saya ingatkan, film-film di bawah mungkin terbilang film yang Anda sukai saat dulu menontonnya. Saya pun begitu. Saat nonton The Specialist di bioskop dulu, waktu itu saya masih SMA, saya terbilang menyukai aksinya (dan adegan hot-nya bareng Sharon Stone, meski digunting). Dan, ah, soundtrack-nya yang gegap gempita dinyanyikan Gloria Estefan tetaplah jadi soundtrack yang paling dikenang generasi 1990-an. Tapi, menonton lagi setelah makin “melek film” terasa filmnya memang over-acting.

5 Film Terbaik Stallone

5. Ciffhanger (1993)Salah satu peran terbaik yang pernah dimainkan Stallone justru saat ia tak memanggul senjata, menembaki pejahat di negeri orang ataupun di negeri sendiri. Di Cliffhanger, Stallone membuktikan film aksi tak melulu berisi pistol dan senapan menyalak ataupun bom meledak. Sebagai pendaki gunung pun, Stallone bisa meyakinkan kita sebagai bintang aksi. Memerankan Gabe Walker, karakter yang punya masa lalu traumatis dan harus mengalahkan rasa bersalahnya, Stallone menunjukkan pada kita, ia tak sekadar aktor yang bisa memainkan peran yang itu-itu saja. Meski kita percaya pada akhirnya ia tetaplah jagoan yang akan selalu menang, ia meyakinkan kita kemenangannya itu tak diraih dengan cara mudah. Penggarapan Renny Harlin dan karakter jahat yang dimainkan John Lithgow membuat Cliffhanger salah satu film aksi-thriller paling dikenang dari era 1990-an.

4. First Blood (1982)Ditonton lagi, peran pertama Stallone sebagai John Rambo sejatinya bukanlah film aksi biasa. First Blood atau Rambo pertama, bukanlah sekadar kisah jagoan menembaki penjahat yang mengepungnya di hutan. Bahkan, tak jelas betul siapa jagoan dan siapa penjahat di film ini. Stallone sebagai Rambo adalah veteran perang yang pulang kampung tapi menemukan negerinya tak bisa menerimanya. Ia ditangkap polisi tanpa alasan, disiksa, lalu amarahnya bangkit. Satu peristiwa berujung ke peristiwa lain hingga tak ada jalan balik (point of no return) kecuali polisi memburu Rambo; dan Rambo mempertahankan hidupnya di hutan memerangi orang-orang yang memburunya. Tema veteran perang yang tak bisa beradaptasi dengan kehidupan normal ini terasa terus relevan saat Amerika tak kunjung berhenti mengirim warganya ke medan perang. Selepas Vietnam, ada Perang Irak I, perang melawan teror di Afghanistan dan Perang Irak II.

3. Rocky Balboa (2006)Sebuah film Rocky bagi masyarakat pasca 9/11. Bahkan setelah 30 tahun dan 5 film Rocky, Stallone masih mampu memberi nafas baru bagi karakter Rocky Balboa yang mengangkat namanya jadi bintang di tahun 1970-an lampau. Sudah menggantungkan sarung tinju dan hidup sendiri, Rocky mendapati dirinya sekali lagu harus masuk ring, melawan petinju muda yang butuh pembuktian diri sebagaimana dirinya dulu. Sempat disinisi sebagai cara Stallone meraup untung dari nostalgia akan sosok Rocky, film ini ternyata disukai kritikus dan penonton kebanyakan. Stallone memberi sentuhan manis bagi penutup kisah hidup Rocky, petinju terhebat di jagad film.

2. Cop Land (1997)Pada suatu masa, Stallone lelah melulu dianggap tak bisa akting selain menghajar atau menembaki lawan-lawannya. Hasilnya adalah Cop Land (1997), sebuah pembuktian dari Stallone. Di film ini, Stallone membuktikan pada kita bisa menjadi lawan akting yang sepadan bagi Robert DeNiro dan Harvey Keitel. Meski di film ini ia tetap tampil jadi jagoan yang tak diperhitungkan (underdog) atau tepatnya “perlu dikasihani”, Stallone menunjukan karakternya tak sesederhana peran-perannya terdahulu. Sebagai Freddy Heflin, sheriff kota kecil yang penduduknya kebanyakan polisi korup, Stallone berada di simpang jalan antara menegakkan kebenaran atau membiarkan kejahatan berlangsung tanpa ia peduli. Kita tahu jalan mana yang kemudian diambil Stallone. Tapi untuk ke situ, ia tak mengandalkan ototnya ataupun aksinya, melainkan kepandaiannya berakting. Sesuatu yang langka untuk ukuran Stallone. Dan karena itu ini salah satu film terbaiknya.

1. Rocky (1976)Ini film yang memulai segalanya. Stallone menulis sendiri kisahnya dan berperan sebagai Rocky Balboa, seorang petinju underdog yang akhirnya menjadi jawara. Kisah sentimentil perjuangan seorang anak manusia dari bawah ini akhirnya tak cuma memenangkan hati juri Oscar (meraih Film Terbaik Oscar 1976) tapi terutama penonton kebanyakan. Stallone berakting begitu meyakinkan kita, entah saat di ring tinju maupun saat memperjuangkan cintanya, dan ketika ia memenangkan pertarungan tanpa sadar kita ikut bertempik sorak. Inilah resep jitu Hollywood yang disuguhkan dengan baik oleh Stallone dan sutradara John G. Avildsen. Saking jatuh cintanya kita pada Rocky, Stallone menyuguhkan 5 kisah lanjutannya dan kita tonton semua, meski terus terang, tak semua kita suka.

5 Film Terburuk Stallone

5. The Specialist (1994)Setelah sukses Cliffhanger dan Demolition Man yang asyik, sayangnya Stallone kembali berperan dalam film-film aksi murahan yang membuat namanya tenar di tahun 1980-an. Meski menawarkan aksi ledakan spektakuler, tak banyak yang ditawarkan film ini selain para bintangnya yang seolah sadar kamera dan siap berpose setiap saat. Stallone di sini berperan sebagai ahli bom Ray Quick yang setuju membantu May Munro (Sharon Stone) yang mendendam pada orang-orang yang membunuh orangtuanya. Stallone dan Stone mungkin dianggap pasangan hot yang pas beradu akting. Tapi, yang terjadi di layar Stallone dan Stone seolah tampil dalam video klip sepanjang dua jam. Tanpa jiwa, kecuali sedap dipandang mata. Hal Hinson dari Washington Post dengan sinis namun tepat menyimpulkan film ini dengan kata-kata berikut: "With all the preening, posing and stretching, it's hard to know if 'The Specialist' is an action movie or an exercise video. Or a porn movie without the sex." Sedikit ralat, adegan seks Stallone dan Stone di bawah pancuran cukup bikin panas-dingin, dan itu sebabnya film ini tetap menghibur.

4. Driven (2001)Memasuki era 2000-an, Stallone sadar dirinya makin tua dan memposisikan dirinya sebagai pria berpengalaman yang menjadi mentor bagi yang lebih muda. Syahdan, kembali kerja bareng sutradara Cliffhanger Renny Harlin, Stallone cukup menulis ulang plot yang sebelumnya ia suguhkan untuk Rocky V. Mengganti ring tinju dengan arena balap mobil, Stallone berperan sebagai mentor bagi pembalap muda berbakat namun sulit dikendalikan. Sayang, plot usang, adegan balap yang dibantu komputer grafik seadanya, plus akting buruk Burt Reynolds dan Gina Gershon membuat film ini tak memenangkan hati siapapun, baik kritikus maupun khalayak penonton.

3. Get Carter (1997)Bagaimana membuat ulang sebuah film klasik yang sebetulnya tak perlu dibuat ulang? Stallone di sini sekadar membuat ulang film aksi-kriminal klasik yang dulu dibintangi Michael Caine dengan menambahi bumbu ala kadarnya. Saat adiknya terbunuh, Jack Carter (Stallone), seorang pembunuh bayaran langganan mafia, pulang kampung mencari tahu siapa dalang pembunuhan dan mengapa adiknya dibunuh. Yang kemudian tersaji, filmnya sekadar tampak dibuat lebih bergaya (ingat nuansa biru gelap dan buram yang mewarnai film ini) dan jadi aksi balas dendam nan generik. Film ini menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih cerdas bagi penonton kontemporer—sesuatu yang berhasil dilakukan Liam Neeseon yang jadi jagoan uzur di Taken tempo hari.

2. Rhinestone (1984)Sulit membayangkan mensandingkan Sylvester Stallone dan Dolly Parton dalam satu layar adalah gagasan yang bagus. Namun, buktinya Rhinestone tetap dibuat—dengan poster konyol Stallone dan Parton adu panco. Kisahnya pun sekadar menulis ulang cerita film klasik My Fair Lady dipadu jagad musik country. Rhinestone kemudian adalah sebuah bencana, memboyong Stallone meraih nominasi dan memenangkan piala pertama Razzie Awards sebagai Aktor Terburuk (di film ini ia menyanyi!). Sejak Rhinestone, Stallone kemudian akrab dengan Razzie Awards (totalnya ia 29 kali dinominasikan dan meraih 10 di antaranya, paling banyak di antara aktor lain hingga ia dijuluki “Aktor Terburuk Abad Ini” pada akhir 1990-an.)

1. Stop! Or My Mom Will Shoot! (1992)Sekali lagi, pasti ada yang merasa ide bagus menggabungkan seorang bintang aksi yang ternyata takut pada ibunya sendiri. Ironisme komikal ini memang berpotensi mendatangkan tawa sekaligus tontonan laga, seolah membuat filmnya dirasa lengkap mencampur aksi dan komedi. Tapi di sisi lain, filmnya juga berpotensi terlihat konyol. Dan itulah kemudian yang terjadi pada film ini. Stallone di kemudian hari mengakui menyesal telah main di Stop! Or My Mom Will Shoot! karena ia anggap film itu merusak kariernya. Sebuah piala Razzie diraih Stallone untuk film ini. Ya, tak terbantahkan, seperti diakuinya sendiri, Stop! Or My Mom Will Shoot! adalah momen terburuk dalam kariernya.

(ade/ade)

Iklan

poling hiburan

Film apa yang kalian tunggu di awal 2014?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    27 %
    Captain America 2 - 4 April 2014
    1.496 respon
  2.  
    32 %
    Amazing Spider-Man 2 - 2 Mei 2014
    1.758 respon
  3.  
    13 %
    Godzilla - 16 Mei 2014
    690 respon
  4.  
    28 %
    X-Men: Days of Future Past - 23 Mei 2014
    1.559 respon

Total Respon: 5.503
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft