Wed, 18 Aug 2010 14:48:57 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

10 Film Aksi Era 1980-an Paling Top

Kami ingin mengajak Anda bernostalgia menengok lagi film-film aksi (dan juga beladiri) dari era 1980-an.


10 Film Aksi Era 1980-an Paling Top

ERA 1980-an boleh dibilang zamannya film aksi. Para jagoan berotot banyak mengisi layar. Lewat film aksi pabrikan Hollywood itu, Amerika ingin mengatakan bahwa mereka adalah negara adi daya penguasa tunggal dunia.

Waktu itu Perang Dingin dengan Uni Soviet masih berlangsung. Maka, Amerika merasa perlu menanamkan ideologi mereka lewat film-film aksi itu. Tidak peduli meski filmnya soal karate (The Karate Kid) atau ninja (American Ninja) yang jelas-jelas punya negara lain, Amerika pemenangnya. Belum lagi plot yang kerap isinya tentara/jagoan Amerika mengobrak-abrik negeri asing jadi pahlawan sendirian.

Secara kualitas film-film aksi masa itu kebanyakan buruk. Tapi di sini juga anehnya. Walau buruk orang tetap suka. Bahkan memunculkan istilah "So bad it's good—saking buruknya malah bagus" dan jadi cult film generasi kini. SEkarang, Sylvester Stallone mengajak kita bernostalgia ke era itu lewat The Expendables. Ia mengumpulkan beberapa jagoan dari tahun 1980-an. Nah, menyambut film itu kami ingin mengajak Anda bernostalgia menengok lagi film-film aksi (dan juga beladiri) dari era 1980-an.

10. Above the Law (1988)Film ini beredar di bioskop Indonesia dengan judul pendek: Nico. Diambil dari nama jagoannya, Nico Toscani diperankan Steven Seagal. Jika sebelumnya Hollywood hanya kenal karate, kung fu, atau ninja dari Timur, Seagal mengenalkan aikido, ilmu beladiri yang bergerak lembut memanfaatkan kekuatan lawan untuk mencelakai musuh. Seagal, si Nico, adalah polisi jujur di Chicago yang semula adalah agen CIA di Vietnam. Saat menyelidiki kasus narkoba penjahat Salvador, Nico mengendus praktek curang yang masih terkait dengan musuhnya di Vietnam dulu.

9. Best of the Best (1989)Setelah sukses Karate Kid, Amerika mencari lagi bela diri Timur mana yang bisa diekspos, diambil jadi seolah milik mereka dengan para bule jadi jago karate, taekwondo, atau kung fu mengalahkan para jago dari negara-negara tempat bela diri itu berasal. Best of the Best salah satunya. Film ini mengambil formula yang dipakai sejak Rocky sukses. Menurut kritikus Roger Ebert menyebut film ini berjenis CLIDIVIC, climb from despair to victory—mendaki dari kekalahan yang nyaris bikin putus asa eh tiba-tiba jadi pemenang. Di sini jagoannya Eric Roberts yang membawa tim Amerika jadi “terbaik di antara yang terbaik” lawan Korea. Ya eyalah, ini kan film Amerika!

8. American Ninja (1985)Apa? Ada ninja bule? Dasar Amerika. Ninja yang aslinya dari Jepang diadopsi seolah kepunyaan mereka. Di tangan Hollywood, ninja Amerika seolah koboi berpistol. Orang Jepang cuma jadi pecundang. Michael Dudikoff jadi tentara Amerika di Filipina yang harus berhadapan dengan penjual senjata dan menyelamatkan putri atasannya. Entah bagaimana sang penjual senjata punya pasukan ninja tangguh. Dudikoff kemudian juga jadi ninja yang lebih tangguh lagi. Kalau kata orang Sunda sih, “aya-aya wae.”

7. Commando (1985)Commando adalah panggung bagi Arnold Schwarzenegger seorang. Di film ini ia jadi bekas kolonel yang memilih menyepi demi hidup tenang bareng putrinya (tebak siapa pemeran anaknya? Ya, Alyssa Milano). Tapi tentu, hidupnya tak tenang. Sang putri tercinta diculik. Sang kolonel kemudian harus angkat senjata lagi. Di sini, Arnie menggunakan semua senjata canggih masa itu seperti Battle Rifle, 357 Magnum Auto, Remington H 70, serta M 16. Dengan gagah perkasa laksana Hercules sambil menenteng senjata berat, Arnie mengobrak-abrik sarang musuh sendirian. Terus terang, hingga kini poster Arnie yang kekar pakai rompi militer sambil mengenggam granat masih terlekat di ingatan.

6. Bloodsport (1988)Saya ingat waktu nonton film ini di TV dulu. Rasanya seru betul. Tendangan lurus Jean Claude Van Damme di klimaks film sungguh menggetarkan. Pertarungan terakhir di film itu pantas masuk salah satu duel terdahsyat dalam sejarah film. Bahkan, seorang kawan berkelakar Van Damme belajar silat Merpati Putih. Musuhnya, Chong Li (Bolo Yeung) dengan gayanya menaikkan dadanya masih saya ingat. Atau omongannya, “You are next!” dan “"You break my record. Now I break you!! Like I break your friend!" atau lagi teriakkan penonton menyerukan namanya, “Chong Li! Chong Li!” Meski film ini melanggengkan jalan Van Damme jadi bintang laga Hollywood, buat saya Bolo Yeung yang mencuri perhatian.

5. Missing in Action (1984)Chuck Norris melakukan apa yang dilakukan Sylvester Stallone lewat Rambo II setahun kemudian—membebaskan tawanan perang di belantara Vietnam dan akhirnya memenangkan perang itu buat Amerika. Film ini sepertinya jadi penebusan rasa kalah khas Hollywood. Meski kenyataannya Amerika takluk di Vietnam, di bioskop mereka menang. Norris yang di tahun 1970-an jadi jago bela diri lawan Bruce Lee di Way of the Dragon, pada tahun 1980-an malah lebh dikenal sebagai bintang laga dengan janggut dan rambut pirangnya.

4. Predator (1987)Mungkin tak ada lagi lawan di dunia berwujud manusia yang bisa mengalahkan Arnold Schwarzenegger. Setelah jadi sang pembasmi (Terminator) dan komando (Commando) lawan yang pantas baginya tinggal makhluk buas dari planet asing. Arnie dan pasukannya masuk ke dalam hutan belantara dan satu per satu pasukannya tewas jadi korban sang pemangsa. Tapi makhluk planet asing tetap tak bisa mengalahkan Arnie. Ia memang pantas dinobatkan sebagai Mr.Universe--tuan jagad raya.

3. Lethal Weapon (1987)Mel Gibson kurang waras. Itu kita sudah tahu menyusul kasus pemukulan pada mantan kekasihnya dan rekaman segala caci makinya yang menghiasi berita gosip dari Hollywood. Tapi, ketakwarasan Gibson di film dimulai di Lethal Weapon. Ia jadi polisi yang aksi nekadnya banyak membahayakan orang. Di film ini, Gibson disandingkan dengan Danny Glover, penyayang keluarga yang tak beruntung jadi mitranya. Film arahan Richard Donner ini kemudian jadi film klasik untuk sub-genre buddy cop.

2. Die Hard (1988)Sebelum Die Hard, Bruce Willis adalah bintang serial televisi Moonlighting. Saat break syuting, Willis mencoba peruntungan main film ini. Tak tahunya filmnya meledak. Setelah film ini, Willis jadi bintang laga tangguh. Padahal, bila menilik film yang ini, yang membuatnya seru justru karena Willis—sebagai John McClane polisi New York yang ingin berbaikan dengan sang istri tapi terjebak dalam aksi teroris di gedung pencakar langit—tampil sebagai manusia biasa. Ia tak berbadan super kekar, bisa takut, bahkan beraksi tanpa sepatu.

1. First Blood (Rambo, 1982)Sylvester Stallone melahirkan dua karakter film paling dikenang sepanjang masa. Yang satu Rocky Balboa sang petinju, satunya lagi John Rambo. Film Rambo kedua, ketiga, dan keempat lebih mementingkan unsur Amerikanisasi di mana ia berperang ke negeri orang melawan penjahat dan menunjukkan pada dunia kedigdayaan Amerika. Di film pertama, yang judul aslinya First Blood, John Rambo justru berperang di kampung sendiri. Rambo jadi veteran perang Vietnam yang kikuk menghadapi kampung sendiri. Trauma perang dan sambutan buruk orang sekampung memaksanya memindahkan perang Vietnam ke belantara hutan Amerika. Meniliknya tidak semata film aksi, First Blood adalah film bagaimana veteran perang dipaksa beradaptasi dengan alam damai. Trauma psikologis perang meninggalkan jejak dahsyat pada diri John Rambo. Sayang memang, film-film Rambo berikutnya malah jadi propaganda Hollywood.

(ade/ade)

{JaThumbnail off}

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    15 %
    Tetap menjadi motivator
    254 respon
  2.  
    25 %
    Berhenti menjadi artis
    411 respon
  3.  
    49 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    808 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    179 respon

Total Respon: 1.652
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft