Thu, 17 May 2012 03:21:31 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Lovely Man, Buka Jilbab dan Ayah Waria (Kenapa Filmnya Tak Kontroversial?)

Kenapa sebuah film yang menunjukan adegan buka jilbab dan sosok banci bisa diputar dengan aman tanpa protes dan kontroversi?


Lovely Man, Buka Jilbab dan Ayah Waria (© Kenapa Filmnya Tak Kontroversial?)

TANPA bermaksud spoiler, adegan menggetarkan di Lovely Man buat saya adalah saat Cahaya (Raihaanun) membuka jilbab.

Masuk ke toilet lalu memandang cermin melihat wajahnya sendiri, Cahaya tertegun. Hanya ada satu cara agar ayahnya, Syaiful (Donny Damara) yang tak pernah dijumpainya setelah belasan tahun dan telah menjadi banci di Jakarta bernama Ipuy, merasa nyaman. Ia harus membuka jilbab.

Bagi saya, inilah statement penting filmnya. Secara simbolis, jika mengartikan setiap gambar di film adalah representasi dan sebuah pernyataan, adegan buka jilbab itu bisa dipermasalahkan dengan panjang.

Jilbab, kita tahu, tak sekadar gaya busana. Namun juga sebuah wujud kepatuhan pada perintah agama. Setiap perempuan Muslim sebetulnya diperintah menutupi aurat tubuhnya. Jilbab merupakan wujud dari perintah itu. Memang tak semua wanita Muslim patuh pada perintah agama soal itu. Tapi, ketika sudah mematuhinya lantas melepasnya, hal tersebut kerap dianggap mempermainkan perintah Tuhan.

Tapi, entah bagaimana, adegan buka jilbab itu terasa tepat. Kita seolah dibuat mafhum ya memang Cahaya harus membuka jilbabnya agar ia bisa lebih cair mengobrol dengan ayahnya yang ketika ditemuinya juga tak berwujud ayah kebanyakan, tapi seorang banci Taman Lawang, bergincu, pakai wig, mini dress merah, dan sepatu hak tinggi.

Syahdan, kita lantas melihat hubungan ayah dan anak yang tak lagi terasa ganjil. Sedikit demi sedikit Ipuy dan Cahaya bisa berinteraksi, saling mengobrol. Ya, mungkin hanya dengan cara membuka jilbab segalanya mencair.

Premis Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja (penulis dan sutradara) mencoba menghadirkan ironi: bagaimana bila sosok ayah yang tak pernah dijumpai berwujud seorang waria? Apa yang akan terjadi di antara ayah dan anak ini. Sebuah penolakan? Atau, pada akhirnya, penerimaan?

Kita juga lantas tahu Cahaya tak sekadar datang mencari ayahnya untuk sekadar bertemu. Ia juga tengah “lari” dari persoalannya yang pelik. Gadis berjilbab lulusan pesantren itu hamil di luar nikah. Bertemu sang ayah mungkin bisa menjadi pelipur lara baginya atau seperti dikatakannya, memberinya alasan untuk melanjutkan kehamilannya (atau tidak).

Wow, sampai sini saja kita sudah bertemu banyak hal yang bisa mengundang kontroversi: gadis berjilbab hamil di luar nikah; ia buka jilbab untuk mencairkan hubungannya dengan sang ayah yang ternyata berwujud banci.

Sampai di sini saya bertanya-tanya, kenapa film ini tak mendatangkan kontroversi? Kenapa film ini tak digugat oleh kelompok radikal sebagaimana diskusi buku Irshad Manji atau konser Lady Gaga misalnya? Kenapa bisa sampai terjadi tebang pilih?

Jawaban dari serentetan pertanyaan itu menunjukkan seperti apa Indonesia hari ini.

***

Seperti yang mungkin Anda tahu, Lovely Man pertama dirilis di Q Film Festival awal Oktober tahun lalu. Kala itu, festival film ini diprotes oleh sekelompok Muslim radikal karena dianggap mewartakan nilai-nilai LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Q Film Festival dicap sebagai festival yang khusus memutar film-film kaum LGBT. Massa FPI berdemo di lokasi pemutaran film, minta festival film itu dibubarkan.

Di saat bersamaan, Lovely Man mendapat puja-puji karena kejujurannya mengangkat hubungan anak dan bapaknya yang seorang waria. Media dan kritikus film yang sudah menonton film ini mengatakan inilah salah satu film Indonesia terbaik tahun kemarin. Untuk sesuatu yang jarang dilakukan, sosok waria ditampilkan dengan jujur sekaligus getir, bukan sebagai pemancing tawa atau bahan olok-olok seperti bertebaran di acara TV maupun film lain.

Logikanya, jika festivalnya diprotes, sepatutnya film yang diputar dari festival itu juga kena protes serupa. Nyatanya tidak. Lovely Man lulus sensor dan bisa tayang di bioskop dengan nyaman.

Lovely Man bisa lulus sensor sebetulnya sebuah keajaiban. Kita tahu, lembaga sensor kita begitu gemuk. Anggota lengkapnya puluhan orang, terdiri dari unsur keamanan (polisi) hingga keagamaan (MUI dan lembaga agama resmi lainnya). Menarik kenapa tak ada keberatan dari unsur keamanan (yang biasanya mengutamakan sebuah produk film tak mengundang ketakstabilan di masyarakat) dan keagamaan (yang punya tujuan sebuah film tak sepatutnya melanggar norma/aturan agama) atas Lovely Man.

Saya bertanya-tanya: Apa dua unsur di lembaga sensor itu (keamanan dan keagamaan) sudah memiliki kedewasaan untuk membiarkan film ini lulus sensor, atau seperti kerap terjadi, they simply did not watch the movie—mereka nggak nonton filmnya?

Kemungkinan kedua rasanya lebih masuk akal. Tapi, setelah lolos sensor biasanya juga ada sensor dari masyarakat yang usil seperti sudah terjadi pada banyak film, mulai dari Buruan Cium Gue hingga 2012 . Kenapa kali ini tak terjadi?

Pertanyaan lebih menarik untuk sebelumnya dijawab adalah kenapa sebuah film Lovely Man bisa lahir, diskusi buku Irshad Manji bisa digelar, atau konser Lady Gaga bisa digagas di negeri ini; tapi di saat bersamaan kenapa ada semacam pembiaran (bahkan seperti didukung otoritas negara) atas aksi sekelompok orang untuk bergerak di luar koridor hukum (aksi non-parlementer) protes dengan cara kekerasan dengan dasar agama?

Sejak Orde Baru runtuh 1998, Indonesia menuju transisinya ke negara demokratis. Sayangnya, sudah 14 tahun berlalu masa transisi itu tak kunjung usai. Di masa transisi, kita melihat beberapa prasyarat negeri demokratis muncul. Kebebasan berbicara, menyatakan pendapatnya dijamin. Negara demokratis juga kerap terbuka pada budaya dari luar, tidak menutup diri. Dengan dasar ini hal-hal yang tak terbayangkan terjadi di masa Orde Baru bisa muncul di masa kini.

Tapi, di saat bersamaan, di masa transisi, negara belumlah kuat. Pada akhirnya negara mengakomodasi segala kepentingan atas nama demokrasi, termasuk pada kepentingan-kepentingan yang tidak demokratis.

Bahkan, jika menyetujui analisis Ariel Heryanto, prefesor di Australian National University, di kolomnya yang dimuat Tempo (edisi 20 Mei 2012) “Mengapa Baru Sekarang?” pangkal soalnya bukan semata negara yang belum kuat di masa transisi ini. Melainkan, bertemunya dua kekuatan besar non-agama. Kelompok pertama, kata Heryanto, adalah sejumlah politikus warisan Orde Baru yang berjaya pasca-Orde Baru telah membajak simbol-simbol radikalisme agama Islam, walau mereka bukan pejuang misi agama. Mereka kuat secara ekonomi-politik, tapi miskin secara legitimasi. Bagi golongan ini agama menjadi cara mudah menggalang dukungan publik.

Kelompok kedua adala sejumlah organisasi preman yang dulu dibina dan sekaligus diperalat Orde Baru sebagai tukang pukul di jalur swasta. Mengutip Ryter dan Wilson, Heryanto menulis, mereka beruntung menemukan pengayom politik baru di kalangan pejabat tinggi negara pasca-Orde Baru yang menggunakan simbol keislaman sebagai senjata baru untuk sepak terjang mereka.

Perlu diingat, bukan berati tak ada yang tulus beriman kuat dan meyakini perjuangan politik agama di ranah publik, entah dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Kelompok ini sudah ada sejak dulu. Tapi, tak pernah berjaya sebelumnya. Secara tak sengaja, kata Heryanto, bertemunya dua kekuatan di atas memberi angin segar pada kelompok ini. Aksi-aksi protes mereka cenderung direstui negara yang melakukan pembiaran.

Lantas, balik ke pertanyaan awal, kenapa Lovely Man tak mendatangkan kontroversi? Saya rasa sih jawabannya sederhana: mereka lagi nggak ngeh saja.

Lovely Man diuntungkan karena ia sebuah film kecil. Film ini tak berpromosi gegap gempita, diputar di sedikit bioskop, dan Teddy tidaklah sebesar Garin Nugroho yang filmnya yang belum edar, Soegija sudah mendapat black campaign (Ada yang dapat pesan Blackberry Messanger untuk tak menonton Soegija? Abaikan saja.).

Yes, they simply didn’t notice. Jangan terlalu percaya kita sudah jadi negara demokratis....

(ade/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apakah Camelia Malik dan Harry Capri Pantas Bercerai?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    56 %
    Ya
    10.920 respon
  2.  
    44 %
    Tidak
    8.756 respon

Total Respon: 20.081
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...

Berita Selebriti

lanjut...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft