Mon, 16 Sep 2013 20:10:45 GMT | By Editor Abdul Rahman, tabloidbintang.com

Habib Munzir, Pendakwah yang Tak Kenal Lelah dan Rasa Sakit

"Habib nggak kenal lelah untuk berdakwah. Meskipun diundang kemana-mana, selagi bisa pasti dikerjakannya."


Habib Munzir, Pendakwah yang Tak Kenal Lelah dan Rasa Sakit

HABIB Munzir Al-Musawa menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada hari Minggu (15/9) kemarin dalam usia 40 tahun.

Pimpinan sekaligus penggagas Majelis Rasulullah tersebut lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada 23 Februari 1973 silam.

Saat kembali dari Hadramaut, Yaman ke Indonesia pada tahun 1998, putra keempat dari lima bersaudara pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa memulai karier dakwahnya secara personal dari hati ke hati. Pintu ke pintu didatanginya demi mengajak orang-orang ke jalan Ilahi.

Sebelum dikenal seperti sekarang, pengalaman hidupnya sempat menemui jalan berliku saat meretas jalan dakwah sekitar 15 tahun silam. Dari ajakan dakwah yang dilakukannya, sejumlah penolakan, cacian serta cibiran sempat diterimanya.

"Awal pulang belajar dari Hadramaut tahun 1998, beliau berdakwah dari rumah ke rumah, orang ke orang. Habib ini orangnya ramah, baik sama siapa aja, disakitin orang dia nggak balik nyakitin," kata Habib Nazir, sepupu sekaligus murid almarhum, kepada Bintang Online, Senin (16/9) malam.

Berkat semangat dan kerja kerasnya, akhirnya mampu meyakinkan masyarakat bahwa ia memang serius dijalan dakwah. Maka dirintislah sebuah lembaga yang kemudian diberi nama Majelis Rasulullah

Sesuai namanya, Habib Munzir ingin lembaga tersebut mencerminkan perilaku, semangat dan akhlak Rasulullah.

"Habib sendiri yang mau (membuat lembaga Majelis Rasulullah). Dia mau menirukan akhlak Rasulullah lewat majelis ini. Apa yang Rasulullah kerjakan, contohkan, harus jadi petunjuk dan contoh," tuturnya.

Sosok Habib Munzir, di mata Habib Nadir, termasuk sosok ceria yang selalu menaruh hormat pada guru-gurunya. Sebaliknya, guru-gurunya pun menganggap Habib Munzir sebagai murid terbaik.

"Orangnya ceria. Sangat disayang sama gurunya, apa yang diperintah gurunya pasti dilakukan," katanya.

Dalam berdakwah, Habib Munzir tak pernah mengenal lelah. Bahkan saat dilanda sakit serius sekalipun. "Dia nggak kenal lelah untuk berdakwah. Meskipun diundang kemana-mana, selagi bisa pasti dikerjakannya."

Ia pun bercerita betapa gigihnya sosok almarhum. Saat itu ribuan jamaah sedang mendengarkan ceramahnya dalam suatu kesempatan. Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Akan tetapi sang Habib tak mau dipayungi, ia ingin sama rata-sama rasa dengan jamaahnya duduk di bawah bersama jamaah yang lain.

"Pernah beliau ngisi ceramah pas hujan. Beliau mau hujan-hujanan sama jamaah, nggak mau dipayungin. Malah beliau duduk di bawah. Bapak bisa tanyain sama jamaah langsung (soal cerita ini)," tuturnya

Sekalipun sudah sakit parah di kamar tidur, saking semangatnya berdakwah, Habib Munzir tetap memilih datang untuk mengisi sejumlah acara ceramah.

"Kalau dia masih sanggup dia tetap berangkat dari tidurnya. Tempat tidurnya dibawa ke masjid Al-Munawar," tandas Habib Nadir.

Kita kehilangan pendakwah yang tulus seperti Habib Munzir. Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya. Amin.

(man/ade)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    15 %
    Tetap menjadi motivator
    254 respon
  2.  
    25 %
    Berhenti menjadi artis
    411 respon
  3.  
    49 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    814 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    179 respon

Total Respon: 1.658
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft