Sat, 11 Feb 2012 14:24:51 GMT | By Editor Indra Kurniawan, tabloidbintang.com

Mongol, Pernah Hidup Lontang-Lantung dan Tidur di Emperan Toko

Comic (sebutan untuk pelaku stand-up) baru pun terus bermunculan. Di antara beberapa comic, nama Mongol berhasil membetot perhatian.


Mongol, Pernah Hidup Lontang-Lantung dan Tidur di Emperan Toko

STAND-up comedy atau melawak dengan gaya monolog kembali bangkit. Di Indonesia, komunitas stand-up sudah muncul sejak tahun 1993. Saat itu dibawa Ramon Papana, ayah angkat almarhum Ade Namnung. Tercatat beberapa komedian pernah memiliki acara stand-up di layar kaca. Di antaranya almarhum Taufik Savalas dan Iwel Wel.

Namun, di tengah perjalanan, stand-up tenggelam. Barulah pada pertengahan tahun lalu mulai menggeliat kembali. Terlebih setelah Metro TV dan Kompas TV memiliki acara stand-up sendiri.

Tak dinyana, comic (sebutan untuk pelaku stand-up) baru pun terus bermunculan. Di antara beberapa comic, nama Mongol berhasil membetot perhatian.

Banyak orang tertawa ngakak saat dia melawak seputar dirinya maupun realitas sosial di masyarakat. Ditambah mimik wajahnya yang memang bikin orang tertawa. Kasarnya, enggak usah melucu saja, dia sudah lucu. Materi lawakannya tidak jauh-jauh seputar kaum homoseksual yang disebutnya dengan istilah KW. Saat memulai debut sebagai seorang comic pun dia mengangkat soal kebangkitan kaum KW.

“Dulu, kan istilahnya maho. Tapi buat saya kata maho agak rasis. Apalagi kata homo. Itu sebabnya saya pakai kata KW. Terdengar lebih ringan. Misalnya, barang itu kan ada yang asli, ada yang KW juga. Begitu juga dengan laki-laki, ada yang orisinil, ada yang sedikit di bawah juga alias KW,” terang Mongol ditemui di Pasar Festival Kuningan, Jakarta belum lama ini.

Tampil dengan dandanan seperti salesman, Mongol kemudian bercerita tentang awal mulanya ia menjadi comic. Tak sengaja, pertengahan Juli tahun lalu, dia dijebak seorang temannya untuk tampil melucu di Comedy Café di Kemang, Jakarta.

“Awalnya enggak ada niat jadi comic karena memang bukan pelawak. Demi Tuhan saya saja enggak tahu apa artinya stand-up comedy. Benar-benar buta deh. Nah, suatu hari saya menemani seorang teman ke ulang tahun temannya di Comedy Café. Ternyata di sana kebetulan ada komunitas stand-up comedy sedang open mic. Terus teman saya ngerjain saya. Dia tulis nama saya di secarik kertas kecil dan dikasih ke MC. Ya sudah kejadianlah. Saya diminta tampil ke depan,” cerita Mongol.

Bingung, karena enggak tahu apa yang mesti dilakukan di depan. Ditambah lagi, dia enggak punya pengalaman melucu. “Yang penting pesan orang-orang di sana bikin orang ketawa saja. Ya akhirnya saya melucu soal kebangkitan kaum KW itu,” sebutnya.

Tak disangka, materi lawakan seputar KW membawa Mongol tampil dalam acara stand-up comedy di Metro TV.

“Mendadak saya ditelepon Metro TV. Jujur, pertama syuting, saya gugup tingkat dunia. Biasanya syuting kawinan cuma pakai handycam. Nah ini syuting pakai empat kamera gede-gede. Saking gugupnya saya sampai teriak kayak orang norak: Woy, orang Manado, kita orang ada di TV,” cerita Mongol seru.

Masih Naik Bus dan Ojek

Tak hanya itu, dia juga merasa gugup karena harus berdampingan dengan orang-orang yang dinilainya telah punya nama besar, seperti Iwel Wel, Steny Agustaf, Soleh Solihun, dan Miund.

“Bukan minder lagi tapi saya nyempil sendirian di pojokan. Bingung mau ngobrol apa dengan mereka. Apalagi penontonnya banyak banget,” kata Mongol menganggap hal itu sebagai pengalaman hidup.

Tayang pertama, nama Mongol langsung booming. Imbasnya, pengikut Mongol di Twitter mulai bertambah banyak. Dari yang tadinya cuma 74 orang, dalam sepuluh menit saat itu menjadi 3.000 orang (sekarang follower Mongol 26 ribu orang).

Kerap tampil di Metro TV membawa berkah tersendiri buat Mongol. Selain popularitas, tawaran manggung ke berbagai acara hingga keluar kota juga terus menghampiri. Bahkan dia disebut-sebut sebagai salah satu comic termahal dan terlaku saat ini. Bayangkan saja, dalam seminggu, dia bisa tampil 7-10 kali, dengan durasi antara 8-15 menit. Honor sekali tampil saja bisa mencapai 8 juta rupiah.

“Kalau ada tawaran di tempat lain dengan waktu yang berbeda, kenapa enggak? Materi lawakannya juga bisa beda-beda. Makanya, dalam sehari kalau di Jakarta, saya bisa tampil 2-3 kali,” beri tahu laki-laki berkacamata ini sembari menambahkan jadwalnya sampai Februari 2012 sudah padat.

Yang bikin kami angkat topi, walaupun kantong semakin tebal, namun hidup Mongol masih tetap sederhana. Ke mana-mana dia masih naik turun bus. Motor saja tidak punya. Mobil, apalagi.

“Sekalipun sudah syuting di mana-mana, saya masih naik busway dan naik ojek. Enggak malu kok. Saya enggak mau seperti orang Manado pada umumnya. Mending uangnya saya tabung,” aku Mongol.

“Lagi pula masih ada yang enggak percaya juga saya sekarang artis, hahaha. Katanya, masa sih muka kayak begini bisa jadi artis?” seloroh Mongol sambil tertawa lebar. Disebut artis, kata Mongol, ada enak dan tidak enaknya. Enaknya, dikenal banyak orang. Mengurus apa saja dipermudah.

Tidak enaknya, ruang gerak semakin sempit. Ke mana pun dan di mana pun ada saja yang minta foto bareng atau sekadar tanda tangan. “Ya itu sudah risiko. Cuma kadang saya pengin menikmati jalan tanpa diganggu. Misalnya, pas makan di restoran, jangan minta foto dulu. Agak terganggu. Biarkan saya selesaikan makan dulu, barulah setelah itu minta foto,” Mongol berpesan.

Diakui Mongol, dirinya tidak pernah kehabisan materi lawakan. “Nongkrong begini saja bisa jadi materi. Intinya, seorang comic harus jeli dengan lingkungan sekitar. Materi paling gampang adalah melecehkan diri sendiri yang membuat orang lain tertawa. Kalau saya melecehkan orang lain bisa kena pasal pidana nanti,” ungkap Mongol.

Keluar Masuk Rutan Cipinang

Terlahir dengan nama Rony Imannuel, Mongol berasal dari keluarga sederhana di Manado. Nama Mongol didapat karena wajahnya yang mirip orang-orang Mongolia. “Dari kecil saya sudah dipanggil Mongol,” akunya. Tahun 1997, dengan modal nekat, ia merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan sekolah pendeta, dengan dibiayai sponsor.

“Saya hanya bawa uang logam 100 rupiah. Sampai Jakarta saya sudah senang banget mau disekolahkan jadi pendeta. Eh ternyata sponsornya kabur. Akhirnya saya batal sekolah,” Mongol kesal.

Kasihan, karena tanpa uang hidup Mongol luntang-lantung.

“Pertama kali saya tidur di emperan toko di Sarinah. Tapi saya tetap percaya Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya,” tandasnya.

Untuk bertahan hidup, Mongol bekerja apa saja. Asal halal.

“Saya pernah kerja di restoran Padang, bantu tukang pecel lele, dan sebuah perusahaan swasta. Dari situlah saya bisa makan,” kenang Mongol.

Pelan-pelan hidup Mongol mulai membaik. “Saya akhirnya kos. Kadang telat bayar kos. Untungnya ditolerir,” Mongol merasa bersyukur.

“Bila ada uang sisa, saya pakai buat kursus bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan kursus pajak. Pokoknya yang bermanfaatlah,” tambahnya.

Keluar dari sebuah perusahaan swasta, Mongol gabung ke sebuah manajemen artis dan menangani Dirly Idol selama 4 tahun 8 bulan. Di mana ada Dirly, di situ ada Mongol.

Pengalaman di manajemen artis dijadikan bekal buat pria kelahiran Manado, 27 September 1978 ini untuk membentuk manajemen sendiri bersama temannya. Mongol sempat menjadi pelayan Tuhan dengan memberi siraman rohani kepada para narapidana di Rutan kelas 1 Cipinang.

“Sebutannya bukan Pendeta. Lebih cocok disebut pemerhati kerohanian,” aku Mongol yang sebelum bertobat pernah mengikuti sekte sesat di Manado.

(ind/gur)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Siapa selebriti yang cantik dalam berhijab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    12 %
    Marshanda
    807 respon
  2.  
    2 %
    Eddies Adelia
    146 respon
  3.  
    12 %
    Lyra Virna
    800 respon
  4.  
    41 %
    Dewi Sandra
    2.749 respon
  5.  
    9 %
    Rizty Tagor
    570 respon
  6.  
    11 %
    Oki Setiana
    707 respon
  7.  
    13 %
    Nuri Maulida
    846 respon

Total Respon: 6.625
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft