Wed, 02 Nov 2011 23:22:05 GMT | By Editor Wayan Diananto, tabloidbintang.com

RAISA, Merekam 9 Lagu Dalam 7 Hari

Selama ini, Raisa berusaha menyanyi dengan baik. Tidak macam-macam. Memikirkan sensasi agar dikenal publik pun tidak. Yang penting, menyanyi sesuai karakter dan sesekali menciptakan satu atau dua lagu. Sesederhana itu. Raisa kemudian merunut kembali, musabab mengapa ia bisa bergabung dengan komunitas musik.


RAISA, Merekam 9 Lagu Dalam 7 Hari

PADA pertengahan 2009, Raisa Andriana (21) dan gitaris RAN, Asta Andoko duduk-duduk di restoran burger, di sebuah mal. Dalam suasana santai, mood Raisa seketika menjadi serius ketika Asta bertanya, “Kamu sebenarnya mau bagaimana? Jadi penyanyi solo atau jadi solois yang punya album?”

Pertanyaan yang makin dipikirkan, terasa makin mengganggu. Selama ini, Raisa berusaha menyanyi dengan baik. Tidak macam-macam. Memikirkan sensasi agar dikenal publik pun tidak. Yang penting, menyanyi sesuai karakter dan sesekali menciptakan satu atau dua lagu. Sesederhana itu. Raisa kemudian merunut kembali, musabab mengapa ia bisa bergabung dengan komunitas musik.

Muncul di YouTube

Pertemuannya dengan Asta, pertama kali terjadi tahun 2006, jauh sebelum trio Rayi Asta Nino merilis album, RAN For Your Life. Dulu, RAN punya drummer.

“Si drummer itu kakaknya sahabat saya. Dia menawari saya manggung bersama RAN,” kenang Raisa saat mengobrol dengan Bintang, di kantor Universal Music Indonesia, Rabu (19/10).

Perkenalan itu berbuah pengalaman tidak terduga. Raisa sering diajak manggung di kafe. Nada-nada yang mengalir dari mulutnya menemani para pengunjung bersantap malam. Pengunjung sering berujar, “Saya kenal lagu-lagu yang dibawakan cewek ini tapi saya enggak kenal siapa cewek ini.”

Perlahan Raisa menyadari, jalan yang harus dipilih. Sekadar menghibur, atau menempatkan bakatnya dibalik corong pengeras studio rekaman. Asta sebenarnya sudah menyediakan jawaban untuk kegelisahan Raisa. Di rumah Asta ada studio rekaman. Mengapa tidak memanfaatkan studio ini untuk merintis karier profesional. Toh, perusahaan rekaman bukan satu-satunya pihak yang bisa mengantar pendatang baru ke puncak popularitas.

“Sebelum bertemu Universal, saya merilis singel ‘Serba Salah’ secara independen. Ketika itu, banyak music director radio mulai bertanya, Raisa yang menyanyi ‘Serba Salah’ itu yang mana ya?” Raisa menukas. Modal menjadi kendala utama Raisa saat itu.

Tapi, cewek kelahiran 6 Juni 1990 ini bukan tipe gampang menyerah. Kalau tidak ada jutaan rupiah untuk membuat klip mentereng, masih ada medium lain yang membuat orang menoleh. “Serba Salah” dimainkan Raisa secara akustik, lalu dipajang di situs YouTube. Video ini ditonton lebih dari 272 ribu kali. “Ulah” Raisa itu lantas muncul di front page Yahoo! Indonesia 26 November 2010.

Di situs itu, feature Raisa mengusik rasa ingin tahu 958 ribu orang. “Sampai sekarang, saya heran orang-orang yang tidak saya kenal sering mengirim komentar positif. Mereka tulus. Merasa dekat dengan saya ketika mendengar lagu saya. Merasa tersentuh ketika ‘Serba Salah’ sesuai pengalaman hidup mereka. Itu luar biasa,” ungkap penyuka Whitney Houston dan Mariah Carey.

Akun Twitter @Raisa6690, Raisa sendiri yang mengurus. Apa pun komentar orang soal lagu di Twitter selalu dibalas langsung. Raisa tidak terbiasa cuek, membiarkan apresiasi orang lain menguap begitu saja. Barangkali komentar fans terdengar klise, “Saya suka lagu ‘Serba Salah’. Keren banget.” Raisa tetap terharu dengan pendapat orang yang tidak dikenalnya.

Raisa tahu rasanya dicuekin. Ia teringat ketika pertama kali mengirim demo ke beberapa perusahaan rekaman. Tidak ada respons. “Saya pikir, beberapa bulan setelah mengirim demo, saya akan diundang masuk ke studio rekaman,” imbuhnya lalu tertawa.

Keranjingan Mencipta Lagu

Di album perdana, Raisa mencipta lagu bersama Asta Andoko, Ramadhan Handyanto, Adrianto Ario Seto, Mohammed Kamga, dan Adryanto Pranoto. Sejak itu, Raisa keranjingan menciptakan lagu. “Tiba-tiba ingin bersenandung, lalu saya merekamnya di ponsel. Biasanya, sekelebat nada itu menjadi bagian refrein. Lagu ‘Could It Be’ misalnya, selesai tercipta hanya dalam 15 menit,” beri tahu Raisa.

Pengagum Bryan McKnight memberi resep. Kalau mencipta lagu, jangan berpikir bagaimana reaksi orang lain ketika mendengar. Jangan mengupayakan ini menjadi lagu komersial, jadi hit. Terlalu banyak pertimbangan membuat Anda kebanyakan berpikir. Akhirnya memperlama proses kreatif. Dari sembilan lagu yang disajikan di album pertamanya, Raisa terlibat di tujuh lagu.

Rekaman demo lagu di studio, di rumah Asta. Sementara rekaman materi album dieksekusi di studio Brother Land, Jakarta. “Rekamannya hanya tujuh hari. Sehari bisa tuntas dua lagu. ‘Apalah Arti Menunggu’ misalnya, saya rekam di hari yang sama setelah take vokal lagu ‘Melangkah’,” cetus Raisa yang kini dinobatkan sebagai duta AMD Rising Star.

Sejak melahirkan album self title, frekuensi show Raisa amat padat. “Sebulan hanya libur dua kali. Saya mengambil kuliah, dan itu tidak bisa diganggu gugat. Karenanya, segala bentuk show selalu dijadwalkan setelah kuliah atau pagi ketika saya kuliah siang,” pungkasnya. Ke depan, Raisa bercita-cita ingin merilis album berbahasa Inggris.

(wyn/gur)

0Komentar

Iklan

poling hiburan

Apa solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan hidup Marshanda?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Lihat Hasil

  1.  
    15 %
    Tetap menjadi motivator
    273 respon
  2.  
    25 %
    Berhenti menjadi artis
    440 respon
  3.  
    49 %
    Berobat ke Rumah Sakit
    885 respon
  4.  
    11 %
    Pindah ke luar negeri
    193 respon

Total Respon: 1.791
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video hiburan

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft